R80 Mulai Mengudara 2018

- Editor

Kamis, 11 September 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesawat turboprop R80 buatan Indonesia yang dirancang PT Regio Aviasi Industri direncanakan akan mulai terbang pertama kali pada 2018. Untuk pengembangan pesawat terbang tersebut, perusahaan yang digagas mantan presiden BJ Habibie itu mengajak Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk bekerja sama.

”Menurut rencana, pada 2018 kami akan first flight (penerbangan perdana) dan setahun kemudian akan dapat sertifikasi kelaikan udara lalu mulai bisa dikirimkan (delivered),” kata Habibie yang juga Komisaris Utama PT Regio Aviasi Industri (RAI), di Gedung Pakuan, Bandung, Jawa Barat, Rabu (10/9).

Hal itu diungkapkan Habibie setelah bertemu Gubernur Jabar Ahmad Heryawan terkait proses produksi pesawat itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Habibie menegaskan, pesawat berkapasitas maksimal 90 orang itu akan diproduksi di pabrik PT Dirgantara Indonesia di Bandung. Rencana produksi pesawat itu sejalan dengan rencana Pemprov Jabar yang menargetkan pengoperasian bandara baru di Kertajati, Majalengka, pada 2017.

1396422339815422951”Jadi, penerbangan pertama akan dilakukan dari Majalengka,” kata Habibie yang merancang pesawat itu.

Ilham Akbar Habibie, Komisaris PT RAI, menjelaskan, teknologi R80 adalah pengembangan dari pesawat CN250 yang produksinya dipaksa berhenti oleh Dana Moneter Internasional (IMF) pada 1998 silam.

”R80 sering dibandingkan dengan CN250, tetapi teknologinya akan berbeda. Misalnya komponen kokpit dan sistem pengendalian pesawat terbang yang lebih banyak komponen elektronik,” kata Ilham.

Pesawat dengan kecepatan maksimal 611 kilometer per jam itu disebutkan Ilham diminati oleh tiga maskapai dalam negeri, yaitu Nam Air, Kalstar, dan Trigana Air Service. Ketiga maskapai itu disebutkan Ilham telah memesan total 145 unit pesawat.

Saat ini, lanjut Ilham, PT RAI tengah memasuki fase pengembangan pesawat terbang. Oleh karena itu, pihaknya bekerja sama dengan Pemprov Jabar, pemerintah kabupaten/kota di Jabar, ataupun koperasi untuk menanamkan modal.

”Karena pengerjaan pesawat kami lakukan di Jabar, rencana penerbangan pertama juga di Jabar,” ujar Ilham.

Tawaran saham
Erry Firmansyah, yang juga Komisaris PT RAI, mengatakan, pemesanan saham perusahaan ditawarkan pertama kali kepada Pemprov Jabar. ”Right issue kami fokuskan ke Pemprov Jabar karena lokasi kami di Jabar. Nantinya kami akan tawarkan juga ke beberapa pihak, tetapi tidak lebih dari 50 pihak,” kata Erry.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menyambut baik tawaran tersebut. Soal tawaran saham, pihaknya masih akan mempertimbangkan dulu hal itu.

”Perlu cara agar masyarakat tertarik dengan saham PT RAI. Pemprov Jabar untuk urusan (pembangunan) bandara saja terengah-engah anggarannya. Mudah-mudahan juga ada pengusaha besar yang tertarik,” kata Heryawan. (HEI)

Sumber: Kompas, 11 September 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 91 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru