Home / Artikel / Pukulan Durante bagi Daging Bangkai

Pukulan Durante bagi Daging Bangkai

MENDEKATI Hari Raya (Idul) Fitri 1433H, kebutuhan pangan dipastikan meningkat. Sayang, kondisi ini dikotori ulah sejumlah pedagang yang sengaja menjual makanan kedaluwarsa, bahkan ada yang nekat menjual daging bangkai seperti yang ramai diberitakan belakangan ini.
Ulah curang tersebut mengundang respons para inovator teknologi dengan menciptakan perangkat yang dapat mendeteksi bahan makanan tak layak konsumsi.

Di Indonesia, detektor bangkai bernama Durante telah dirancang Yatri Drastini, peneliti Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Durante merupakan modifikasi malachite green yang berfungsi untuk membedakan daging segar dengan bangkai. Bahan utama pewarna pakaian, antiseptik, dan pembasmi bakteri pada ikan ini dipakai Yatri pada 1997 saat meneliti hemoglobin pada darah sapi, yang dicampur dengan hidrogen peroksida (H2O2).

Durante hanya dapat dipakai untuk mendeteksi daging ayam. Menurut si peneliti, untuk mengetahui kondisi daging ayam hanya perlu dua tetes Durante dan hasilnya dapat diketahui dalam waktu satu menit. Caranya, teteskan cairan itu ke ekstrak darah ayam dari sepotong daging yang dicacah. Jika warnanya hijau tua, dipastikan itu daging bangkai. Namun jika tetap biru atau tak berubah warna, artinya daging segar.

Perubahan warna terjadi karena ayam yang mati sebelum dipotong menyimpan hemoglobin lebih banyak dibanding yang disembelih. Yatri mengklaim ketepatan Durante mencapai 95 persen. Alat ini dipakai Dinas Peternakan Yogyakarta untuk menertibkan penjualan daging ayam bangkai.

Peneliti lain dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH UGM) juga pernah menemukan senyawa reagen yang dapat mendeteksi daging bangkai. Menurut penjelasan staf peneliti bagian Kesmavet FKH UGM, drh Widagdo Sri Nugroho, reagen itu disebut ”durante” yang merupakan hasil pengembangan dari penelitian di Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Veteriner (Kesmavet) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM.

Berkembang

Menurut Widagdo, penelitian tentang reagen penguji daging bangkai sudah dilakukan sejak 1997 dan telah digunakan oleh dinas terkait di Yogyakarta. Formulasi ”durante” sudah mengalami perkembangan sehingga penggunaannya lebih praktis. Hanya perlu waktu satu menit untuk mengetahui apakah daging tersebut daging bangkai atau daging segar. Tingkat akurasinya mencapai 95 persen, bahkan 100 persen jika diaplikasikan dalam pengujian di laboratorium.

Tekniknya cukup mudah, yakni dengan mencacah daging yang akan diuji kemudian dicampur air mineral untuk diambil ekstraknya, kemudian dicampur dengan reagen. Jika warna ekstrak daging berubah biru, maka dipastikan daging segar, tetapi jika berubah hijau tua, itu tandanya daging bangkai.

Ada lagi perangkat teknologi bernama The Noise yang dapat mendeteksi makanan yang mengandung zat pemicu alergi, seperti susu, telur, ikan, kacang, dan lainnya. Alat berbentuk mirip remote control mungil ini diciptakan atas prakarsa perusahaan elektronik Philips. Penggunaannya cukup sederhana, dengan menyelipkan bahan makanan ke dalam alat ini, kemudian mendorong tombol yang ada pada The Noise dan menunggu beberapa detik. Jika, sensor komputer berkedip-kedip merah, itu tandanya bahan makanan tersebut mengandung zat pemicu alergi (elergan).

Sebuah layar kecil di bagian belakang The Noise akan memperlihatkan kandungan alergan apa yang terdapat dalam makanan tersebut. Alat ini berhasil meraih penghargaan iF Concept Award 2011 dari Umea University. Sayang, belum ada kabar kapan alat ini bisa ditemukan di pasaran.

Jurus Lain

Jurus lain yang tak kalah cerdas untuk menyelamatkan konsumen dari jerat makanan tidak sehat adalah dengan mengoperasikan mesin penjual. Pasar modern di sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Taiwan memanfaatkan mesin penjual yang pintar melayani pembeli secara cerdik. Mesin penjual di Taiwan lebih canggih lagi karena dilengkapi teknologi pengenalan wajah sehingga mampu mengenali kebiasaan makan yang tidak sehat.

Di hadapan calon pembeli, mesin penjual berfungsi sebagai ”konsultan gizi” karena bisa memberikan saran terbaik, makanan atau minuman apa yang sebaiknya dikonsumsi berdasarkan penampilan fisik dan usia konsumen. Teknologi ini dirancang oleh Innovative DigiTech-Enabed Applications and Service Institute yang berpusat di Taipei.

”Teknologi pengenalan wajah buatan kami lebih aktif dibandingkan yang dikembangkan di AS dan Jepang, karena membuat mesin memberikan saran berbelanja,” kata Tsai Chi-hung, salah satu ilmuwan yang mengembangkan mesin ini, sebagaimana dilansir AFP.

Uniknya, saran yang diajukan mesin canggih ini pun bisa menggelikan. Misalnya, jika si pembeli tampak berjanggut, mesin akan menawarkannya pisau pencukur janggut.

Atau jika si pembeli kepalanya botak, mesin bisa saja menawarkan obat penumbuh rambut. Jika mesin ini ditaruh di pasar-pasar tradisional Indonesia yang kerap disusupi pedagang curang, boleh jadi akan menyarankan: jangan membeli bangkai dan makanan kedaluwarsa! (24)

Kawe Shamudra, penulis lepas, tinggal di Batang

Sumber: Suara Merdeka, 6 Agustus 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Stroomnet PLN Saingi IndiHome Telkom, Apa Kabar Sinergi BUMN?

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara terbuka menabuh genderang perang terhadap pelaku usaha jaringan internet ...

%d blogger menyukai ini: