Home / Berita / Astronomi / Project Loon: Koreografi Stratosferik Peretas Kebuntuan Telekomunikasi

Project Loon: Koreografi Stratosferik Peretas Kebuntuan Telekomunikasi

Kondisi geografis Indonesia yang beragam dan terdiri atas lautan, daratan dengan deretan pegunungan serta lembah, hamparan padang luas, hutan lebat, dan seterusnya telah menjadi tantangan tersendiri dalam upaya menyediakan akses telekomunikasi secara merata. Bahkan tak jarang, kebuntuan telekomunikasi terjadi menyusul pembangunan infrastruktur yang sulit jika tidak bisa disebutkan mustahil dilakukan.

Padahal akses telekomunikasi tersebut menjadi sangat penting, terutama jika dikaitkan pada konteks peradaban masyarakat informasi yang kini meniscaya. Era yang semakin nyata karena orang-orang di seluruh dunia dengan akses internet saling terhubung dalam jaringan kecerdasan (networked intelligence) dan saling berkolaborasi serta melakukan interaksi dalam konvergensi media untuk berkehidupan.

Pemerintah Indonesia, memendam pula ambisi untuk memeratakan akses telekomunikasi dan secara khusus termasuk pula akses internet di dalamnya ke seluruh wilayah Indonesia. Ambisi menyediakan layanan broadband guna mengakses jaringan internet ke seluruh Indonesia.

Project Loon
Kamis (29/10) WIB atau Rabu (28/10) di Mountain View, San Francisco, Amerika Serikat, upaya untuk mulai meretas kebuntuan itu dilakukan di pelataran gedung Google X yang menjadi semacam laboratorium semi rahasia untuk pengembangan proyek ambisius Google seperti Project Loon tersebut. Nota kesepahaman antara Google dengan Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata untuk melakukan pengujian teknis dalam menggunakan balon udara guna keperluan transmisi sinyal telekomunikasi ditandatangani.

Presiden Direktur Telkomsel Ririek Adriansyah, CEO Indosat Alex Rusli, dan CEO XL Axiata Dian Siswarini menadatangani kesepakatan itu bersama Vice President Project Loon, Michael “Mike” Cassidy. Menteri Kominfo, Rudiantara, turut menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman tersebut.

loon2Sekitar satu jam sebelum penandatanganan nota kesepahaman tersebut, salah seorang pendiri Google, Sergey Brin menemui Ririek, Alex, dan Dian. Keempatnya, bersama dengan Cassidy, membuat sejumlah pernyataan pers terkait Project Loon, sekalipun yang kemudian lebih diminati sebagian orang di Indonesia adalah celana pendek yang dikenakan Brin selepas ia berolahraga di pagi itu.

Cassidy, di bagian awal pernyataan bersama itu mengatakan bahwa sekitar 150 juta orang di Indonesia masih kekurangan akses internet. Padahal, akses tersebut merupakan kebutuhan mendasar untuk terhubung pada sejumlah layanan pokok seperti pendidikan dan kesehatan.

Layanan-layanan pokok yang selama ini relatif belum tersedia merata di seluruh Indonesia karena biaya konektivitas telekomunikasi yang terlalu mahal untuk investasi pembangunan infrastruktur telekomunikasi konvesional. Misalnya akses yang disediakan lewat infrastruktur telekomunikasi seperti menara pemancar sinyal, kabel serat optik, ataupun cakupan satelit.

Tantangan inilah yang berupaya diretas dengan Project Loon. Sejak uji coba proyek tersebut mulai diluncurkan di Selandia Baru pada Juni 2013 dengan penerbangan 30 unit balon udara, sejumlah kemajuan telah dicatatkan. Diantaranya luas area bumi yang bisa dicakup setiap balon udara, kini sudah mencapai 5.000 kilometer persegi.

Di ketinggian 20 km
Setiap balon udara yang terbang di ketinggian 20 kilometer dari atas permukaan bumi itu beroperasi pada lapisan stratosfer dengan angin yang memiliki sejumlah lapisan serta arah. Algoritma tertentu dalam perangkat lunak yang dibenamkan dalam balon udara dengan ukuran lebar 15 meter dan tinggi 12 meter memandu perjalanan perangkat tersebut selama sekitar 100 hari sebelum mengakhiri masa operasinya dan digantikan balon lain.

Cassidy mengklaim Google memiliki pusat kendali seperti dimilki NASA untuk mengontrol pergerakan balon-balon udara tersebut di seluruh dunia. Selain itu, setiap unit balon juga mampu mengendalikan dirinya sendiri di lapisan stratosfer dengan algoritma tertentu dan melakukan penyesuaian-penyesuian terkait arah dan ketinggian menyusul perbedaan antara prakiraan cuaca dengan kondisi nyata pada tingkat akursi hingga 500 meter.

Balon-balon tersebut bergerak mengeliling wilayah bumi tertentu dengan teratur seperti kumpulan penari yang saling mengisi koreografi. Setiap sebuah titik cakupan ditinggalkan sebuah balon, balon lain akan segera menggantikan.

Setiap balon udara mampu menyediakan konektivitas telekomunikasi dengan teknologi jaringan nirkabel LTE (Long Term Evolution)/4G. dalam kaitan itulah, Google bekerjasama dengan tiga operator seluler tadi agar bisa menggunakan jaringan LTE demgan spektrum frekuensi dimana layanan ketiga operator seluler dioperasikan.

Hingga saat ini sejumlah kemajuan yang dicapai ialah, rekor terlama sebuah balon mengangkasa ialah 187 hari dengan kecepatan akses hingga lebih dari 10 Mbps yang langsung disediakan ke perangkat pengguna. Sejak penggunaan jaringan nirkabel LTE diuji coba untuk tujuan tersebut pada Januari 2014 lalu, pada Mei 2014 jaringan tersebut menghubungkan sebuah sekolah di wilayah pedesaan Agua Fria, di Brasil pada jaringan internet untuk pertama kalinya.

Uji coba itu terus dilanjutkan, dan tahapan awal berupa uji coba teknis dan pengembangan yang akan dimulai di Indonesia pada 2016 itu, menteri Kominfo Rudiantara memastikan frekuensi untuk proyek tersebut ialah yang selama ini dipergunakan operator seluler. Jatah itu berada pada frekuensi 900 Mhz, dan belum akan menggunakan frekuensi “digital devidend” yang berasal dari sebagian frekuensi yang ditinggalkan industri penyiaran tatkalan siaran televisi analog migrasi ke sistem penyiaran digital.

Penggunaan frekuensi 700 Mhz sebagai bagian digital devidend, kata Rudiantara, paling cepat dilakukan tahun 2019. Sementara yang segera bisa dipergunakan ialah frekuensi 900 Mhz.

Cassidy optimis, berdasarkan uji coba lain sebelumnya di Brasil dengan kerjasama bersama Telefonica dan Australia bersama Telstra, ratusan juta lapangan kerja baru dapat diciptakan lewat proyek tersebut. Pasalnya, imbuh Cassidy, setiap kenaikan 10 persen akses internet bakal menambah sebesar 1,4 persen pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product).

Bagi Brin, kerja sama dengan Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat itu sangat menggairahkan Google. Pasalnya, akses terhadap internet merupakan hal penting dan tidak memilikinya adalah hal sulit.

Persoalan ketiadaan akses itu, imbuh Brin, bukan hanya terjadi di Indonesia. Secara berkelakar ia menyebutkan, bahkan di kawasan perbukitan bagian selatan tempatnya berdiri pada saat itu, terdapat area blank spot yang tidak memungkinkan masuknya akses telekomunikasi.

Tidak hanya negara berkembang
Karena itulah, Project Loon tidak hanya diperuntukkan untuk negara-negara berkembang dengan kondisi geografis dan sosial ekonomi seperti Indonesia, melainkan seluruh negara. Ini terutama jika kehadiran infrastruktur konvensional seperti menara BTS (Base Transceiver Station) berpotensi merusak keindahan bentangan alam di suatu wilayah.

Uji coba tahap lanjut di Indonesia yang dimulai tahun depan itu bakal memastikan komunikasi yang terjadi antara balon ke balon, dari permukaan bumi ke balon, dan seterusnya. Jika tahapan ini sukses, maka mereka akan melaju pada fase peluncuran komersial.

Menghitung nilai komersial proyek ini memang menjadi diskusi menarik mengingat dua keunggulan utama yang tidak tersedia pada infrastruktur telekomunikasi konvesional. Masing-masing adalah jangkauan yang nyaris tanpa batasan serta biaya akses yang turun secara dramatis.

Karena itulah, hitung-hitungan mengenai biaya akses, pemasaran, dan sebagainya akan menjadi domain operator seluler. Selain isu penggunan spektrum frekuensi, selama ini para operator seluler tersebut adalah entitas bisnis yang telah membenamkan investasi untuk penyediaan infratsruktur telekomunikasi konvensional seperti lewat menara BTS atau kabel serat optik yang digelar di daratan, bawah laut, hingga satelit telekomunikasi.

Kikien yang mewakili Telkomsel mengatakan bahwa Project Loon akan fokus di wilayah pedesaan yang selama ini sulit dijangkau jaringan infrastruktur telekomunikasi konvensional. Ia menegaskan Project Loon tidak akan mecakup wilayah yang selama ini dilayani oleh infrastruktur telekomunikasi konvesional seperti selama ini desediakan dan dioperasikan operator seluler.

Sementara bagi Alex yang mewakili Indosat, konektivitas lewat jaringan LTE/4G pada waktunya akan melayani sebagian besar di Indonesia. Dalam konteks Indonesia, ia memaparkan hal itu misalnya terkait dengan konektivitas nyaris segala hal dengan jaringan intrenet yang tercakup dalam konsep besar Internet of Things (IoT).

Ririek, Alex, maupun Dian belum menyebutkan tentang skema komersial atau model bisnis dari proyek tersebut. Hingga saat ini, terlebih dahulu kita memang masih harus menunggu hingga tahun 2016 berjalan demi menyaksikan proses uji coba teknis tahap lanjut yang bakal dilakukan.

INGKI RINALDI

Sumber: Kompas Siang | 6 November 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: