Home / Berita / Program 5.000 Doktor Perkuat Perguruan Tinggi Islam

Program 5.000 Doktor Perkuat Perguruan Tinggi Islam

Peningkatan mutu perguruan tinggi Islam yang krusial terutama terletak pada kualitas dan kompetensi dosen serta tenaga kependidikan. Namun, baru 15,5 persen dosen di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang bergelar doktor, sementara di swasta hanya 5,8 persen.

Oleh karena itu, Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan Program 5.000 Doktor untuk kurun 2015-2019 guna mempercepat penambahan jumlah doktor keagamaan dan ilmu umum di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) dan swasta. Apalagi, ke depannya, PTKIN ditingkatkan untuk menjadi institut agama Islam negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri (UIN) dari yang semula banyak sekolah tinggi agama islam negeri (STAIN).

Berdasarkan data Kemenag, saat ini ada 31.271 dosen. Di PTKIN sebanyak 12.049 dosen di 55 institusi, sedangkan di PTKIS berjumlah 19.212 dosen di 631 institusi. Dosen berpendidikan doktor di PTKIN baru berjumlah 1.803 orang (15,5 persen), sedangkan di PTKIS 1.117 orang (5,8 persen). Selebihnya dosen bergelar magister sebanyak 65 persen.

Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, di Jakarta, Selasa (10/3), mengatakan, Program 5.000 Doktor Kemenag mendapat dukungan dari sejumlah negara di luar negeri. Hal ini didorong meningkatnya minat masyarakat internasional untuk mengkaji Islam geopolitik kontemporer di dunia Islam ataupun barat.

“Sejumlah kedutaan besar di Jakarta dan lembaga-lembaga pendidikan asing menawarkan kerja sama untuk mendukung Program 5.000 Doktor. Gelar doktor didorong diraih dari luar negeri,” ujar Kamaruddin.

Negara tujuan belajar
Kamaruddin menambahkan, sejumlah pimpinan universitas dari Belanda, Perancis, Australia, Inggris, Kanada, Arab Saudi, Mesir, Turki, dan Maroko telah berkunjung ke Kemenag dan secara spesifik menawarkan kerja sama dalam pengiriman peserta program (kandidat) ke negara mereka. Kemenag juga melakukan lawatan ke Eropa dan akan dilanjutkan ke Kanada, Inggris, Mesir, Arab Saudi, Amerika, dan Australia untuk melakukan kerja sama dan menandatangani nota kesepahaman dengan berbagai universitas yang menjadi tujuan studi para dosen perguruan tinggi Islam.

084ed7e426064553980f029fc6c4c7d0Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, setiap tahun ada beasiswa bagi 1.000 doktor yang dapat diikuti dosen dan tenaga kependidikan PTKIN dan PTKIS, serta eselon I Kemenag. Ada 500-750 beasiswa untuk kandidat yang mengambil program doktor di universitas terkemuka di dalam negeri, serta 250-300 beasiswa untuk kandidat yang akan melanjutkan studi ke berbagai universitas luar negeri. Informasi dapat diakses lewat laman http://www.scholarship.kemenag.go.id.

“Dalam lima tahun ke depan diharapkan akan ada 5.000 doktor yang akan mengawal dan menjadi garda terdepan pengembangan kajian Islam di Indonesia dan dunia,” kata Lukman.

Lukman menambahkan, Indonesia harus bisa memberikan alternatif kepada dunia bahwa untuk melihat dan mempelajari Islam bukan hanya bertumpu pada Timur Tengah, tetapi juga melihat Indonesia. “Untuk itu, kita harus punya perguruan tinggi Islam kelas dunia, yang kuat di ilmu agama dan ilmu umum. Indonesia layak menjadi kiblat pendidikan Islam dunia,” tutur Lukman.

Menurut Lukman, Kemenag mendukung lahirnya intelektual dan aktivis Islam berskala nasional dan internasional. Indonesia yang demokratis dan pluralistik seperti sekarang ini sedikit banyak merupakan sumbangan perguruan tinggi Islam. Perguruan tinggi Islam Indonesia telah melahirkan intelektual dan aktivis Muslim yang progresif, inklusif, rasional, dan moderat yang mampu menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat menuju negara demokrasi.

Ester Lince Napitupulu

Sumber: Kompas Siang | 10 Maret 2015
——————
Beasiswa Doktor untuk 5.000 Dosen

Kementerian Agama menyediakan beasiswa doktor untuk 5.000 dosen serta tenaga pendidikan di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri dan swasta selama lima tahun ke depan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meluncurkan situs web beasiswa Kementerian Agama beralamat http://www.scholarship.kemenag.go.id itu pada Senin (9/3).

“Kita harus bisa memberikan alternatif kepada dunia bahwa untuk melihat dan mempelajari Islam itu bukan tertumpu ke Timur Tengah, tetapi juga ke Indonesia. Untuk itu, kita harus punya perguruan tinggi keagamaan Islam berkelas dunia. Salah satu langkah mewujudkan itu dengan memperbanyak doktor di perguruan tinggi keagamaan Islam,” tutur Lukman.

Direktur Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengatakan, sekitar 75 persen beasiswa tersebut dialokasikan untuk doktor di dalam negeri. Selebihnya, beasiswa untuk doktor di luar negeri, antara lain Timur Tengah, Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat.

Beasiswa seni budaya
Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri memberi Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia kepada 70 orang dari 43 negara agar mereka bisa tinggal di tengah masyarakat Indonesia selama tiga bulan sambil mempelajari kebudayaan nasional dan lokal.

“Hubungan antarmanusia ialah diplomasi terkuat yang ada,” ujarr Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri pada pidato pelepasan para peserta di Jakarta, kemarin. Peserta disebar di enam kota, yaitu Bandung (Jawa Barat), Solo (Jawa Tengah), Yogyakarta, Surabaya (Jawa Timur), Badung (Bali), dan Makassar (Sulawesi Selatan).

Jolisa Nadine Wilfong (25), mahasiswi dari Amerika Serikat yang ditempatkan di Yogyakarta, mengatakan, terlibat langsung dengan masyarakat Indonesia akan membantu mengenal akar permasalahan. “Indonesia dan Amerika Serikat memiliki sejumlah permasalahan serupa, tetapi banyak yang tidak menyadari. Contohnya, isu intoleransi terhadap kelompok yang berbeda suku bangsa ataupun kepercayaan,” ujar Jolisa.

Kepala Seksi Kerja Sama Antarlembaga Kementerian Luar Negeri Meylia Wulandari menjabarkan, para peserta bukanlah orang-orang yang ahli mengenai Indonesia. “Namun, mereka memiliki ketertarikan untuk belajar lebih banyak tentang Indonesia,” katanya. (ELN/DNE)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Maret 2015, di halaman 12 dengan judul “Beasiswa Doktor untuk 5.000 Dosen”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: