Home / Berita / Profesor Riset; Ekstensifikasi Manfaatkan Lahan Kurang Subur

Profesor Riset; Ekstensifikasi Manfaatkan Lahan Kurang Subur

Perluasan lahan pertanian di Indonesia menemui kesulitan karena lahan subur terbatas. Pemanfaatan lahan suboptimal atau kurang subur menjadi salah satu solusi perluasan lahan pertanian.

Hal itu disampaikan Prof Dr Ir Djadja Subardja Sutaatmadja, MS dan Prof Dr Ir Bambang Sutaryo, MS dalam orasi pengukuhan profesor riset pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Jumat (26/6), di Bogor, Jawa Barat.

Djadja dikukuhkan sebagai profesor riset ke-122 dengan orasi “Pendekatan Pedologis dalam Pemanfaatan Lahan Suboptimal untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan”. Sementara Bambang menjadi profesor riset ke-123 dengan orasi “Prospek Perakitan dan Pengembangan Padi Hibrida Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan”.

Seiring dengan waktu, lahan subur banyak mengalami penurunan mutu dan konversi. Produktivitas padi cenderung menurun akibat penggunaan lahan sangat intensif dan pemberian pupuk anorganik berlebihan. “Sementara kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk” kata Djadja.

Demi memenuhi kebutuhan pangan atau swasembada, lanjut Djadja, perluasan lahan pertanian memanfaatkan lahan suboptimal, yang mayoritas di luar Pulau Jawa, mutlak dilakukan.

Djadja menyatakan, perluasan lahan pertanian di Indonesia sebaiknya diarahkan memanfaatkan lahan suboptimal antara lain lahan kering masam, lahan kering beriklim kering, dan lahan rawa sulfat masam.

DSC00155-CopyDari total 191,1 juta hektar luas daratan Indonesia, lahan suboptimal mencapai 114,9 juta hektar, lebih luas dari lahan pertanian yang saat ini luasnya 70,2 juta hektar.

Permasalahan pemanfaatan lahan tidak subur antara lain belum tersedia informasi rinci dan akurat tentang sebaran, karakteristik, potensi, dan kendala lahan seperti itu. Dengan pendekatan pedologis (pemetaan dan survei lahan), Djadja berharap informasi itu bisa tersedia sehingga bisa ditentukan teknologi pengolahan lahan spesifik.

Akibat ketiadaan peta yang memadai, menurut Djadja, sering terjadi salah pengelolaan antara lain salah memilih jenis tanaman, yang berdampak pada kegagalan produksi. Selain itu, terjadi tumpang tindih kepentingan dan kerusakan lingkungan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Muhammad Syakir mengatakan, salah satu lahan suboptimal yang sudah diuji coba adalah lahan rawa di Sulawesi Selatan dan di Kalimantan Selatan. Hasil uji coba menunjukkan, produktivitas 5 ton-6 ton per hektar, mendekati produktivitas lahan subur irigasi sekitar 8 ton per hektar. (B01)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Ekstensifikasi Manfaatkan Lahan Kurang Subur”.

———–

jajabambangprofesorrisetProf.Dr.Bambang Sutaryo : Kenaikan Produksi Padi Tumbuhkan Optimisme Menuju Swasembada Beras

Dalam dua hingga tiga tahun mendatang, Indonesia dituntut untuk berswasembada pangan.Untuk merealisasikan swasembada pangan pemerintah memprioritaskan empat hal yaitu penyediaan bibit unggul, pupuk, waktu tanam yang tepat, dan perbaikan fasiitas pengairan.

Demikian Prof. Dr.Bambang Sutaryo, dalam Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pemuliaan dan Genetika Tanaman berjudul “Prospek Perakitan dan Pengembangan Padi Hibrida Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan” berlangsung di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Bogor, Jumat siang (26/6/2O15). Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Dr.Ir.Muhammad Syakir, MS.

Mengacu pada kondisi produksi pangan dalam lima tahun terakhir (2OO9-2O13) pemerintah menargetkan swasembada beras pada 2O15 sebanyak 65,7 juta ton, swasembada jagung pada 2O16 sebanyak 2O juta ton, dan swasembada kedelai pada 2O17.Dalam kurun waktu 2OO9-2O13 produksi padi tertinggi di Indonesia terjadi pada 2O13 yaitu 71,28 juta ton.

“Kenaikan produksi padi ini menumbuhkan optimisme menuju swasembada beras.Belajar dari keberhasilan capaian ini pemerintah mengamanatkan Indonesia untuk mandiri pangan,” katanya.

Dr.Ir.Bambang Sutaryo menjelaskan pada 2O14 Indonesia diharapkan surplus beras sebesar 1O juta ton.Laju peningkatan produksi padi tidak hanya didasarkan atas pertimbangan tersedianya bibit unggul, pupuk, waktu tanam yang tepat, dan pembangunan fasilitas pengairan, tetapi juga ditentukan oleh interaksi antara luas areal tanam dan produktivitas.

Peningkatan produksi terkait dengan implementasi sistem intensifikasi padi yang didukung inovasi teknologi, antara lain penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan toleran cekaman lingkungan.

Untuk mendapatkan varietas unggul padi dengan sifat yang diinginkan dapat diupayakan melalui persilangan dengan metode inbrida dan hibrida.

Pada 2O11, penggunaan varietas unggul padi di Indonesia didominasi oleh Ciherang dengan penyebaran di masing-masing provinsi berkisar antara 47 persen sampai 5O persen dan diikuti oleh varietas unggul lain seperti IR64 (7,81 persen),Mekongga (5,55 persen), Cigeulis (4,33 persen) dan Ciliwung (3,35 persen).

Selanjutnya diikuti oleh varietas lokal antara lain Bengawan, Ketan Lusi, Gropak, dan Markoti dengan luas penyebaran 15 persen yang semuanya adalah varietas inbrida.Namun,peningkatan produksi varietas unggul baru inbrida ini masih terkendala oleh diversitas genetik yang terbatas.

Sejak pencapaian swasembada beras pada 1984 dengan produksi 25,8 juta ton, pemerintah mengkombinasikan program ekstensifikasi seperti penggunaan varietas pada tipe baru dengan hasil tinggi.

“Namun swasembada beras tidak dapat bertahan lama antara lain disebabkan oleh alih fungsi lahan yang belum terkendali dan produktivitas yang melandai,” ucapnya.

Untuk mengatasi permasalahan stagnasi produktivitas tersebut antara lain dapat ditempuh melalui pengembangan varietas padi hibrida.Peluang pengembangan hibrida di Indonesia cukup besar dengan dukungan bioteknologi Marker-Assisted Backcrossing (MAB), Marker-Assisted Selection (MAS), Quantitative Trait Loci (QTL), Simple Sequence Repeats (SSR), mikrosatelit RM9 dan teknik kultur anthera.

“Selain itu juga dapat dilakukan melalui pengembangan teknologi padi hibrida tipe baru atau padi hibrida super dan pemuliaan padi hibrida sistem dua galur.Melalui dukungan inovasi teknologi tersebut diharapkan akan meniblngkatkan produktivitas padi,”ujarnya.

Ditambahkannya, berkaitan dengan hal-hal tersebut, orasi ilmiah ini menguraikan dinamika dan perkembangan perakitan padi hibrida terutama di Indonesia dengan harapan dapat dijadikan sebagai landasan kebijakan dalam mendukung program swasembada beras secara berkelanjutan.(lasman simanjuntak)
————-
Prof.Dr.Djadja Subardja : Pembangunan Pertanian Di Indonesia Dihadapkan kepada Tantangan yang Semakin Berat

Penbangunan pertanian di Indonesia dihadapkan kepada tantangan yang semakin berat.Kebutuhan pangan terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk.Sementara lahan subur telah banyak mengalami degradasi dan konversi.Produktivitas padi yang merupakan pangan utama melandai, bahkan menurun akibat intensitasnya penggunaan lahan dan tidak rasionalnya pemberian pupuk anorganik.

Demikian Dr.Ir.Djadja Subardja Sutaatmadja dalam Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pedologi dan Penginderaan Jarak Jauh berjudul “Pendekatan Pedologis Dalam Pemanfaatan Lahan Suboptimal Untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan” berlangsung di Auditorium Sadikin Sumintawikarta di Bogor, Jumat siang (26/6/2O15). Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Dr.Ir.Muhammad Syakir, MS.

Terbatasnya sumberdaya lahan produktif menuntut perlunya teknologi spesifik untuk meminimalisasi input dan memaksimalisasi output.

“Penggunaan lahan di luar Jawa merupakan salah satu harapan, tetapi kita dihadapkan kepada kendala biofisik, sosial, ekonomi, dan persaingan dengan komoditas perkebunan,” katanya.

Sebagian besar lahan yang dapat digunakan untuk pengembangan pertanian saat ini didominasi oleh lahan suboptimal, terutama lahan kering masam di Sumateta, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.Lahan suboptimal secara alamiah berproduktivitas rendah dan ringkih (fragile) karena faktor inheren (tanah) dan faktor eksternal (iklim ekstrim).Lahan suboptimal lain adalah lahan kering beriklim kering, lahan rawa gambut dan lahan rawa sulfat masam.

“Permasalahan yang lebih mendasar adalah karakteristik, potensi, kendala dan sebaran lahan suboptimal belum diketahui secara rinci dan akurat.Akibatnyta sering terjadi salah pengelolaan yang berdampak terjadap kegagalan produksi, tumpang tindih kepentingan, dan kerusakan lingkungan.Karena itu pemanfaatan lahan suboptimal memerlukan pendekatan pedologis,” ujarnya.

Dr.Ir.Djadja Subardja Sutaatmadja, M.Sc menjelaskan pedologi berasal dari kata pedo (tanah) dan logi (ilmu).Arti pedologi yang lebih luas adalah cabang ilmu alam atau ilmu kebumian yang mempelajari faktor-faktor dan proses pembentukan tanah, termasuk mendiskripsi profil (penampang) tanah, klasifikasi tanah, pemetaan dan interpretasi tanah untuk penggunaan tertentu.

Pendekatan pedologis adalah pendekatan ilmiah yang didasarkan pada sifat dan karakteristik tanah yang dipengaruhi oleh faktor pembentuk tanah, terutama bahan induk, iklim, dan relief.Dengan pendekatan pedologis, potensi, kendala, dan tata cara perbaikan lahan, termasuk lahan suboptimal dapat diketahui secara cepat dan tepat.

“Orasi ilmiah ini memaparkan pendekatan pedologis dalam pemanfaatan lahan suboptimal untuk pengembangan pertanian berkelanjutan,” ucapnya.

Sebagai penutup, Dr.Ir.Djadja Subardja Sutaatmadja, M.Sc, mengatakan pembangunan pertanian mutlak memerlukan data/informasi sumberdaya lahan yang rinci dan akurat.Data/informasi tersebut hanya dapat diperoleh melalui pendekatan pedologis yang lebih detil dan komprehensif untuk mendukung penentuan kebijakan pertanian yang tepat dan terarah pada setiap hirarkhi, serta mencegah terjadinya tumpang tindih kepentingan dan kerusakan lingkungan.

“Pendekatan pedologis sangat strategis untuk mengindentifikasi karakteristik lahan suboptimal yang sangat kompleks, khususnya pada lahan kering masam, dalam penentuan arah penggunaan, penyusunan rancangan dan rekomendasi teknologi pengembangannya terutama dalam pengembangan pertanian terpadu menuju precision and prescription farming di masa depan,” katanya.(lasman simanjuntak)

Sumber:www.beritarayaonline.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: