Home / Berita / Profesi Baru Menuntut Keahlian Khusus

Profesi Baru Menuntut Keahlian Khusus

Di Bidang Tertentu Peran Manusia Tetap Perlu
Seiring perkembangan teknologi, dalam dua-tiga tahun ke depan lahir peluang kerja dan profesi baru yang menuntut keahlian khusus. Secara bertahap, pekerjaan yang bersifat manual akan tergantikan oleh perangkat digital. Namun, pada bidang tertentu, teknologi tak serta-merta menafikan peran manusia.

Menurut keterangan yang dihimpun Kompas, pekan lalu, bidang yang menjanjikan profesi baru itu, antara lain, mencakup energi, transportasi, ritel daring (online), dan promosi berbasis aplikasi. Peluang itu tersebar di korporasi ataupun usaha individual berpola ekonomi berbagi.

Sebagai contoh, saat ini pemerintah membangun pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW). Proyek ini akan menyerap tenaga kerja langsung 650.000 orang dan tenaga kerja tak langsung sekitar 3 juta orang. Proyek yang dimulai 2015 ini ditargetkan selesai pada 2019.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform Fabby Tumiwa mengatakan, proyek itu membutuhkan tenaga ahli khusus bidang pengaturan dan pengoperasian mesin pembangkit.

Ketua Asosiasi Digital Indonesia (IDA) Edi Taslim menambahkan, adaptasi teknologi membuka ruang munculnya profesi baru, misalnya manajer media sosial, komunitas, dan community officer. Nama profesi yang kian bermunculan di sektor industri konvensional mengarah mayoritas di bidang pengelolaan media sosial. Ada pula growth director yang bertugas memastikan pertumbuhan bisnis.

“Pesan pencitraan merek harus sampai ke segala segmen konsumen. Perusahaan konvensional seolah dipaksa untuk mengikuti perkembangan itu jika tidak mau kehilangan konsumen,” ujarnya.

Menurut Public Relations Manager Jobplanet Indonesia Restituta Ajeng Arjanti, pencari kerja yang tertarik bekerja di usaha rintisan bisa mencari informasi tentang perusahaan tujuan di Jobplanet.com. Contoh informasi yang dicari mencakup aspek budaya, lingkungan, posisi, dan rentang kerja di perusahaan.

Total jumlah perusahaan yang terdaftar di laman ini per akhir Februari 2016 mencapai 35.000 unit, mulai dari usaha kecil dan menengah, usaha rintisan bidang teknologi, hingga korporasi dari berbagai sektor industri.

Menurut Restituta, siapa pun bisa mendaftar di Jobplanet.com, lalu memasukkan informasi tentang perusahaan yang dituju, gaji, dan posisi jabatan.

Jobplanet pernah melakukan riset pada pengguna terkait perusahaan rintisan populer. Riset dilakukan pada awal 2016 dengan mengacu pada jumlah kunjungan ke laman berisi profil dan ringkasan informasi. Akhir Januari 2016, sebanyak 51 usaha rintisan bidang teknologi telah terdaftar dengan total pengunjung sekitar 45.000.

Hasilnya, ada lima perusahaan rintisan populer, yakni Tokopedia (31,73 persen), Bukalapak (13,54 persen), PT Global Digital Niaga atau Blibli.com (7,30 persen), dan PT ECart Services Indonesia atau Lazada (6,68 persen). Adapun usaha rintisan yang menarik perhatian adalah PT Traveloka Indonesia (4,64 persen) dan PT Kreatif Media Karya atau KMK Online (3,62 persen).

af00bc671a98425fbe25f51e448c763bChief Executive Officer Bridestory Kevin Mintaraga menyebutkan, ada 15 departemen yang bertugas membidangi pekerjaan penunjang keberlangsungan perusahaan. Contohnya, teknologi, pengembangan produk, desain, kreatif, jaminan kualitas, dan customer support. Departemen itu sudah lazim ada di organisasi sebuah usaha rintisan di bidang teknologi. Rata-rata usia karyawan 25-35 tahun.

Navigasi udara
Sementara itu, Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, berencana meningkatkan jumlah sektor pemanduan dalam wilayah pengawasannya. Hal itu membutuhkan tenaga ahli tambahan untuk menangani Divisi Air Traffic Control (ATC).

General Manager JATSC Bambang Rianto mengatakan, pihaknya perlu lebih banyak tenaga operasional ATC karena diminta pemerintah untuk mengambil alih sektor ABC (Kepulauan Natuna). Saat ini, sektor pengawasan itu dikelola Singapura.

“Kami targetkan mengambil alih sektor pemanduan tersebut pada 2018. Dampaknya, akan ada tiga sektor pemanduan baru di bawah pengawasan JATSC sehingga membutuhkan setidaknya 120 petugas ATC baru,” ujarnya.

Pihaknya bertanggung jawab memantau pergerakan pesawat di 24 sektor pemanduan di wilayah informasi penerbangan I (Flight Information Region I). Sektor tersebut mencakup pengawasan lalu lintas pesawat dari kawasan Aceh hingga Semarang, Jawa Tengah. Para petugas ATC memandu sekitar 1.000 pesawat terbang per hari.

Menanggapi hal itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, perguruan tinggi di Indonesia sudah memiliki program studi yang relevan dengan bidang tersebut. Bidang itu kini terus dikembangkan.(DNE/MED/APO/C02/C04)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 April 2016, di halaman 12 dengan judul “Profesi Baru Menuntut Keahlian Khusus”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: