Home / Featured / Prof Elizabeth Anita Widjaja, Satu-satunya Ahli Taksonomi Bambu di Indonesia

Prof Elizabeth Anita Widjaja, Satu-satunya Ahli Taksonomi Bambu di Indonesia

Jenis tanaman bambu ternyata banyak. Setidaknya ada 80 jenis seperti hasil penelitian “doktor bambu” Prof Elizabeth Anita Widjaja. Dia termasuk peneliti langka di Indonesia.
UNTUK ukuran seorang profesor, ruang kerja Elizabeth Anita Widjaja bisa dibilang cukup kecil dan minimalis. Dia menyebutnya ruang kerja ala Jepang. Ukurannya tidak lebih dari 3 x 4 meter. Di dalamnya hanya ada sebuah lemari, beberapa filing cabinet, dan sebuah meja komputer beserta printernya. Selebihnya dipenuhi tumpukan-tumpukan koran yang terlipat dalam ukuran besar. Tumpukan koran tersebut bukan kliping atau arsip.

Tumpukan koran tersebut berisi spesimen-spesimen bambu yang tengah diteliti Elizabeth. “Ini ada sekitar 20 jenis bambu baru yang belum dipublikasikan. Masih saya teliti. Kalau ciri-cirinya tidak terlalu jelas, saya nggak berani publikasikan,” jelas Elizabeth saat ditemui di ruang kerjanya, kompleks Cibinong Science Center, Cibinong, Bogor, Kamis lalu (21/6).

Perempuan 62 tahun itu sangat mencintai bambu. Bahkan, lebih dari separo hidupnya diabdikan untuk meneliti tanaman multiguna tersebut. Berkat kerja keras, Elizabeth berhasil menemukan 80 varian dari 160 jenis bambu di Indonesia. Elizabeth pun diganjar beberapa penghargaan karena kecintaannya pada profesinya sebagai peneliti bambu Indonesia.

Dua kali Elizabeth meraih penghargaan The Best Scientist in LIPI dan dua kali mendapat penghargaan Satyalancana Karya dari pemerintah. Selain itu, dia memperoleh penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden Abdurrahman Wahid dan Harsberger Medal dari Society of Ethnobotanists, India. Sejauh ini Elizabeth memang satu-satunya ahli taksonomi bambu di Indonesia. Dia pun mendapat julukan doktor bambu Indonesia.

Peneliti senior di Pusat Penelitian Biologi LIPI tersebut memang cinta mati pada bambu. Kecintaannya juga tecermin dari kegemaran dia memakai bahan-bahan dari bambu. Salah satunya kaus kaki dan T-shirt.

“Percaya atau tidak, pakaian berbahan bambu itu kalau pas udaranya panas, dipakai malah dingin. Tapi, ketika udaranya dingin, malah hangat,” jelasnya.
Kecintaan Elizabeth pada bambu awalnya tidak sengaja. Bahkan, dia lebih dulu menyukai rumput daripada bambu. Sekitar 1975 Elizabeth yang mengambil jurusan biologi di Universitas Padjadjaran Bandung menggarap skripsi. Seperti mahasiswa semester akhir pada umumnya, Elizabeth banyak memiliki waktu luang karena hanya mengerjakan karya ilmiah itu.

Saat senggang tersebut, dia diajak salah seorang dosennya untuk meneliti makanan banteng di Pangandaran. “Makanan banteng adalah rumput. Dari situlah saya tertarik untuk menggarap skripsi tentang ekologi rumput,” jelasnya.
Karena penelitiannya tentang tanaman rumput, ibu dua anak tersebut lalu disarankan untuk mencari dosen pembimbing di IPB Bogor. Ketemulah Elizabeth dengan Prof Mien A. Rifai, dosen IPB yang juga peneliti LIPI.

Bukannya langsung mengarahkan Elizabeth untuk meneliti rumput, Mien justru menawari perempuan kelahiran 30 Maret itu untuk meneliti tanaman bambu. “Saya awalnya tanya, lho bambu itu kan bukan rumput. Eh, ternyata bambu termasuk jenis rumput-rumputan,” kenang Elizabeth.

Perempuan berjilbab tersebut lalu diarahkan untuk menggarap skripsi tentang alat musik bambu di Jawa Barat. Dia kemudian mendatangi Sanggar Saung Angklung di Jalan Padasuka, Bandung. Di situ Elizabeth tinggal tiga bulan guna menyaksikan sendiri proses pembuatan angklung. “Saya lihat mulai mencari, memotong, sampai bikin angklung,” kata dia.

Dari situ Elizabeth jadi tahu bahwa angklung dibikin dari bambu hitam atau awi hideung. Menurut pemilik Sanggar Saung Angklung, bambu hitam merupakan jenis bambu yang paling baik untuk membuat angklung. Namun, kemudian Elizabeth menyadari, ada masalah dalam penamaan jenis bambu.

Setelah menelisik lebih jauh, nama Latin bambu hitam ternyata sama dengan tiga jenis bambu lainnya, yakni awi ater, awi gombong, dan awi mayan. Padahal, ketiganya memiliki ciri-ciri yang berbeda. “Baik awi hideung maupun tiga bambu lainnya, waktu itu, namanya cuma satu, yaitu Gigantochloa verticillata (Wild) Munro. Karena itu, saya harus menyelesaikan masalah penamaan itu,” jelasnya.
Perempuan kelahiran Kudus, Jawa Tengah, itu pun tergerak untuk mengklasifikasi nama-nama bambu tersebut. Sejak saat itu Elizabeth makin serius dengan ilmu taksonomi, khususnya bambu. Keempat bambu itu lantas diberi nama baru.
Bahkan, ada yang diberi nama sesuai dengan nama belakang Elizabeth. Awi ater yang berwarna hijau diberi nama Gigantochloa atter, awi hideung menjadi Gigantochloa atroviolacea Widjaja. Sedangkan awi gombong yang memiliki setrip hijau dan kuning cerah diberi nama Gigantochloa pseudoarundinaceae (Steud) Widjaja. Lalu, awi mayan yang berciri setrip hijau dan kuning kusam diberi nama Gigantochloa maxima (Poir) Kurz.

Saat sibuk membuat skripsi tentang jenis alat musik dari bambu, dosen pembimbingnya tiba-tiba menawari Elizabeth bekerja di Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI. Tawaran itu tidak datang tanpa sebab. Padahal, dosen pembimbing Elizabeth tergolong dosen yang “sulit”.

Meski hanya sebagai tenaga honorer, Elizabeth senang luar biasa. Sejak saat itu Elizabeth bekerja di Puslit Biologi LIPI. Kegemaran meneliti bambu pun semakin tersalurkan. Hingga pada 1980 dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan jenjang S-2 di Departemen Biologi University of Birmingham, Inggris, dengan sponsor dari British Council.

Tapi, baru tiga bulan di Inggris, Elizabeth sudah tidak betah. Pasalnya, hasil ujian tengah semesternya hanya mendapat nilai 4. Elizabeth sangat kecewa. Dia sampai minta pulang. “Saya bilang pada profesor saya, seumur hidup saya tidak pernah dapat nilai 4. Saya sungguh menyesal,” tuturnya.

Meski begitu, atasan Elizabeth di LIPI tetap ingin anak buahnya menyelesaikan studinya. Dia diminta untuk belajar lebih keras lagi agar nilainya jadi baik. Usahanya tidak sia-sia.

Dalam ujian akhir semester, Elizabeth berhasil membuktikan kemampuannya. Meski tidak diberi tahu berapa nilainya, Prof Jack Hawkes mengatakan hasil ujian Elizabeth bagus. Karena itu, dia lalu ditawari melanjutkan ke jenjang S-3 untuk mengambil gelar PhD. “Di sana, kalau nilainya A atau B+ bisa diusulkan untuk meraih PhD,” ujarnya.

Namun, Elizabeth menolak tawaran tersebut. Sebab, dia sudah mendapat dua tawaran untuk mengambil gelar PhD di Prancis dan Australia.

Awalnya Elizabeth berencana mengambil tawaran di Australia yang lebih dekat dengan Indonesia. Tapi, rencana itu batal setelah dosen pembimbingnya, Prof Jack Hawkes, memberikan pemahaman bahwa di Australia Elizabeth mesti lulus seleksi lebih dulu. Sedangkan di University of Birmingham dia langsung diterima. “Profesor saya juga yang mencarikan dananya,” tutur putri ketiga di antara sembilan bersaudara itu.

Elizabeth akhirnya “takluk” juga. Hanya, dia mengajukan dua syarat bila harus menempuh pendidikan S-3 di Inggris. Pertama, dia diizinkan meneliti bambu. Kedua, dia dibolehkan mengikuti Sandwich Program. Program itu memungkinkan Elizabeth menetap di Indonesia selama dua tahun untuk melakukan penelitian. Dua syarat tersebut ternyata dikabulkan sang profesor.

Jadilah Elizabeth menekuni bambu untuk pendidikan S-3. Dia membahas secara khusus bambu jenis gigantochloa. Saat mengerjakan disertasi, Elizabeth banyak menemui tantangan. Misalnya, ketika dia mengirimkan proposal penelitian kepada pakar bambu ternama di Amerika Thomas Soderstrom. Dia bermaksud meminta referensi kepada pakar tersebut.

Namun, penelitiannya tentang bambu jenis gigantochloa malah diragukan. Alasannya, di Indonesia belum pernah ada ahli bambu. Apalagi, jenis bambu yang diteliti Elizabeth tergolong paling sulit. “Saya anggap itu sebagai tantangan,” tegasnya.

Elizabeth membuktikan tekadnya. Tepat tiga tahun disertasinya selesai. Dia lalu diuji oleh ahli biosistematik dari Inggris Prof Clive A. Stace. Awalnya Elizabeth tidak pede. Apalagi, kemampuan berbahasa Inggrisnya biasa saja. Namun, Elizabeth mampu melewati ujian itu dengan hasil baik.

Kembali ke Indonesia, Elizabeth sempat frustrasi. Menurut dia, reaksi tersebut cukup wajar di kalangan peneliti yang baru pulang dari luar negeri. Penyebabnya adalah minimnya dana penelitian di Indonesia. Alhasil, perjuangan

Elizabeth dalam melestarikan bambu di Indonesia tidak mudah. Selain dana minim, penelitiannya tentang bambu sempat dipandang sebelah mata. Sebab, pamor bambu masih kalah jika dibandingkan dengan kayu. Pemerintah juga kurang memberikan perhatian terhadap upaya pelestarian dan penelitian bambu.

“Karena tidak ada dana, kadang-kadang saya pakai duit sendiri untuk penelitian. Saya juga rajin kirim proposal supaya ada sponsor dari pihak asing,” ujarnya.
Akhirnya, pada 1990-1995, Elizabeth menerima dana penelitian dari International Development Research Center, Kanada. Dana tersebut dia gunakan untuk meneliti plasma nuftah bambu di Indonesia. Elizabeth pun menjadi makin sering keluar masuk hutan dan pegunungan untuk menemukan jenis bambu yang baru.

Hasilnya, Elizabeth mampu memublikasikan 43 jenis bambu yang ditemukan. Tercatat sudah ada 160 jenis bambu yang dikenali dan dikelompokkan Elizabeth. Di antara jumlah itu, 80 jenis merupakan hasil temuannya. Saat ini Elizabeth tengah meneliti 20 spesimen bambu lagi.

Menurut Elizabeth, masih banyak jenis bambu di Indonesia yang belum ditemukan dan diketahui jenisnya. Padahal, dikhawatirkan 15″20 tahun mendatang masyarakat Indonesia belum tentu bisa melihat bambu lagi. Sebab, penebangan bambu secara besar-besaran terus terjadi tanpa disertai upaya budi daya.
“Sayang sekali. Padahal, kegunaan bambu sangat banyak yang tidak diketahui masyarakat. Salah satu di antaranya, menjaga keseimbangan lingkungan,” tutur dia. (*/c4/ari)

SEKARING RATRI A., Bogor

Sumber: JPNN, Minggu, 24 Juni 2012

Share
%d blogger menyukai ini: