Home / Berita / Bambu, Benteng Alami Banjir Bandang

Bambu, Benteng Alami Banjir Bandang

Jumlah bencana pada 2016 adalah yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Dari jumlah itu, banjir termasuk jenis bencana yang terbanyak melanda. Namun, upaya melelahkan guna menurunkan risiko banjir tidak kunjung melirik solusi dari alam: bambu.

Bambu ampel ( Bambusa vulgaris) ring kuning, urip iku eling. Wajib padha eling, eling marang Sing Peparing (Bambu kuning, hidup itu harus ingat. Semua wajib ingat, ingat Yang Maha Memberi) Penggalan lirik lagu genre hiphop berjudul ”Ngelmu Pring” (Berilmu pada Bambu) itu dipopulerkan grup rap Rotra, dengan syair gubahan Romo Sindhunata, SJ. Nilai falsafah ”dititipkan” pada lagu, bahwa hidup harus ingat pada Tuhan Yang Maha Memberi. Tak sekadar dipas-paskan, tetapi bambu pada hidup sehari-hari menunjukkan Tuhan sudah menyediakan solusi bagi kehidupan jika manusia ”mendengar” alam. Salah satunya, fungsi bambu sebagai benteng dari bencana hidrometeorologis.

Elizabeth Anita Widjaja, profesor riset pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), selama 40 tahun hidup meneliti bambu dan mendorong pemanfaatan secara nasional. Bambu menekan risiko banjir dan longsor dengan ditanam di hulu dan sempadan sungai.

”Akar-akar serabut bambu menahan permukaan tanah agar tidak erosi,” ucap Elizabeth, di Jakarta, seusai peluncuran rekomendasi kebijakan penanaman bambu di hulu dan sempadan sungai, Rabu (23/11). Dengan batang bersifat kapiler, bambu bisa mengisap dan menampung air. Itu mengurangi volume air yang jatuh dan tergenang, sehingga jika bambu berjumlah banyak, potensi banjir ditekan.

Seperti diketahui, banjir dan longsor melanda sejumlah daerah tiap tahun, bahkan frekuensinya meningkat. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (29/12), selama 2016, ada 2.342 kejadian bencana, naik 35 persen dibandinglkan pada 2015 yang mencapai 1.732 kejadian. Dari jumlah total bencana 2016, sebanyak 92 persen ialah bencana hidrometeorologi, berupa banjir, longsor, dan puting beliung. Banjir terjadi sebanyak 766 kejadian, longsor 611 kejadian, puting beliung (669), kombinasi banjir dan longsor (74). Per akhir November 2016, longsor merenggut 170 jiwa dan banjir menewaskan 140 jiwa. ”Banjir itu terbanyak kejadiannya,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Keunggulan
Buluh suling ( Solusi banjir fokus pada pembetonan, padahal itu mahal dan tidak tahan lama. Menurut Elizabeth, pembetonan per meter persegi butuh dana Rp 2,5 juta. Lama-kelamaan, beton pecah sehingga harus dibeton lagi. Sementara biaya penanaman bambu untuk 5 meter persegi hanya Rp 162.500, atau Rp 32.500 per meter persegi (0,013 kali biaya pembetonan). Bambu tidak perlu penanaman kembali. Rumpun yang terguling cukup ditegakkan.

Perawatannya dengan cara mengurangi jumlah tanaman untuk memberi ruang tumbuh. Namun, penanaman bambu pada penurunan risiko bencana baru bisa dirasakan setelah tiga tahun, tak secepat pembetonan. Bagi sempadan sungai yang kritis, perlu pembetonan, tetapi sebaiknya bambu ditanam 5 meter dari beton untuk menggantikan beton setelah rusak. Di Desa Sumbermujur, Lumajang, Jawa Timur, 5 tahun setelah penanaman bambu, erosi tanah menjadi 436 ton per kilometer persegi.Sebelumnya, erosi 4.235 ton per km persegi. Adapun lembaga swadaya masyarakat, Banten Creative Community (BCC), menggelorakan ”Revolusi Sebatang Bambu” sejak 2013.

Didampingi Elizabeth, BCC menanam 20.000 bibit bambu di lahan 50 hektar. Pendiri BCC, Mukoddas Syuhada, mengatakan, lokasi penanaman di antaranya Sungai Cilemer (Patia, Kabupaten Pandeglang), Kasepuhan Banten Kidul (Kabupaten Lebak), Desa Kadu Dago (Kabupaten Serang), Kali Banten dan pesisir Teluk Banten (Kota Serang). Juga di Sungai Cisadane (Kabupaten Tangerang dan Kota Tansel), Kali Jelitreng, situ dan jalur pipa gas di Kota Tangsel, di Kota Cilegon. ”Tahun ini, saya belum dengar banjir lagi di lokasi yang kami tanam,” ucapnya. Penanaman bambu menyediakan 10 juta biopori alami, karena 1 batang bambu setara 10 biopori (20.000 bibit menghasilkan 1 juta bambu karena per rumpun minimal terdiri atas 50 batang).

Rekomendasi kebijakan
Untuk itu Elizabeth mereko- Bambu betung (mendasikan ada regulasi nasional, misalnya instruksi presiden atau surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Kebijakan menyebut penanaman bambu di hulu dan sempadan sungai untuk menekan risiko bencana. Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian LHK Hilman Nugroho, pemerintah memberi perhatian pada bambu.

Wakil Presiden Jusuf Kalla, September 2016, mencanangkan penanaman 10 juta rumpun bambu di Sulawesi Selatan, dan 100 juta rumpun bambu di seluruh Indonesia. Sejak 2011, KLHK menyediakan dana alokasi khusus bagi kabupaten atau kota di Jawa-Bali, untuk penanaman bambu minimal 10 hektar di tiap wilayah. Namun, selama belum ada regulasi nasional menyebut bambu pada penanganan bencana, Elizabeth menilai itu berarti pemerintah belum melirik bambu. Sebab, tidak ada payung hukum tentang itu. Ia melengkapi rekomendasi kebijakan penanganan banjir dan longsor dengan resep rinci cara tanam bambu.

Untuk area sempadan, jenis bambu yang cocok ialah Bambusa vulgaris atau bambu ampel, serta Bambusa vulgaris var. striata (bambu ampel kuning atau bambu kuning), ditanam 5 meter dari bibir air sungai. Bambu jenis itu tahan terendam air hingga 5 bulan. Mukoddas menambahkan, jarak antarbibit bambu ampel atau bambu suling minimal 3 meter. ”Nanti akan jadi rumpun dan menyatu,” ujarnya. Di Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua, ada jenis bambu dengan ketahanan serupa yang cocok bagi hulu dan sempadan sungai, yakni bambu loleba atau Neololeba atra.

Area tebing
Elizabeth juga mengusulkan penanaman bambu di tebing, dengan jenis Schizostachyum iraten (buluh suling, buluh tamiang), S silicatum (buluh suling), dan S lima (buluh toi). Dengan diameter batang mini, itu tahan ditanam di tebing. Bambu bagi konservasi sungai sebaiknya tidak untuk kebutuhan ekonomi. Pengambilan batang dibatasi, sepertiga jumlah batang tiap rumpun bambu per tahun. Bambu bagi kepentingan ekonomi, misalnya bambu betung, bisa ditanam 5-8 meter dari bambu sempadan sungai. Tentu, tak ada solusi tunggal. Penanaman bambu itu harus disertai penegakan rencana tata ruang dan wilayah. Saatnya bambu jadi bagian dari solusi.

J Galih Bimantara

Sumber: Kompas, 3 Januari 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: