Home / Berita / Produktivitas kerja; Dilarang Galau

Produktivitas kerja; Dilarang Galau

DALAM sumur bisa diukur, dalam hati orang siapa tahu. Namun, demi kelancaran pekerjaan, ribuan pegawai Huawei Manufacturing Centre di Songshan Lake, Shenzhen, China, diharapkan tidak pernah menutup-nutupi kondisi perasaan dan pikirannya. Semua masalah harus dibicarakan, semua beban pikiran harus diringankan. Intinya: dilarang galau agar hidup dan pekerjaan tidak semakin kacau.

Keterbukaan mengungkapkan perasaan itu ditunjukkan dengan menempel gambar emoticon, bundaran kuning serupa wajah orang dengan beragam ekspresi atau yang biasa disebut dengan Mr Smiley. Jika merasa sedih cukup tempelkan gambar emoticon dengan garis mulut ke bawah, emoticon senyum untuk perasaan hati yang gembira, dan gambar garis mulut datar untuk situasi hati yang biasa-biasa saja.

Semuanya menggambarkan dengan jelas suasana hati karena gambar di atas gambar emoticon tersebut terpajang foto dan nama karyawan yang bersangkutan. Semua gambaran perasaan itu ada dalam papan putih yang disediakan oleh perusahaan di setiap divisi. Papan inilah yang terus dipantau oleh masing-masing pimpinan di setiap divisi.

”Karyawan yang diketahui sedang sedih biasanya akan dipanggil pimpinan, dan harus melalui sesi konseling terlebih dahulu sebelum kembali bekerja,” ujar Zhang Huang atau yang akrab disapa Nana, Human Resources Specialist di Huawei Manufacturing Centre.

Dalam sesi konseling ini, pimpinan akan berlaku sebagai pendamping sekaligus teman. Sekalipun belum tentu bisa memberikan solusi jitu, sesi konsultasi dan curhat ini diharapkan bisa membantu meringankan beban pikiran karyawan sehingga dapat melanjutkan kerja dengan perasaan yang lebih baik.

Namun, lain orang, lain masalah, lain pula metode dan perlakuan yang bisa diterapkan. ”Jika memang masalah yang dihadapi sangat berat, sangat membebani pikiran, dan tidak cukup diselesaikan dengan konseling, maka karyawan yang bersangkutan juga bisa meminta izin tidak masuk kerja,” ujarnya.

Menurut Nana, perasaan karyawan sangat penting untuk diperhatikan karena pekerjaan yang dilakukan sehari-hari sebenarnya sudah memiliki tingkat stres yang tinggi. Dalam proses produksi port circuit board (PCB) misalnya, setiap karyawan harus mencurahkan segenap konsentrasi agar tidak melakukan kesalahan dalam memasang komponen-komponen kecil seperti kabel atau kawat tipis kecil, mini USB port, dan lain sebagainya.

”Setiap karyawan tidak boleh lengah. Setiap orang di sini harus benar-benar berkonsentrasi menjalankan pekerjaan karena kesalahan yang dilakukan oleh satu orang bisa berlanjut, berdampak pada rangkaian proses produksi di divisi lain,” ujarnya.

Tidak hanya soal mood, lazimnya dalam sebuah perusahaan, pencapaian prestasi karyawan juga dipantau. Penilaian kerja juga dilakukan setiap hari dan juga bisa dilihat oleh karyawan lain karena ikut terpampang di papan putih yang sama, bersama dengan si Mr Smiley.

Meninggalkan format lama seperti tabel, data penilaian kerja itu disusun dalam bentuk buah anggur atau yang disebut dengan grapery columns. Setiap butir buah diberi nomor 1 hingga 31 yang menjadi penanda tanggal setiap bulan.

Jika buah tersebut tetap dibiarkan putih, maka berarti karyawan tersebut bekerja normal atau biasa-biasa saja. Jika berprestasi bagus, maka pada bulir hari yang dimaksud akan diwarnai hijau, dan sebaliknya jika berprestasi buruk atau melakukan kesalahan, maka bulir akan diberi warna hitam. Dengan cara ini, karyawan yang bersangkutan ataupun rekan-rekannya yang juga melihat grapery columns ini akan semakin terpacu untuk meningkatkan prestasi dirinya masing-masing.

Kenyamanan kerja
Huawei Undergraduate Work Experience ProgramDi tengah padatnya aktivitas di pabrik, demi kenyamanan kerja, karyawan pun berkesempatan mendapatkan waktu untuk sedikit berelaksasi, dua kali dalam sehari, di luar waktu istirahat makan siang, yaitu pada pukul 10.30 dan pukul 15.30 waktu setempat.

Dalam kesempatan ini, para karyawan di satu divisi bisa bekerja dengan lebih santai dengan mengobrol bersama rekan-rekannya atau menyetel musik keras-keras. Jenis lagu atau musik apa yang akan didengarkan tentu saja tergantung pada kesepakatan, bisa merupakan musik tradisional China yang menenangkan atau lagu-lagu Barat, yang semuanya bisa mengajak semua karyawan untuk ikut bersenandung kecil sembari bekerja.

Tidak ada alasan khusus kenapa Huawei menerapkan metode relaksasi seperti ini dalam bekerja. Namun, Nana menganggap ini sebagai hal yang lumrah saja. ”Setiap pekerja pasti butuh relaks sejenak. Jika tidak dia pasti meledak dan protes kepada bosnya,” ujar Nana tersenyum.

Kesempatan relaksasi bahkan juga dirasakan oleh 15 mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Telkom yang mengikuti program pelatihan kerja selama dua minggu di Huawei.

Rochmad Nurul Hidayat (25), peserta dari ITB, mengatakan, dalam pelatihan yang berlangsung sekitar 8-9 jam per hari, di luar jam makan siang, dia dan teman-temannya mendapatkan dua kali waktu istirahat, selama sekitar 10 menit.

Dalam kesempatan itu, setiap peserta diperbolehkan bertanya apa saja kepada pelatih, baik itu menyangkut materi pelatihan ataupun hal-hal lainnya.

”Kepada trainer (pelatih), kami bisa bebas bertanya apa saja, termasuk tentang tradisi dan makanan enak di China,” ujarnya.

Agar lebih rileks, pada jam istirahat itu setiap peserta juga bisa mengobrol sembari minum dan menyantap buah-buahan yang sudah disediakan oleh perusahaan.

Namun, tentu saja hal itu tidak mengabaikan keseriusan dalam bekerja. Menurut dia, selama berada di tempat kerja setiap karyawan juga menunjukkan profesionalitasnya dengan berlaku disiplin dan serius bekerja.

”Bekerja dan beristirahat memiliki porsi waktu sendiri-sendiri,” ujarnya.

Pengaruh ”mood”
Kondisi perasaan dan jiwa tetap memegang kendali atas diri kita. Oleh karena itu, baik buruknya mood juga akan berdampak pada baik dan buruknya apa yang kita kerjakan.

Seperti dilansir oleh sebuah media online, sosiolog dari Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, mengatakan, seseorang yang berada dalam kondisi senang, secara otomatis akan memiliki produktivitas tinggi dalam segala aktivitasnya, termasuk dalam pekerjaan.

”Agar lebih produktif, semestinya setiap orang lebih sering memelihara good mood dibanding bad mood,” ujarnya.

Nancy Rotbard dan Steffanie Wilk, masing-masing adalah profesor dari Wharton University of Pennsylvania dan Fisher School Of Business di Ohio State University, Amerika Serikat, pernah meneliti tentang pengaruh mood terhadap kinerja karyawan di sejumlah perusahaan asuransi di Amerika pada tahun 2006. Dalam salah satu kesimpulannya, mereka menyebutkan bahwa mood berperan besar terhadap kinerja dan produktivitas karyawan.

Mereka mengatakan, mood di saat awal memulai hari akan berpengaruh kuat dan bisa berlaku konsisten, menentukan pencapaian seorang karyawan dalam satu hari. Namun sayangnya, hal ini sering kali kurang diperhatikan oleh manajemen perusahaan di tempat kerja.

Hal itu tercantum dalam laporan hasil penelitian mereka yang berjudul Walking in the Door: Sources and Consequences of Employee Mood on Work Performance sebagaimana dilansir dalam situs Wharton University of Pennsylvania tahun 2006.

Menurut penelitian mereka, yang paling berpengaruh adalah mood yang sudah dibawa sejak dari rumah, dan bukan mood yang tercipta saat berada di lingkungan kerja. Menyikapi ini, pimpinan atau manajemen perusahaan semestinya sedikit turun tangan, memberikan konseling, nasihat bagaimana mengatasi beragam masalah pribadi, termasuk masalah keluarga.

Situasi hati yang buruk atau bad mood adalah sesuatu yang terjadi di luar kendali dan tidak bisa dihindari. Namun, bad mood barangkali juga diperlukan, sekadar sebagai pembuktian, mengingatkan pihak perusahaan, bahwa di luar lilitan target dan standar operasional prosedur yang harus dipenuhi, karyawan tetap bukan mesin. Pekerja juga manusia….(REGINA RUKMORINI)

Sumber: Kompas, 15 Januari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: