Home / Berita / Potensi Bencana Kian Tinggi

Potensi Bencana Kian Tinggi

Data Baru Potensi Gempa Lebih Besar dari Prediksi
Hujan pada Juni yang tak lazim memicu banjir dan longsor di sejumlah daerah. Sementara banjir rob dan air pasang terjadi di kawasan pesisir Kejadian itu menambah panjang dominasi bencana jenis hidrometeorologi di Indonesia sejak 2002.

Pantura Jawa Barat Rawan Banjir dan Rob

Hampir seluruhwilayah di pantai utara Jawa Barat, yang meliputi daerah pesisir Kabupaten Cirebon dan Indramayu, termasuk daerah rawan bencana, seperti air laut pasang atau rob dan banjir. Namun, terdapat sejumlah masalah mitigasi bencana, antara lain pemecah ombak yang tak bekerja maksimal hingga belum terbentuknya badan penanggulangan bencana daerah di Cirebon.

Meskipun kini daerah tersebut tak terdampak rob seperti yang terjadi di pantura Jawa Tengah, pesisir pantura Jabar masih berpotensi terkena rob. Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Indramayu, setidaknya terdapat empat kecamatan di Indramayu yang rawan rob, yakni Kecamatan Juntinyuat, Sukra,Kandanghaur, dan Cantigi.

”Saat ini, kami selalu menyiagakan perahu untuk menjaga keselamatan warga yang berada di daerah rawan rob,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Indramayu Edi Kusdiana kepada Kompas, Sabtu (11/6) di Indramayu.

Apalagi, pekan lalu banjir limpasan air laut ke darat sempat terjadi di wilayah pesisir Eretan, Kecamatan Kandanghaur. Menurut Edi, meskipun rob sempat menyentuh pekarangan rumah warga, kejadian tersebut hanya berlangsung satu jam dan ketinggian di bawah 50 sentimeter. Tidak ada korban dan warga yang diungsikan saat itu.

”Wilayah Eretanpaling sering terkena rob, hampir setiap tahun, tetapi hanya sebentar dan tidak mengganggu warga,” lanjut Edi. Bahkan, pada awal 2000-an, lanjut Edi, tempat relokasi untuk warga Eretan sudah disiapkan.

Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan setidaknya lima warga yang juga relawan di daerah rawan rob tersebut. Dengan begitu, jika terdapat potensi rob, relawan tersebut dapat mengevakuasi warga dan segera menghubungi BPBD Indramayu.

”Kami juga akan mengumpulkan sekitar 2.000 warga untuk membicarakan penanganan bencana, termasuk rob,” ujar Edi. Selain di Eretan, Desa Cemara, Kecamatan Cantigi, dan pesisir Limbangan serta Tirtamaya, Kecamatan Indramayu, juga berpotensi rob.

Antisipasi rob di wilayah tersebut juga dilakukan dengan membuat pemecah ombak atau breakwater. Namun, sejumlah pemecah ombak itu tak bekerja maksimal.

Sesuai pantauan Kompas, Sabtudi pesisir Limbangan, saat air laut pasang,bebatuan yang menjadi pemecah ombak bergeser dari barisan pemecah ombak. Bahkan, ombak mampu melompati pemecah ombak tersebut.

efbde51cd55f4e72aaf9f140760f87bcPemecah ombak itu setidaknya berjarak 10 meter dari rumah warga. Meskipun sudah ada tanggul yang terbuat dari batu-batu cadas yang membatasi air laut dengan rumah warga, saat gelombang cukup tinggi, air nyaris menyentuh pekarangan rumah warga. Apalagi, ratusan rumah permanen berada di pesisir sepanjang sekitar 1 kilometer itu.

Kondisi serupadapat ditemui di pesisir Pantai Tirtamaya. Menurut Zainul Amin, pengelola, akhir 1980 air pasang laut terjadi seiring dengan abrasi. Belasan rumah tersapu air laut. Jarak pintu masuk hingga air pasang yang semula 146 meter, dalam 20 tahun terakhir, terus menyempit hingga hanya sekitar 15 meter. Padahal, Pantai Tirtamaya bakal menjadi arena untuk subcabang olahraga renang perairan dalam PON Jabar 2016.

Kondisi tersebut diklaim sebagai gejala alam. Namun, berdasarkan pendapat warga setempat yang dicatat Kompas, kondisi tersebut dipicupembangunan zona industri yang terletak di tepi pantai Indramayu. Pembangunan itu membutuhkan banyak pasir untuk memadatkan lahan yang sebagian besar masih berupa tanah dan lumpur. Kebutuhan pasir akhirnya dipenuhi dengan melakukan penambangan pasir laut secara besar-besaran. Pasir di Tirtamaya termasuk yang ditambang (Kompas, 18/11/2000).

Tidak hanya air laut pasang yang mengancam Indramayu. Bencana banjir juga nyaris setiap tahun terjadi di lumbung padi nasional itu. BPBD Indramayu mencatat, terdapat 20 dari 31 kecamatan di Indramayu yang rawan banjir. Banjir dipicu musim hujan dan luapan Sungai Cimanuk. Bahkan, saat 2014banjir parah melanda pantura Jabar. Ribuan rumah terendam dan arus lalu lintas di jalur logistik nasional itu sempat terhenti. Meski demikian, saat musim kemarau sedikitnya 13 kecamatan dan 58 desa krisis air bersih.

Di Kabupaten Indramayu, banjir juga rawan terjadi. Wilayah Cirebon bagian timur yang juga menjadi daerah hilir Sungai Cisanggarung dan anak sungainya dapat menyebabkan banjir ketika sungai tersebut meluap akibat hujan deras. Maret lalu, ratusan rumah tergenang di Desa Gebang Udik, Kecamatan Gebang, Cirebon.

Menurut Deddy Madjmoe, aktivis lingkungan dari Petakala Grage, banjir juga dapat dipicurob yang menahan luapan sungai sehingga daerah pesisir semakin tergenang. Apalagi, lautan pantura di Cirebon memiliki beberapa muara sungai. Terdapat 18 daerah aliran sungai di Cirebon. ”Lima tahun lalu, rob sampai ke Balai Desa Ambulu, Kecamatan Losari, tanpa ada hujan di hulu sungai,” ucap Deddy.

Deddy mengatakan, penanganan banjir tidak hanya selesai dengan menormalisasi tanggul di daerah hilir, yakni Cirebon. ”Penanganan di wilayah hulu juga harus dilakukan. Di Kuningan, daerah hulu, kawasan resapan air dialihkan menjadi galian pasir, padahal ini memicu pendangkalan sungai,” ujarnya.

Di saat yang sama, Kabupaten Cirebon sampai kini belum memiliki BPBD. Pemerintah setempat sebelumnya menargetkan pembentukan BPBD awal tahun ini. ”BPBD harus secepatnya dibuat karena potensi bencana Cirebon sangat kompleks. Cirebon menempati urutan kesembilan yang rawan bencana di Jabar. Secara nasional, Cirebon urutan ke-44,” ungkap Deddy.

Di pesisir Kota Cirebon, nelayan kian sulit membaca gejala alam. Darsono Sumantri, nelayan di kawasan Cangkol, Lemahwungkuk, mengatakan, saat ini seharusnya musim angin timur. Artinya, gelombang tinggi seperti saat angin barat tak terjadi. Bahkan, pada Jumat subuh gelombang sempat mencapai 5 meter.”Kemarin (Jumat), seharian gelombang tinggi terjadi. Enggak tahu, musimnya sekarang berubah-ubah,” ucapnya.

Di Kabupaten Kuningan, bencana longsor mengintai. Kuningan menjadi kawasan rawan longsor, salah satunya dipicuwilayah yang didominasi perbukitan. Longsor mendominasi bencana di Kuningan, yakni sekitar 80 persen. Ketika curah hujan tinggi, dari Januari hingga kini BPBD Kuningan mencatat paling tidak tercatat ada 60 kasus longsor di Kuningan yang menyebabkan seorang korban tewas.

Angka tersebut setengah dari jumlah longsor pada 2015 yang dicatat BPBD Kuningan, yakni 120 kasus longsor. Setidaknya, terdapat 11 kecamatan yang rawan longsor di Kuningan.

Kepala BPBD Kuningan Agus Mauludin mengatakan, pihaknya memasang perangkat sistem peringatan dini (early warning system/EWS) untuk mengantisipasi bencana longsor. Relawan pun ditempatkan di kawasan rawan longsor. ”Saat kemarau, kami mempersiapkan antisipasi kebakaran hutan yang biasanya terjadi di sekitar Gunung Ciremai,” ujar Agus.

Selain itu, bencana geologi berupa gempa bumi dan letusan gunung api juga bisa terjadi tiba-tiba dan sangat mematikan. Apalagi, riset terbaru menemukan potensi gempa bumi di sejumlah wilayah lebih tinggi dari perhitungan sebelumnya.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 6 Juni 2016, terjadi 978 kejadian bencana yang menyebabkan 154 korban jiwa dan 1,6 juta jiwa terdampak serta mengungsi. Hal itu menyebabkan kerusakan 14.500 rumah dan 462 unit fasilitas umum.

”Sebanyak 95 persen bencana tahun ini adalah jenis hidrometeorologi, meliputi banjir, longsor, dan puting beliung. Longsor jadi jenis bencana paling mematikan dengan menelan 53 korban jiwa,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Minggu (12/6).

Berdasarkan pantauan di sejumlah daerah, banjir rob menggenangi daerah pesisir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Lampung memprediksi gelombang tinggi dan banjir rob di perairan Lampung terjadi hingga Juli.

Di Kota Bandar Lampung, banjir rob membawa sampah dari laut ke daratan. Tumpukan sampah menggunung di tepi pantai di Kelurahan Sukaraja meski banjir rob yang menggenangi daerah itu 10 hari terakhir surut. Banjir rob juga merusak infrastruktur jalan di wilayah itu.

Total frekuensi bencana dan jumlah korban ataupun kerusakan bangunan hingga pertengahan 2016 sebenarnya turun hampir separuh dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di paruh terakhir tahun ini, frekuensi bencana, khususnya bencana hidrometeorologi, dikhawatirkan naik menyusul prediksi menguatnya La Nina atau musim kemarau basah.

Kepala Bidang Informasi Perubahan Iklim BMKG Nasrullah mengatakan, fenomena anomali cuaca La Nina kemungkinan baru akan tiba pada Juli. ”Kini menuju ke sana. Banjir di sejumlah daerah menjadi fenomena transisi musim hujan ke musim kemarau,” ujarnya.

Jika dipastikan terjadi La Nina dibarengi dipole mode negatif, suhu muka laut Indonesia sedikit hangat sehingga terjadi fenomena ”kemarau basah” itu. Konsekuensinya, ada tambahan uap air di permukaan Indonesia yang menyebabkan turun hujan pada musim kemarau tahun ini.

Daerah yang diprediksi mengalami curah hujan di atas normal pada musim kemarau, Juli-September 2016, antara lain Sumatera Utara bagian barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa bagian barat, Kalimantan Utara dan Tengah, serta Papua.

Bencana geologi
Meski sejak 2002 bencana hidrometeorologi mendominasi frekuensi dan jumlah korban meninggal di Indonesia, bencana geologi berupa gempa bumi, tsunami, longsor, banjir bandang, dan letusan gunung api harus terus dipantau karena sifat bencana itu sulit diprediksi dengan skala kehancuran masif, seperti saat gempa dan tsunami di Aceh pada 2004 yang menewaskan lebih dari 160.000 jiwa.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kasbani, kerawanan bencana geologi itu terkait letak Indonesia yang secara geologi di pertemuan tektonik atau zona tumbukan tiga lempeng utama, yakni lempeng Hindia atau Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Indonesia ada di jalur cincin api Pasifik, lintas gunung api teraktif di dunia, dan memiliki 127 gunung api.

Bencana gempa dan longsor pun mengintai di sejumlah daerah. Letusan gunung api mengancam pula. Misalnya, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut, enam tahun terakhir ini belum ada tanda penurunan aktivitas. Akibatnya, 9.319 warga masih mengungsi.

Apalagi, riset terbaru menemukan data baru potensi gempa bumi berkekuatan lebih besar dari peta gempa bumi nasional. Sebagian sumber gempa berpotensi menimbulkan dampak pada kota-kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta dan Surabaya.

”Memang ada data baru merevisi potensi gempa sebelumnya yang dianggap terlalu tinggi, misalnya di sesar Cimandiri (Jawa Barat) potensinya lebih kecil dari prediksi sebelumnya. Umumnya temuan di daerah lain menunjukkan potensi gempa lebih besar dari sebelumnya,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, yang terlibat dalam revisi peta gempa nasional.

Terkait temuan dasar kegempaan, menurut Irwan, sejumlah ahli dan pemerintah kini merevisi peta gempa nasional. Data baru sumber gempa yang diusulkan masuk revisi peta nasional terutama zona Banda-Flores, sesar Sumatera, sesar di Pulau Jawa, gempa dari zona subduksi di selatan Jawa, dan sesar aktif bagian utara laut Bali hingga daratan Jawa bagian utara.

Salah satu yang menjadi perhatian utama untuk direvisi ialah sumber gempa di selatan Jawa yang bisa berdampak pada ibu kota Jakarta. Data menunjukkan, kota ini pernah hancur akibat gempa bumi pada 1699. Selain dari sesar Baribis yang memicu gempa merusak pada 1780, gempa kemungkinan juga dari zona subduksi selatan Jawa dengan kekuatan lebih besar dari hitungan sebelumnya. ”Data terbaru, gempa subduksi di selatan Jawa kekuatan minimal M 8,5, dari sebelumnya diperkirakan maksimal M 8,1,” kata Irwan.

Riset oleh ahli paleotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Eko Yulianto, di selatan Jawa menemukan jejak tsunami besar. ”Kami menemukan deposit tsunami raksasa di daerah Binuanguen, Kabupaten Lebak dan di Widoropayung, Cilacap, periode hampir bersamaan, 300 tahun lalu,” ujarnya.

Dengan menghitung jarak lokasi temuan deposit tsunami itu, yakni lebih dari 500 km, gempa pemicunya diperkirakan amat kuat. ”Panjang rupture pemicu tsunami setara gempa Sendai, Jepang, tahun 2011. Perkiraan gempa di atas M 9,” katanya.

Data baru dengan sumber potensi gempa lebih besar dari prediksi menuntut fokus lebih besar pada mitigasi. Apalagi, sejumlah gempa kecil memicu kepanikan, seperti gempa M 7,8 di Samudra Hindia, 2 Maret 2016, yang memicu kepanikan di Kota Padang. (AIK/SEM/WSI/IKI/JOG/CHE/VIO)

————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Juni 2016, di halaman 1 dengan judul “Potensi Bencana Kian Tinggi”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: