Home / Berita / Ponsel 4G Sudah Membanjir

Ponsel 4G Sudah Membanjir

Kehadiran teknologi seluler generasi keempat atau Long Term Evolution sudah dirintis operator telekomunikasi sejak awal tahun meski dengan wilayah masih terbatas. Dari sisi konsumen, satu hal yang masih tersisa adalah memanfaatkan teknologi tersebut dengan perangkat yang sesuai mengingat tidak semua telepon seluler bisa bekerja di jaringan 4G.

Kuncinya terletak pada chipset yang dipergunakan, belum semua yang ada di pasaran ataupun yang diluncurkan sudah mampu bekerja di jaringan 4G. Kalaupun bisa, masih ada beberapa perbedaan berupa tingkatan yang menggunakan istilah “Cat” untuk menunjukkan kategori kecepatan internet yang bisa dipergunakan.

Saat ini perangkat dengan Cat tertinggi di pasar Indonesia seperti Galaxy Note 5 dari Samsung dengan Cat 6 yang berarti bisa menangani kecepatan maksimal 200 megabit per detik.

Para produsen ponsel juga menangkap perkembangan teknologi di Tanah Air ini dengan meluncurkan produk dengan berbagai rentang harga. Dari produk yang paling terjangkau hingga premium, semua sudah tersedia.

Salah satunya adalah Polytron, produsen elektronik asal Indonesia yang meluncurkan Zap 5, ponsel dengan prosesor berarsitektur 64 bit buatan Qualcomm dan kapasitas penyimpanan internal 1 gigabit yang dijual dengan harga Rp 1,1 juta. Begitu pula dengan ponsel Powerphone E1 yang diluncurkan Intenux selaku penyedia internet Bolt! bisa didapatkan dengan harga yang sama.

Rentang harga Rp 2 juta hingga Rp 3 juta dijejali oleh pelaku kawakan industri ponsel global. Beberapa tipe dengan spesifikasi tinggi, tetapi dengan harga terjangkau umumnya berada di rentang harga ini, seperti Redmi 2, Infinix Zero 2, atau Meizu M2. Diikuti oleh rentang harga di bawah Rp 5 juta seperti Asus Zenfone 2 atau Lenovo Vibe Shot.

Kelas premium selain produsen Samsung juga penuh oleh produk seperti Huawei, atau Oppo. Pilihan yang terbuka lebar ini memungkinkan konsumen dengan berbagai kemampuan daya beli untuk tetap bisa mengakses produk dengan jaringan 4G di pasar.

c263cab9be414e018be9a0561831c875KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–CEO XL Axiata Dian Siswarini berbincang dengan rekannya di Surabaya menggunakan perangkat telepresence secara langsung memanfaatkan jaringan internet seluler generasi keempat, Selasa (22/9). XL Axiata bersama operator telekomunikasi lainnya terus memperluas wilayah yang dilayani teknologi 4G di Indonesia, terutama dengan rampungnya penataan frekuensi 1800 Mhz di sebagian provinsi Tanah Air.

Pilihan lain yang tidak ingin sekadar mengganti ponsel hanya untuk menikmati layanan 4G adalah memanfaatkan perangkat mobile WiFi atau MiFi. Beberapa operator, misalnya Smartfren atau Bolt!, menyediakan produk MiFi dengan layanan 4G mereka untuk dipakai sehingga pengguna tetap bisa memanfaatkan internet berkecepatan tinggi di beberapa perangkat sekaligus.

Frekuensi 1800 Mhz
Indonesia mengawali layanan 4G di jaringan 900 Mhz pada awal tahun ini. Meski menggembirakan, ada satu kendala yang mau tidak mau dihadapi, yakni keterbatasan ekosistem perangkat yang tersedia di pasaran. Saat itu, ponsel yang diklaim mampu beroperasi di jaringan 4G minimal hanya bisa di frekuensi 1.800 Mhz, sementara frekuensi tersebut belum bisa dipergunakan karena penempatan blok frekuensi belum ditata.

Kebijakan penataan atau refarming yang digulirkan mulai Mei lalu dilakukan secara perlahan oleh para operator telekomunikasi, yakni Telkomsel, XL Axiata, Indosat, dan Hutchinson 3 mulai dari kawasan paling timur di Indonesia. Pada tanggal dan waktu yang disepakati, penataan dilakukan secara bersamaan oleh operator telekomunikasi di satu daerah.

Caranya, mereka bertukar tempat blok frekuensi pada saat yang bersamaan sehingga hasil akhirnya adalah blok frekuensi yang lebih rapi. Dengan blok yang lebih panjang, mereka memiliki kapasitas lebih besar untuk memberikan internet yang cepat bagi konsumen. Misalnya XL Axiata yang memiliki pita selebar 7,5 Mhz di frekuensi 900 dan dialokasikan 5 Mhz untuk 4G, sementara mereka memiliki 20 Mhz lebih di frekuensi 1800 Mhz.

Tidak semua wilayah yang selesai ditata langsung diumumkan layanan 4G secara komersial mengingat operator telekomunikasi juga memiliki perhitungan bisnis akan permintaan dan investasi yang harus dilakukan. Ambil contoh XL Axiata yang menggelar layanan 4G di frekuensi 1800 Mhz pertama di Lombok, baru dilanjutkan oleh Denpasar dan Surabaya pada September ini. Sebelumnya mereka sudah menggelar layanan 4G dengan frekuensi 900 Mhz di Bogor, Medan, dan Yogyakarta.

Begitu pula dengan Telkomsel yang sudah menggelar layanan di Jakarta, Denpasar, Medan, Surabaya, Mataram, dan Bandung menggunakan frekuensi 900 Mhz, sementara Makassar menjadi kota pertama yang dilayani 4G dari frekuensi 1800 Mhz. Begitu refarming selesai, semua kota nantinya akan dialihkan ke frekuensi 1800 Mhz.

Bolt yang hanya memiliki lisensi broadband wireless access di Jabodetabek dan Sumatera Utara juga tak ketinggalan untuk menggelar layanan meski terbatas untuk internet saja. Akhir tahun ini mereka berniat melebarkan layanan dari Medan ke Banda Aceh, begitu pula dari Ibu Kota ke kawasan Puncak.

Dengan pembangunan layanan dan ketersediaan ekosistem perangkat, tinggal konsumennya untuk memanfaatkan teknologi itu. Apakah hanya sebagai konsumen atau bisa menggunakannya untuk kemaslahatan bersama.–DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Oktober 2015, di halaman 28 dengan judul “Ponsel 4G Sudah Membanjir”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: