Home / Artikel / Polimiositis Penyebab Lumpuh Layuh

Polimiositis Penyebab Lumpuh Layuh

Polimiositis atau miositis multipel merupakan penyakit radang kronis  pada sekumpulan (poli atau multipel) otot tubuh dengan manifestasi utama berupa kelemahan anggota gerak terutama tungkai kanan dan kiri secara bersamaan.

Mayoritas kasus poli­miositis melanda pada usia 30 – 60 tahun. Hanya sebagian kecil melanda usia 15 tahun. Secara keseluruhan di negara maju, insidensi polimiositis per tahun diperkirakan 5-10 kasus per 1 juta penduduk. Sedangkan prevalensi mencapai 7 kasus per 100.000 penduduk. Prevalensi pada wanita sedikit lebih dominan ketimbang pria.

Polimiositis merupakan penyakit yang relatif sudah lama dikenal dalam khasanah medis modern. Polimiositis dideskripsikan pertama kali oleh Wagner tahun 1863. Kala itu, penyakit ini dikategorikan idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya (misterius). Kini, proses autoimun dikaitkan sebagai penyebab yang penting.

Secara teori medis, polimiositis merupakan penyakit peradangan (inflamasi) pada sekumpulan otot tubuh. Khasnya penyakit ini adalah kelemahan otot antara bagian tubuh kanan dan kiri terjadi secara bersamaan (simetris). Berbeda dengan penyakit stroke di mana anggota gerak mengalami kelumpuhan secara drastis dalam hitungan jam, pada polimiositis progresivitas ‘lumpuh layuh’ berjalan perlahan dalam hitungan beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Awalnya penderita masih mampu berdiri tegak dari posisi duduk lalu melangkahkan kaki, tetapi dengan berjalannya waktu kemampuan ini semakin sirna dan akhirnya memilih menggunakan kursi roda.

Sementara itu, penyakit ini juga melanda berbagai organ dalam tubuh manusia sehingga menjadikan penyakit ini bersifat kompleks dan adakalanya luput didiagnosis sebagai polimiositis meskipun pasien datang dengan keluhan utama kelumpuhan pada kedua tungkai. Singkatnya, pada kasus kelemahan otot tungkai disertai gejala sesak napas dan irama denyut jantung yang tidak teratur (aritmia), anamnesis medis perlu diarahkan pada riwayat progresivitas (perburukan) kelemahan otot tungkai. Jikalau terfokus pada sesak napas dan aritmia, maka diagnosis gangguan jantung terbuka lebar. Sementara kelemahan otot dikategorikan akibat kurangnya aliran darah ke tungkai lantaran lemahnya kemampuan jantung untuk memompa darah.

Manifestasi Klinis

Gejala utama polimiositis didominasi oleh ketidakmampuan pasien berdiri dari posisi duduk, jongkok, atau berlutut. Begitu pula mengalami ke­sulit­an berjalan kaki dan naik turun tangga. Kelemahan pada otot lengan menyebabkan ketidakmampuan untuk menjumput benda dari permukaan lantai atau meja, serta kesulitan untuk menyi­sir rambut.

Selain otot-otot pada tungkai dan lengan, juga otot punggung, betis, bahu, leher dapat terkena. Kelemahan otot-otot pernapasan dalam skala ringan, namun pada beberapa kasus dapat me­ngakibatkan sesak napas akibat sulit bernapas. Otot wajah, lidah dan me­ngunyah terserang pada beberapa kasus.  Namun, otot pada organ mata praktis tidak terkena, kecuali pada kasus polimiositis yang komorbid dengan miastenia gravis. Pada 15 persen kasus disertai rasa nyeri akibat proses radang melanda jaringan ikat pada daerah bokong, betis dan bahu.

Demam atau infeksi ringan acapkali mendahului sebelum muncul manifestasi kelemahan otot. Berbeda dengan polimialgia yang disertai rasa nyeri waktu otot berkontraksi, kelemahan otot pada polimiositis rata-rata tanpa disertai rasa nyeri. Namun, pasien mengalami kesulitan mengingat-ingat kapan pertama kali serangan kelemahan otot terjadi, meskipun mengetahui kelemahan otot semakin parah seiring perjalanan waktu.

Polimiositis terkadang merupakan salah satu manifestasi dari tumor ganas (kanker). Pasalnya, sekitar 9 persen kasus polimiositis ternyata bersamaan (komorbid) dengan kehadiran tumor ganas.  Komorbiditas ini ditemukan pada saat penegakan diagnosis polimiositis hingga 5 tahun setelah diagnosis polimiositis dipastikan. Pada pria ter­kait dengan kanker paru dan usus besar. Sedangkan pada wanita ber­samaan dengan de­ngan kan­ker payudara dan ovarium.

Terapi dan Prognosis

Penegakan diagnosis selain dari anamnesis yang cemat dan manifestasi gejala klinis, juga perlu disokong dengan pemeriksaan laboratorium kadar enzim otot (kreatin kinase) dalam darah dan elektromiografi (EMG). Pemastian diagnosis lewat prosedur pemeriksaan histopatologis biopsi dari jaringan otot rangka yang mengalami kelemahan.

Meskipun penyakit ini termasuk langka dalam khasanah neurologi dan memiliki angka kematian sekitar 15 persen, namun amat potensial merampas produktivitas kerja dan kualitas hidup penyandangnya. Lantaran kelemahan otot terjadi pada kedua tungkai, penderita tidak dapat hidup mandiri. Di antaranya, memerlukan bantuan orang lain bila ingin mengambil posisi berdiri dari posisi duduk atau sebaliknya dari posisi berdiri ke posisi jongkok. Bila otot menelan ikut terserang, penderita berada dalam kondisi riskan untuk kekurangan asupan gizi lantaran gangguan menelan ma­kanan.

Penemuan kasus lebih dini dan pengobatan dengan imunosupresan (kortikosteroid) memberikan prognosis yang terbaik hingga remisi (kesembuhan) total. Namun, secara keseluruhan pemberian kortikosteroid  hanya efektif pada 20 persen kasus mengingat sebagian besar kasus polimiositis ditemukan pada saat kondisi penyakit sudah lanjut bahkan disertai komplikasi pada organ jantung (miokarditis) dan paru-paru (gagal napas).

Pada lanjut usia, polimiositis sering dianggap sebagai penyakit degeneratif biasa dan terjauhkan dari akses terapi yang memadai.  Konsekuensinya, pro­ses penyakit semakin parah di mana otot mengalami atrofi dan fibrosis yang mana dengan terapi apapun tidak memberikan respons yang memuaskan.

Polimiositis dapat melanda ibu hamil namun tidak berpengaruh buruk terhadap janin dalam kandungan, meskipun kadar kreatin kinase tetap abnormal hingga masa laktasi beberapa bulan setelah melahirkan.

Komorbid dengan malignansi (tumor ganas) memang memperburuk prognosis polimiositis. Maknanya, angka mortalitas meningkat signifikan pada pasien polimiositis yang juga menyandang tumor ganas. Namun, dengan terapi kanker, polimiositis lebih berpeluang mengalami remisi dan angka kematian dapat ditekan.  (11)

F Suryadjaja adalah dokter di Dinas Kesehatan Kabu­paten Boyolali

Sumber: Suara Merdeka, 23 januari 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Data Berkualitas untuk Indonesia Maju

Inkonsistensi data merupakan salah satu isu data yang penting di Indonesia, yang disebabkan antara lain ...

%d blogger menyukai ini: