Pluto Punya Laut Cair yang Tertutup Es Nitrogen

- Editor

Rabu, 22 Mei 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Planet katai Pluto memiliki lautan yang berisi air cair. Namun, lautan cair itu terkubur dan tertutup oleh lapisan es nitrogen tebal di permukaannya. Keberadaan lautan cair di planet katai itu membuat keberadaan lautan cair di ‘dunia’ lain di tata surya lain bisa menjadi hal yang umum.

“Itu berarti, ada lebih banyak lautan di alam semesta dibanding yang diperkirakan sebelumnya sehingga adanya kehidupan lain di luar Bumi adalah hal yang masuk akal,” kata ahli keplanetan dari Universitas Hokkaido, Jepang, Shunichi Kamata seperti dikutip space.com, Selasa (21/5/2019).

NASA/JHUAPL/SWRI–Citra dataran Sputnik Planitia di permukaan planet katai Pluto yang diambil wahana New Horizons milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat NASA selama terbang melintasi Pluto pada Juli 2015. Dataran Sputnik Planitia dilapisi oleh es nitrogen dan terdapat lautan air cair di bagian bawahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lautan cair Pluto itu terletak di bawah dataran es nitrogen yang dinamakan Sputnik Planitia. Dari citra wahana antariksa milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat NASA, New Horizons pada Juli 2015, Sputnik Planitia itu berupa cekungan besar dengan diameter sekitar 1.000 kilometer dan terletak di dekat khatulistiwa Pluto.

Permukaan Pluto memiliki temperatur antara minus 218 derajat celsius hingga minus 240 derajat celsius. Air akan membeku pada suhu 0 derajat celsius dan nitrogen membeku pada suhu minus 210 derajat celsius. Meski di permukaannya sangat dingin, namun air yang ada di bagian bawah lapisan hidrogen itu bisa bertahan dalam bentuk cair hingga sekarang.

Studi yang dilakukan Kamata dan rekan yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience, Senin (20/5/2019) mengusulkan susunan lapisan Sputnik Planitia yang membuatnya air di bagian bawahnya tetap terjaga dalam bentuk cair, tidak membeku.

Pada bagian atas atau di permukaan Pluto, ada lapisan es nitrogen. Di bagian bawahnya, berisi lapisan es yang kaya air. Setelah itu, terdapat lapisan klatrat hidrat atau gas hidrat. Baru setelah itu, terdapat lautan air cair yang berada di atas inti Pluto yang berbatu.

NATURE GEOSCIENCE/SHUNICHI KAMATA DKK–Struktur bagian dalam Pluto di bawah cekungan Sputnik Planitia. Lapisan gas hidrat di bagian dalam berfungsi sebagai isolator yang menjaga air di bagian bawahnya tetap cair dan di bagian atasnya membeku.

Gas hidrat itu berfungsi sebagai isolator termal antara lautan air di bagian bawah dan lapisan es di bagian atasnya. Isolator itu membuat air di bagian bawah tetap menjadi cair, sedangkan lapisan atasnya tetap membeku atau menjadi es.

Wujud dari gas hidrat itu adalah padatan seperti es yang terbentuk dari gas yang terjebak atau terperangkap dalam molekul air. Meski demikian, belum jelas apa komposisi gas yang terperangkap tersebut. Sejumlah ahli menduga, gas yang terperangkap itu adalah metana karena atmosfer Pluto sangat tipis yang miskin kandungan unsur-unsur kimia tertentu.

Dari simulasi yang dilakukan Kimura dan rekan, keberadaan lapisan gas hidrat yang mengungkung lautan air cair di bagian bawah itu membuat lautan itu tetap berbentuk air cair sejak Tata Surya terbentuk 4,6 miliar tahun lalu hingga sekarang. Jika lapisan gas hidrat itu tidak ada, maka lautan air cair Pluto akan membeku sejak ratusan juta tahun lalu.

Massa ekstra
Pengamatan New Horizons menunjukkan Sputnik Planitia terletak sejajar dengan sumbu pasang surut Pluto dengan Charon, satelit atau bulan terbesar Pluto. Gaya pasang surut antara Pluto-Charon terpusat di sekitar wilayah Sputnik Planitia karena terkonsentrasinya massa ekstra Pluto di wilayah itu.

NASA/JOHNS HOPKINS UNIVERSITY APPLIED PHYSICS LABORATORY/SOUTHWEST RESEARCH INSTITUTE–Wilayah Sputnik Planitia yang berada di dekat khatulistiwa Pluto. Di wilayah tersebut, terdapat sumbu gaya pasang surut antara Pluto dengan satelit terbesarnya, Charon.

Tambahan massa Pluto yang terkonsentrasi di dekat Sputnik Planitia itu diperkirakan berasal dari es nitrogen yang melapisi permukaannya dan air cair di lautan yang ada di bawah permukaannya.

Studi sebelumnya memperkirakan, Sputnik Planitia dan lautan air cair di bawahnya terbentuk setelah sebuah komet menumbuk Pluto. Tumbukan itu menghancurkan kerak Pluto, memicu naiknya air dari bagian dalam Pluto hingga menjadi lautan air cair Pluto. Sementara bagian permukaannya membeku menjadi lapisan es nitrogen.

Air cair di lautan Pluto tetap bertahan dalam bentuk cair sejak terbentuknya Tata Surya hingga kini karena Pluto tidak mengitari planet gas raksasa. Tidak adanya gaya tarik dari planet raksasa itu membuat bagian dalam Pluto tidak bergejolak. Selain itu, kecilnya gaya pasang surut yang ada membuat bagian dalam Pluto juga tidak mengalami pemanasan, seperti yang terjadi pada lautan di bawah permukaan satelit Jupiter ‘Europa’ dan satelit Saturnus ‘Enceladus’.

Dengan temuan adanya lautan cair di Pluto, Kamata yakin bahwa banyak benda langit lain, khususnya planet, planet katai, atau bulan dari planet dan planet katai, yang berpotensi memiliki lautan air cair di bawah permukaannya. Dengan adanya air cair itu, potensi adanya kehidupan di luar Bumi menjadi makin besar.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 22 Mei 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 29 Desember 2025 - 19:32 WIB

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:02 WIB

Gen, Data, dan Wahyu

Berita Terbaru

Berita

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Des 2025 - 19:32 WIB

Artikel

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Senin, 29 Des 2025 - 19:06 WIB

Artikel

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Des 2025 - 11:41 WIB

Artikel

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Des 2025 - 11:38 WIB

Artikel

Gen, Data, dan Wahyu

Jumat, 26 Des 2025 - 11:02 WIB