Plastik Mengepung Laut

- Editor

Rabu, 9 Mei 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CATATAN IPTEK
Suatu siang di akhir Oktober 2017, Pantai Bangsring di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur, mendadak penuh limbah plastik. Padahal, laut semula begitu bersih. Entah dari mana datangnya, segala jenis sampah plastik—dari bekas pembungkus detergen, minyak goreng, sedotan, gelas, hingga aneka kantong belanja—mengambang menutupi permukaan laut. Niat snorkling pun surut seketika.

Melihat muka-muka yang kecewa, awak perahu mencoba menenangkan. “Sabar, sabar sebentar. Nanti kalau arusnya berubah, sampah-sampah itu akan berpindah,” katanya.

Fenomena itu, ternyata sudah biasa mereka hadapi. Pada jam-jam tertentu, arus membawa sampah-sampah menyebar hingga ke tengah laut. Indonesia bisa dibilang salah satu raja sampah plastik dunia, nomor dua setelah China, yang merupakan negara pembuang sampah plastik terbanyak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut penelitian Jenna R Jambeck dan kawan-kawan dari Universitas Georgia yang dimuat di jurnal Science (2015), Indonesia hampir tidak mengolah limbah plastiknya sama sekali. Dari 3,8 juta ton sampah plastik, 3,2 juta ton berakhir di laut setiap tahunnya.

KOMPAS/VINA OKTAVIA–Nelayan di Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, menarik jaring payang di antara sampah plastik yang berserakan di laut, Sabtu (11/6/2016).

Program Lingkungan PBB (UNEP) yang juga membuat studi tahun 2015, menyebut 280 juta ton plastik diproduksi dunia setiap tahun. Dari jumlah itu, hanya sedikit yang didaur ulang. Akibatnya, dampak limbah plastik memicu kerugian hingga 13 miliar dollar AS setiap tahunnya.

Sampah plastik sangat mengganggu ekosistem laut. Menurut Clean Water Action, paling tidak 267 spesies terkena dampaknya. Termasuk di antaranya 86 persen spesies penyu laut, 44 persen spesies burung laut, dan 43 persen spesies mamalia laut. Gara-gara sampah plastik, para penghuni laut ini bisa mati karena tercekik, kelaparan, infeksi, bahkan tenggelam.

Tahun 2010, seekor paus kelabu (Eschrichtius robustus) mati terdampar di pesisir Puget Sound, Washington, Amerika Serikat. Hasil otopsi menunjukkan, perut paus itu berisi celana pendek, bola golf, lebih dari 20 tas plastik, handuk kecil, selotip, bahkan sepasang sarung tangan operasi.

Sampah plastik yang dibuang manusia ternyata berputar kembali dan akhirnya mengancam rantai makanan manusia. Tahun 2008, para ahli biologi kelautan mulai menemukan ikan-ikan yang menelan kepingan plastik. Dari 672 ikan konsumsi yang ditangkap dalam ekspedisi Pacific Gyre, pada 35 persen ikan ditemukan kepingan plastik dalam tubuhnya.

Upaya mengatasi
Sudah banyak upaya untuk mengurangi limbah plastik ini. Ocean Conservancy misalnya, sudah lebih dari 30 tahun telah berpartisipasi membersihkan pesisir dari plastik. Ocean Conservancv beranggotakan lebih dari 12 juta sukarelawan dari 153 negara, dengan tujuan akhir menurunkan jumlah plastik di lautan hingga setengahnya dalam satu dekade.

Di seluruh dunia, organisasi serupa terus berkembang. Sebutlah Blue Ventures, Project Aware, The Ocean Clean Up, dan seterusnya. Namun, meskipun organisasi-organisasi semacam ini sudah bertindak mulia, upaya membersihkan laut yang sudah tercemari limbah plastik tidak akan berhasil tanpa disertai kebijakan yang bersifat preventif dan menyeluruh.

Salah satu di antaranya adalah dengan mengubah habitus. Kebiasaan menggunakan benda-benda yang terbuat dari plastik tanpa kendali, perlu dievaluasi. Caranya bisa dengan membuat kebijakan dan lingkungan yang mendukung masyarakat agar sesedikit mungkin menggunakan benda dari plastik.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO–Tinggalkan Kantong Plastik – Warga membawa tas kain untuk mengganti kantong plastik saat berbelanja di Hypermart, Lippo Mall Kemang, Jakarta, beberapa waktu. Kesadaran masyarakat untuk beralih menggunakan kantong belanja yang dapat digunakan ulang bisa mengurangi pencemaran lingkungan terutama dari sampah plastik.

Kebijakan yang pernah ditempuh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk tidak menggunakan tas plastik misalnya, bisa dihidupkan kembali. Tentunya dengan perbaikan dan perluasan aplikasinya, tidak hanya di toko-toko ritel tetapi menyeluruh hingga ke pasar dan tukang sayur. Sementara upaya perbaikan, misalnya, bisa dengan mengembangkan insentif dan disinsentif dalam kebijakan ini.

Di sisi lain, para produsen kemasan plastik maupun pedagang penggunanya, didorong untuk menghasilkan dan menggunakan kemasan plastik yang mudah terurai di alam.

Namun, yang paling penting adalah bagaimana mengedukasi para konsumen, sekaligus mengajak mereka berkesadaran untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik. Keberhasilan mentransformasikan peran plastik yang begitu kuat dalam ekonomi, memang menjadi kunci.–AGNES ARISTIARINI

Sumber: Kompas, 9 Mei 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB