Planetarium dan Peraga Iptek Masih Diminati

- Editor

Rabu, 11 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Libur panjang akhir pekan di antaranya dimanfaatkan warga untuk mengunjungi wahana pengetahuan, seperti planetarium dan pusat peraga iptek. Namun, niat menambah wawasan terganjal alat peraga dan wahana yang masih diperbaiki.

Pengunjung Pusat Peragaan Iptek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berkurang hingga 50 persen. Petugas tiket, Rani, menyatakan, hingga pukul 14.00 baru sekitar 600 tiket terjual. “Kalau hari biasa, sehari 2.000 pengunjung. Hari libur biasanya 1.000,” ujarnya, Jumat (6/5).

Di PP Iptek, pukul 11.00-15.00, sebagian besar pengunjung adalah keluarga dengan anak-anak balita hingga remaja. Pengunjung mendominasi sejumlah alat peraga di lantai satu dan dua. Area yang ramai dikunjungi adalah area peneliti cilik, wahana listrik dan magnet, serta wahana getaran dan gelombang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantai tiga yang berisi wahana pandemik influenza dan flu burung serta ruang peneliti terlihat sepi tanpa pengunjung. Di lantai itu, wahana peraga influenza ditutup untuk umum karena kerusakan listrik. Arena zona ozon ditutup dengan tali pembatas tanpa pengumuman jelas.

Sri, pengunjung dari Bekasi, mengatakan, tujuannya mengajak kedua anaknya ke PP Iptek adalah agar mereka tahu alat-alat teknologi yang digunakan sehari-hari. “Lebih baik diajak ke sini biar pengetahuannya bertambah, sekalian memberikan pelajaran ke anak-anak,” ujar Sri.

Sementara itu, Eko Yuwani diajak anaknya kelas X SMA. “Dia hobi fisika. Saya sudah dua jam di sini,” ujar pengunjung asal Trenggalek, Jawa Timur, itu.

223331c4985c423ea5dc3974183cfa37ARETA ARLIZAR–Kristian, pemandu di Pusat Peraga Iptek Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, menyiapkan peluncuran roket air bersama pengunjung anak-anak, Jumat (6/5). PP Iptek menyediakan 13 program sains setiap hari bagi para pengunjung, termasuk peluncuran roket air yang diminati pengunjung.

Peragaan favorit pengunjung adalah peragaan roket air dan rumah simulasi gempa. “Ada juga wahana gyro extreme,” ujar Putri, petugas PP Iptek.

Sementara itu, sejumlah pengunjung Planetarium dan Observatorium Jakarta kecewa. Selain tanggal merah, tempat itu tutup karena ruang pertunjukan teater bintang dalam perbaikan.

Jumat pagi hingga siang, puluhan warga dari luar Jakarta mendatangi planetarium di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Namun, mereka tertahan di pintu masuk dan mendapat penjelasan dari petugas bahwa planetarium tutup.

Pada papan pengumuman di pintu masuk tertulis, planetarium hanya buka hari biasa, Senin-Jumat, untuk pameran astronomi dan peneropongan Matahari. Peneropongan Bulan dan Jupiter dilaksanakan enam kali sepanjang Mei, juga hari biasa. Pertunjukan teater bintang belum dibuka sejak Juli 2015.

Salah satu pengunjung, Tati (47), dari Bandar Lampung, datang bersama suami dan kedua anaknya. “Seharusnya libur tanggal merah tetap buka. Perbaikan peralatan pertunjukan juga terlalu lama,” katanya.

Pengunjung lain, Wepe (43) asal Bekasi, mengajak kedua anaknya. Ia tidak tahu planetarium tutup setiap tanggal merah. “Mau tidak mau memang harus cek website untuk mengetahui jadwalnya,” ujarnya.

Menurut Wepe, pertunjukan planetarium merupakan wisata murah meriah. Dengan Rp 12.000 per orang, pengunjung bisa berwisata sambil mendapatkan edukasi. “Jadi, liburan tidak sekadar jalan-jalan, tetapi lebih berbobot dengan mendapat ilmu pengetahuan,” ucapnya.

Petugas planetarium, Didin Rosidin, menjelaskan, sejak Juli 2015, ada kerusakan proyektor utama untuk pertunjukan teater bintang. Penanganan lama karena pihaknya menunggu kucuran dana APBD guna mendatangkan peralatan dari Jerman.

“Mesin sudah siap, tapi pertunjukan untuk umum belum dibuka. Teknisi masih terus mengecek agar alat bekerja optimal,” ujarnya. (C01/C03)
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Mei 2016, di halaman 14 dengan judul “Planetarium dan Peraga Iptek Masih Diminati”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB