Home / Berita / Pisang Indonesia Varietas Unggul Baru

Pisang Indonesia Varietas Unggul Baru

Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia merupakan pusat asal buah tropika, yang paling terkenal adalah pisang (Musa sp). Untuk memenuhi kebutuhan pasar dihasilkan beberapa varietas unggul, antara lain pisang Indonesia 03.

Pisang merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara, pusat keragamannya di wilayah Indo-Melanesia. Di Indonesia ditemukan 37 spesies dari total 76 spesies pisang di dunia. Spesies pisang yang banyak ditemukan adalah Musa acuminata yang tersebar dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Varietasnya antara lain bantamensis, malaccensis, dan sumatrana.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Warga memilih pisang di Pasar Buah Petekan Surabaya, Kamis (31/1/2019). Komoditas pisang yang dijual di pasar tersebut didatangkan dari Probolinggo serta Flores.

Dari spesies liar Musa acuminata kemudian terjadi persilangan alami dengan spesies Musa balbisiana yang banyak dijumpai di Asia Utara. Dari kawasan ini berbagai spesies pisang kemudian menyebar ke wilayah lain di Asia lainnya, Australia, Afrika, hingga Amerika.

Penyebaran tanaman ini ke seantero jagad ditunjang oleh beberapa kelebihan yang dimiliki tanaman ini, yaitu dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dengan tingkat keasaman dari pH 4,5 hingga 7,5, dapat hidup di pesisir hingga dataran rendah hingga tinggi, dan tahan di suhu udara sejuk 15 derajat celsius hingga hangat sampai 35 derajat celsius. Tanaman ini memerlukan kecukupan air, yaitu daerah dengan curah hujan 150 hingga 250 sentimeter per tahun.

Banyak manfaat
Meluasnya pembudidayaan tanaman hortikultura ini juga didorong oleh beragam manfaatnya. Dari segi kegunaan, semua bagian pohon pisang mulai dari akar hingga daunnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Buahnya pun banyak, berkisar 77 hingga 250 biji.

Di Indonesia, pisang adalah komoditas yang dibudidaya masyarakat di pedesaan. Mereka umumnya menanam pisang di sekitar rumah sebagai sumber makanan, obat-obatan, dan daunnya untuk pembungkus makanan.

Sedangkan di dunia, pisang diolah menjadi makanan fungsional menjadi bubur bayi, dan seratnya bahkan menjadi bahan baku kertas uang dan benang untung pakaian di Filipina. Di Afrika, buah pisang difermentasi menjadi minuman bir.

Buah pisang mengandung gizi dan mineral yang beragam, yang tinggi adalah kalium. Mineral ini berfungsi mengeluarkan mineral lain dalam urin sehingga mengurangi risiko batu ginjal. Zat besi di dalamnya dapat mengatasi anemia. Pisang juga memiliki efek antiasam sehingga dapat meredakan rasa perih di perut.

Pada buah ini ada tiga jenis gula, yaitu fruktosa, glukosa, dan sukrosa. Selama proses pemasakan pisang, rasio glukosa, fruktosa, dan sukrosa mencapai 20:15:65. Zat gula alami ini dapat diubah dengan cepat menjadi energi dalam tubuh. Buah ini juga merupakan sumber vitamin A (karoten), B (thiamin, niacin, riboflavin dan B6), dan C (asam askorbat).

Pisang juga kaya akan serat yang dapat mengatasi pengendapan lemak pada pembuluh darah yang menyebabkan penyakit jantung koroner. Selain itu, buah pisang juga mengandung banyak kalium (sekitar 400 mg per 100 g daging buah) untuk mengatasi tekanan darah tinggi. Dalam suatu pengujian di India, mengkonsumsi dua buah pisang setiap hari dapat menurunkan 10 persen tekanan darah dalam waktu seminggu.

Buah pisang juga paling mudah dicerna sehingga lebih banyak digunakan sebagai makanan bayi. Pisang juga mendapat tempat khusus untuk orang yang sedang diet makanan rendah lemak, kolesterol, dan garam. Kandungan natrium dalam buah pisang sangat rendah, sementara itu kandungan kaliumnya tinggi.

Karena kandungan lipidnya rendah dan kadar energinya tinggi, maka pisang dikonsumsi penyandang obesitas dan para manula. Buah ini pun diberikan untuk menterapi pasien radang dinding lambung, balita yang diare, penderita penyakit radang usus besar.

Varietas unggul
Dalam perkembangannya sebagai komoditas pangan yang diperdagangkan, dikembangkan varietas-varietas tertentu melalui proses seleksi, pemuliaan, persilangan, dan kultur jaringan. Hasilnya berupa bibit unggul yang cepat pertumbuhannya, memiliki buah banyak dan besar, rasanya manis, warna kulitnya kuning emas, tanah penyakit, dan tahan kondisi cuaca kering.

Dari beragam jenis pisang yang tergolong banyak digemari adalah pisang kepok, pisang raja, pisang mas, dan pisang tanduk. Pisang ini terus dikembangkan varietasnya.

Saat ini kultivar pisang yang dilepas sebagai varietas unggul antara lain pisang kepok samarinda yang lebih besar dari pisang kepok kuning pada umumnya. Ada juga pisang emas kirana, tumbuh di dataran tinggi Lumajang, yang memiliki cita rasa lebih manis dan kering. Kemudian, pisang agung semeru yang berbuah besar dan berwarna kuning oranye, dan daya simpan cukup panjang. Juga, pisang ameh pasaman yang memiliki cita rasa manis dan daging buah lebih kering dari pisang mas.

Masalah besar dalam budidaya pisang adalah serangan hama penyakit. Sekitar 24 organisme pengganggu tanaman pisang ada di Indonesia. Beberapa pisang komersial yang rentan penyakit ini adalah ambon kuning, raja serai, ambon hijau, barangan, mas.

Penyakit layu fusarium merupakan penyakit utama yang menyerang tanaman pisang segar (buah meja), selain penyakit layu bakteri yang sering disebut penyakit darah. Kerugian yang disebabkan penyakit fusarium dapat mencapai lebih dari 35 persen, dan celakanya cendawan itu dapat bertahan di dalam tanah hingga 30 tahun.

Untuk mengatasi permasalahan penyakit layu fusarium, mulai tahun 1999 Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika di Solok, Sumatera Barat melakukan persilangan antara pisang komersial dengan pisang liar yang toleran layu fusarium.

Dari beberapa persilangan, diperoleh satu progeni pisang yang toleran layu fusarium, yaitu Indonesia 03 atau INA 03. Keunggulan dari INA 03 selain toleran layu fusarium adalah tanaman tidak terlalu tinggi, cepat berbuah, dan citarasa buah pisang enak, dan kulit buah kuning terang.

”Saat ini benih sumber dari INA 03 juga sedang disiapkan untuk didistribusikan ke pengguna,” kata Kepala Balitbu Tropika, Ellina Mansyah.

Varietas INA 03 yang dikembangkan oleh pemulia tanaman buah Edison HS ini memiliki rasa manis dengan padatan terlarut 28 – 29 brix, kandungan vitamin C tinggi, yaitu 23,17 – 27,81 mg per gram. Pisang ini berumur panen genjah, yaitu 266-285 hari. Pada setiap tandan dihasilkan hingga 8 sisir dan bobot buah sekitar 10-15 kg. Pisang bertekstur buah kenyal itu tahan simpan hingga 18 hari.

Pisang dengan varietas yang mendekati ideal di Indonesia masih terbatas. Saat ini terdapat hanya 5-8 varietas pisang (ambon hijau/cavendish, barangan, mas, raja, ketan, tanduk candi, dan kepok kuning) yang mendekati ideal. “Oleh karena itu kehadiran pisang INA-03 tepat sebagai pilihan bagi para pekebun,” ujar Ellina.

Perbaikan klon pisang
Pisang itu merupakan hasil perbaikan klon pisang olahan dengan Varietas Ketan 01 yang dirilis tahun 1998 dengan diploid Barif-0005 yang diintroduksi tahun 1994. “Barif-0005 berbiji, tapi tahan terhadap penyakit layu bakteri. Sedangkan Ketan 01 tidak berbiji, tapi rentan terhadap layu bakteri,” jelas Edison.

Tingkat kesulitan persilangan ini, kata Edison, ada pada penetapan waktu yang tepat untuk pembuahan yang dilakukan secara manual. Bunga betina matang lebih dahulu daripada jantan. Meski menyilangkan tepat waktu, saat putik dan benang sari matang, belum tentu menghasilkan buah pisang yang memiliki embrio.

Dari persilangan 9.700 finger/buah, hanya diperoleh dua biji. Dari dua biji itu hanya satu yang memiliki embrio, dan dari embrio yang satu itu dikulturkan secara In-vitro, untuk menghasilkan populasi tanaman yang siap untuk diuji di lapang.

Pengembangan varietas tahan penyakit juga menghasilkan pisang kepok tanjung (tanpa jantung). Pisang ini tandannya tidak berbunga jantan atau disebut “jantung” karena itu aman dari penyebaran penyakit layu bakteri yang ditularkan oleh serangga melalui bunga jantan atau jantungnya.

Varietas pisang kepok tanjung yang tahan penyakit layu bakteri (Blood Disease Bacterium) ini dihasilkan Agus Sutanto, pemulia tanaman pisang dari Balitbu. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang dibawa serangga yang hinggap di bunga jantan atau jantung. Karena tak memiliki jantung, pisang kepok tanjung bisa terhindar dari serangan penyakit layu bakteri.

Untuk mengatasi penyakit ini, Agus mengadakan survei ke Pulau Seram, Maluku Tengah pada 1996 hingga menemukan satu kultivar pisang kepok tak berjantung dan tak terserang penyakit layu bakteri. Pisang ini bernama lokal pisang amorang.

Karena tak memiliki jantung, maka tak didatangi serangga pembawa bakteri. Jantung sebenarnya adalah bunga sehingga memfasilitasi serangga pembawa bakteri hinggap. Maka pembuangan jantung dilakukan untuk mencegah penularan penyakit layu bakteri secara alami yang disebarkan oleh serangga.

“Setelah evaluasi selama 10 tahun, pada 2007 pisang ini dirilis dengan nama kepok tanjung singkatan dari kepok tanpa jantung,” kata Agus.

Oleh YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 1 April 2019
—————————————————
Era Baru Petani Pisang di Tanggamus

Pisang mengubah nasib para petani di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Tanaman itu tumbuh subur dan mampu menghidupi petani. Setelah sukses mengekspor pisang, petani kini akrab dengan teknologi demi menyongsong era Industri 4.0.

Mata Merdiyanto (45) mengawasi aplikasi pemantau kegiatan pertanian di gawai miliknya, Senin (25/3/2019) siang. Petani asal Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Pulau Panggung, Tanggamus, itu hendak memeriksa perkiraan panen pisang barangan untuk pekan depan.

”Ada sekitar 5 kuintal pisang yang akan dipanen dari lahan seluas 3 hektar,” ujarnya, sambil menunjukkan perkiraan panen di aplikasi e-grower.

Merdiyanto dan petani lain yang bermitra dengan PT Great Giant Pineapple (GGP) baru mengenal aplikasi itu tujuh bulan lalu. Aplikasi e-grower memungkinkan petani memeriksa langsung kegiatan pertanian lewat genggaman.

Setelah selama ini petani lebih sering menggenggam cangkul, kini mereka ”dipaksa” mencatat dan melaporkan perkembangan tanaman secara digital. Hal ini dilakukan agar proses produksi dan pengemasan buah yang akan diekspor terkontrol dengan baik.

Dengan pendampingan
dari PT GGP, petani di Tanggamus membudidayakan tanaman hortikultura. Para petani menanam aneka buah, antara lain jambu bangkok, pepaya, dan nanas. Hasilnya dijual kepada perusahaan untuk diekspor dalam bentuk makanan olahan.

Petani juga membudidayakan aneka jenis pisang, antara lain pisang mas dan pisang barangan. Hasil panen pisang mas segar untuk pertama kalinya diekspor ke Shanghai, China, pada 2018. Sejak sukses mengekspor pisang, petani kian giat merawat kebun. Sekarang, petani juga semangat belajar teknologi.

”Kalau ada tanaman yang terserang hama ulat, kami foto. Gambar itu lalu diunggah ke aplikasi e-grower. Penyuluh pertanian langsung datang untuk mengecek kondisi tanaman. Hama segera diatasi agar tidak menyebar ke tanaman lain,” kata Mujiyanto (50), Ketua Kelompok Tani Arjuna di Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Sumber Rejo, Tanggamus.

Selama hidupnya, Mujiyanto baru mengenal gawai sejak menjadi petani pisang mas binaan PT GGP. Dia mengaku bingung saat pertama kali diminta mengoperasikan gawai, apalagi sebagai ketua, dia harus menghimpun hasil panen 38 petani pisang yang menjadi anggota kelompoknya.

Tak ingin gagap teknologi, Mujiyanto meminta putranya yang duduk di kelas I SMA untuk mengajarkan cara mengoperasikan gawai dan aplikasi e-grower. Tak jarang, dia harus keluar rumah untuk sekadar mencari sinyal internet. ”Di desa masih susah sinyal. Saya harus berpindah-pindah tempat untuk bisa membuka aplikasi e-grower,” ujarnya.

Sejahtera
Manisnya hasil panen pisang mas dirasakan Tulus Sagara (50), petani Desa Gunung Batu, Kecamatan Sumber Rejo. Dia menanam 1.600 batang pisang mas di kebun seluas 1 hektar. Setiap minggu, Tulus memanen sedikitnya 500 kilogram pisang mas.

Lewat Koperasi Tani Hijau Makmur, pisang itu disortir dan disiapkan untuk diekspor ke China dan Singapura. Di tingkat petani, pisang mas dihargai Rp 2.500 per kilogram. Tulus bisa meraih penghasilan Rp 1,5 juta per minggu.

”Alhamdulillah, sejak mencoba budidaya pisang mas, penghasilan saya cukup untuk makan dan kebutuhan anak sekolah,” kata Tulus.

Sebelumnya, Tulus membudidayakan tanaman kakao. Namun, sejak lima tahun terakhir, buah kakao tumbuh tak optimal akibat serangan hama dan penyakit. Produksinya anjlok dari 500 kilogram menjadi hanya 50 kilogram per minggu. Akibat kondisi itu, dia tertarik beralih menanam pisang mas.

Dia tertarik menanam pisang karena telah mengetahui cara budidaya yang baik. Informasi itu diperolehnya dari pelatihan yang digelar PT GGP. Selain itu, petani juga mendapat bibit pisang mas gratis dari perusahaan.

Perusahaan memberikan pula kemudahan lain dengan menyiapkan tenaga kerja dan mobil untuk membawa pisang hasil panen. Dengan begitu, petani bisa menekan biaya operasional. Setelah tanaman berumur 11 bulan, pisang bisa dipanen rutin setiap minggu.

Corporate Affairs Director PT GGP Welly Soegiono mengatakan, saat ini sekitar 300 petani di Tanggamus menanam pisang mas dengan luas tanam 350 hektar. Pada tahap awal, perusahaan itu mengekspor 15-20 ton pisang segar ke China per minggu.

Hingga 2020, PT GGP menargetkan penambahan luas tanaman pisang menjadi 1.000 hektar dengan produksi mencapai 20.000 ton. Dari jumlah ini, potensi pisang mas yang bisa diekspor mencapai 12.500 ton per tahun.

Selain ke China, pisang mas juga diekspor ke Singapura. Target tujuan ekspor lainnya ialah Jepang, Korea, dan Timur Tengah. Sebanyak 7.500 ton lainnya dipasok ke pasar lokal.

Welly menuturkan, Kelompok Tani Hijau Makmur yang dibina PT GGP juga mendapat fasilitas subkontrak kawasan berikat Bea dan Cukai. Fasilitas itu memungkinkan petani membeli pupuk, pestisida, dan sarana pertanian lainnya dengan harga yang lebih murah karena tak dikenai biaya masuk.

Hal itu diharapkan bisa menekan biaya operasi sehingga keuntungan yang diperoleh petani bisa lebih banyak. Untuk meningkatkan kapasitas petani, mereka dikenalkan dengan aplikasi e-grower.

Pemerintah juga telah menetapkan kawasan hortikultura di Tanggamus menjadi kawasan berbasis aplikasi Industri 4.0 pertama di Indonesia. Saat berkunjung ke Tanggamus, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengapresiasi semangat petani menerapkan teknologi. Dia menilai, kawasan itu dapat menjadi proyek percontohan untuk pengembangan kawasan lainnya di Indonesia.–VINA OKTAVIA

Sumber: Kompas, 1 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: