Home / Berita / Pesawat Tanpa Awak Siap Diproduksi secara Massal

Pesawat Tanpa Awak Siap Diproduksi secara Massal

Pesawat udara nirawak atau PUNA disebut ”Alap-alap” dinyatakan laik diproduksi massal dan terbang komersial. Pesawat itu dikembangkan perekayasa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sejak 10 tahun lalu.

Izin resmi itu tertuang dalam sertifikat untuk pesawat tanpa awak atau drone tersebut yang diserahkan Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Agus Setiadji kepada Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu Widodo Pandoe di Gedung II BPPT, Jakarta, Kamis (3/1/2019).

HUMAS BPPT–Pesawat Udara Nirawak Alap-alap

Pesawat nirawak atau PUNA tipe Alap-alap PA-06D diajukan ke Pusat Kelaikan Udara Kementerian Pertahanan untuk disertifikasi sebagai produk militer. Sertifikat yang diserahkan ialah Sertifikat Tipe bagi BPPT sebagai lembaga yang merancang PUNA Alap-alap dan Sertifikat Kelaikan Udara bagi pesawat militer.

”Dengan sertifikat ini, PUNA bisa diproduksi massal untuk tujuan hankam dan tujuan damai,” kata Agus.

Dengan sertifikat ini, PUNA bisa diproduksi massal untuk tujuan hankam dan tujuan damai.

”Proses sertifikasi ini cepat, tiga bulan sejak surat pengajuannya pada 7 September BPPT, sudah disetujui 7 Desember 2018,” ungkap Wahyu. Rangkaian uji coba dijalani sejak 2017, termasuk pengindraan jauh untuk melihat kondisi jalur rel kereta api Cirebon-Brebes sejauh 61 kilometer.

HUMAS BPPT–Serah terima sertifikat drone Alap-alap BPPT.

Pesawat nirawak itu juga dioperasikan atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memantau area terdampak bencana di Lombok, Agustus 2018. Itu digunakan untuk menyusun rencana evakuasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi daerah tersebut.

Menurut rencana, BPPT yang memegang paten produk ini akan bermitra dengan swasta untuk memproduksi secara massal. Sambil menanti kerja sama itu terealisasi, dua pesawat nirawak itu disiapkan di hanggar Pusat Penelitian Iptek untuk membantu instansi lain, antara lain dalam pemetaan udara, hankam, dan pemantauan area bencana.

”Survei di Selat Sunda akan dilakukan menanti cuaca baik dan Gunung Anak Krakatau tenang,” ujarnya.

Generasi kelima
Sebelum memperoleh sertifikat untuk masuk ke tahap industri, Alap-alap menjalani tahap riset dan pengembangan sekitar 10 tahun. Joko Purwono, Kepala Program Puna BPPT, menjelaskan, drone alap-alap yang disertifikasi merupakan generasi kelima. Generasi pertamanya dibuat tahun 2009.

KOMPAS/YUN–Drone Alap-alap BPPT

Peningkatan yang dicapai antara lain dalam hal perubahan konstruksi pada bagian ekor dan moncong pesawat serta bagian penyeimbang. Drone tipe terbaru Alap-alap PA-06D memiliki bentang sayap 3,2 meter dengan berat maksimum muatan untuk tinggal landas 31 kilogram.

Pada bagian moncong ditempatkan kamera. Dengan meringankan bagian konstruksi memungkinkan penambahan muatan untuk bahan bakar. Hal ini menambah lama jelajah pesawat dari 7 jam menjadi 8-9 jam.

KOMPAS/YUN–Lokasi Terbang Drone Alap-alap BPPT

Kemampuan pemetaannya seluas 1.700 hektar per jam. Pada ketinggian 450 meter, drone BPPT ini dapat memetakan areal seluas lebih dari 8.500 hektar. Maka untuk wilayah DKI seluas 66.150 ha, diperlukan sekitar delapan kali lintasan.

”Alap-alap ini mampu terbang hingga ketinggian 3.600 meter dan untuk tinggal landas memerlukan landasan pacu sepanjang 150-200 meter,” ujarnya.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 4 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: