Home / Berita / PTDI Mulai Produksi Massal Pesawat Nirawak

PTDI Mulai Produksi Massal Pesawat Nirawak

PT Dirgantara Indonesia (Persero) berencana memproduksi secara massal pesawat terbang tanpa awak atau drone yang diberi nama Wulung. Produksi akan dimulai awal Mei 2016.

Produksi pesawat nirawak tersebut sepenuhnya merupakan karya anak bangsa, hasil pengembangan PTDI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan. Kegiatan produksi dapat dilaksanakan setelah PTDI menerima Sertifikat Tipe (Type Certificate) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Penyerahan sertifikat tipe pesawat nirawak Wulung dilaksanakan Selasa (26/4), di kompleks PTDI, Bandung, Jawa Barat. Penyerahan dilakukan Kepala Pusat Kelaikan Badan Sarana Pertahanan Kemenhan Laksamana Pertama (Laksma) TNI M Sofyan kepada Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Andi Alisjahbana.

“Ini merupakan satu langkah maju dalam dunia penerbangan Indonesia dan pembuatan drone yang memenuhi spesifikasi militer ini pertama kalinya untuk wilayah ASEAN. Dengan terbitnya TC (Type Certificate), kegiatan produksi dan penjualan pesawat nirawak ini sudah dapat dilakukan,” kata Andi.

Untuk produksi massal pesawat nirawak Wulung dengan kode registrasi NW01 yang dimulai Mei nanti, PTDI telah mendapatkan pesanan dari Kemenhan (tiga drone). Wulung dirancang sebagai sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan autopilot, yang menggunakan konsep modular composite structure, ruang akses yang luas dan perakitan yang cepat dan mudah.

Pesawat tersebut memiliki bobot maksimal 125 kilogram (kg), kapasitas tangki bahan bakar 35 liter, serta menggunakan single piston engine tipe pusher bertenaga 22 Horsepower (Hp). Dengan sistem autopilot yang terintegrasi di pesawat, Wulung dapat melakukan misi secara otomatis.

d703226292f44414856d98eb24b1772eKOMPAS/HERU SRI KUMORO–Pesawat tanpa awak atau drone dipamerkan pada Peringatan 70 Tahun Topografi Angkatan Darat di Jakarta, Selasa (26/4). Drone tersebut rencananya akan digunakan sebagai alat bantu patroli topografi dan alat bantu patroli di wilayah perbatasan dan daerah pulau terluar.

Menurut Andi, drone Wulung diproduksi dengan menggunakan pembuatan dan komponen sesuai dengan standar industri penerbangan, juga kualifikasi yang berlaku untuk produk pesawat terbang.

Wulung mempunyai sejumlah keunggulan, yakni mampu menjalankan misi utama intelijen (intelligence), pengawasan (surveillance), dan pengintaian (reconnaissance) atau yang biasa dikenal dengan ISR.

Pesawat nirawak ini juga dilengkapi dengan kamera yang mempunyai kemampuan mengambil data video dan foto secara real time dengan kualitas High Definition (HD) dan dilengkapi dengan teknologi inframerah.

Selain itu, Wulung juga mampu terbang hingga radius 100 kilometer (km) dari pusat kendali, mampu terbang selama 2-3 jam nonstop bergantung pada misi operasi dengan ketinggian jelajah maksimal 5.500 kaki (feet).

Aspek keselamatan
Laksma TNI M Sofyan mengemukakan, pesawat nirawak Wulung telah memenuhi aspek keselamatan untuk personel (pusat pengendali), peralatan, dan lingkungan.

“Drone ini di masa damai dapat digunakan untuk pengawasan wilayah, seperti perbatasan di darat atau laut. Wilayah perbatasan sangat luas sehingga drone ini banyak dibutuhkan, di antaranya untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan. Saat perang, drone dapat digunakan untuk misi intelijen,” kata Sofyan. (SEM)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 April 2016, di halaman 4 dengan judul “PTDI Mulai Produksi Massal Pesawat Nirawak”.
———-
70 Tahun DITTOPAD, Bukan Lagi Sekadar Umbul-umbul

Direktorat Topografi TNI AD mungkin tak terdengar sesering seperti pasukan-pasukan elite yang biasa diterjunkan ketika operasi militer. Aksinya memang senyap, mendahului operasi.

Salah satu pelibatan prajurit Topografi adalah dalam operasi pemulihan keamanan Aceh 2003. Saat itu, tugasnya membuat pemotretan udara yang akan digunakan untuk perencanaan operasi. Komandan operasi pun mudah menggerakkan pasukan ke tujuan tertentu berdasarkan pemotretan udara itu.

Ketika Aceh dihantam tsunami akhir 2004, tim topografi ikut mengidentifikasi kerusakan sampai perbaikan jalan dan jembatan dari Banda Aceh sampai Meulaboh.

Prajurit Direktorat Topografi TNI AD (Dittopad) juga menjadi penjuru dalam penegasan batas RI-Malaysia, RI-Papua Niugini, dan RI-Timor-Leste. Penegasan batas RI-Malaysia yang dilakukan personel RI dan Malaysia, kata Sekretaris Dittopad Kolonel Ctp Ibnu Fatah, berlangsung 1975-2000. “Setiap 200 meter harus ditanam patok, tentukan koordinatnya, dan dikerjakan petanya. Setiap tahun rampung beberapa kilometer, lalu dilanjutkan tahun berikutnya sampai tahun 2000 untuk 2.000 kilometer perbatasan selesai,” ujar Fatah.

Meski perannya strategis, dulu banyak yang memandang sebelah mata kesatuan ini. Direktur Topografi TNI AD Brigadir Jenderal Dedy Hadria menceritakan, ada yang mengibaratkan satuan Topografi dengan umbul-umbul dalam permainan sepak bola. “Itu menyakitkan, tetapi mungkin betul. Umbul-umbul bagus dilihat saat akan masuk ke lapangan sepak bola, tetapi kalau kalah, tidak dirobek-robek pun sudah bagus. Cita-cita saya, setidaknya (kita) bisa jadi suporter, tetapi suporter yang baik,” ucapnya saat peringatan Hari Jadi Ke-70 Dittopad, Selasa (26/4), di Jakarta.

Pandangan sebelah mata itu menjadi pemacu untuk terus meningkatkan keahlian yang sangat spesifik itu. Dedy, misalnya, tak segan belajar dari geolog lulusan ITB yang juga ahli navigasi, Teddy Kardin. Banyak perwira Topografi yang melanjutkan studi terkait sistem informasi pemantauan dan geografi, seperti Dedy di University of Nottingham dan Ibnu Fatah di University College London.

Personel Dittopad pun tak kalah kreatif dan menjadi ahli di bidangnya. Pesawat tanpa awak TOPX6-01 yang bisa menempuh jarak sekitar 5 km dengan kecepatan 7 km per jam, misalnya, dikerjakan sekitar 12 personel Dittopad dibantu staf sipil. Pesawat tanpa awak itu dibuat untuk pemotretan udara. “Sejak 2014, kami sudah membuat lebih dari 32 TOPX6-01,” kata Mayor Tusnadi yang memimpin kelompok pembuat pesawat tanpa awak.

Selain itu, dibuat juga pesawat tanpa awak multirotor dengan delapan baling-baling di empat lengan dan berdaya jangkau 15 km. Jenis TOPX8-HL disiapkan untuk mengangkut beban sampai 8 kilogram. Tidak hanya kamera, beban yang diangkut juga bisa senjata atau obat-obatan untuk dikirim ke wilayah yang sulit dijangkau.

Peralatan pemantauan juga terus ditambah. Salah satunya pesawat tanpa awak OS-Wifanusa. Berdaya jelajah 300-500 km di ketinggian 300-500 meter, pesawat ini bisa mendarat di darat dan laut.

Dengan keahlian dan peralatan yang semakin mumpuni, prajurit Dittopad tak lagi menjadi umbul-umbul, tetapi sudah jadi unsur penting dalam operasi-operasi militer. (INA)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 April 2016, di halaman 5 dengan judul “Bukan Lagi Sekadar Umbul-umbul”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: