Perguruan Tinggi Belum Jawab Kebutuhan Pasar

- Editor

Kamis, 28 Maret 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meski jumlah universitas di Indonesia terbanyak di Asia Tenggara, angka pengangguran malah meningkat di kelompok lulusan perguruan tinggi. Salah satu sebab tingginya angka pengangguran pada lulusan perguruan tinggi adalah ketidakmampuan kampus menjawab permintaan pasar tenaga kerja.

Data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) menyebutkan, ada 4.713 universitas, jauh lebih besar daripada Malaysia (111) dan Singapura (34). Adapun China memiliki 2.824 universitas. Padahal, jumlah penduduk China jauh lebih besar daripada Indonesia, yaitu 1,4 miliar berbanding 260 juta.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Pencari kerja mendaftar untuk mengikuti seleksi lowongan pekerjaan salah satu perusahaan saat berlangsung bursa kerja di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (12/12/2018). Memasuki revolusi industri 4.0 yang terus bergulir, persaingan tenaga kerja kompeten, terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam industri digital, terus meningkat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Peningkatan angka pengangguran paling terlihat pada orang-orang yang terdidik secara formal dan punya diploma. Proses link and match (menghubungkan dan mencocokkan) tidak berjalan karena universitas tidak mengetahui apa yang dibutuhkan oleh dunia usaha,” kata pengusaha Tanri Abeng setelah meresmikan Jusuf Kalla Entrepreneurial and Leadership Center (JKELC) di Tanri Abeng University (TAU), Jumat (22/3/2019).

KRISTIAN OKA PRASETYADI UNTUK KOMPAS–Pengusaha dan akademisi Tanri Abeng.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka per Agustus 2018 adalah 5,34 persen atau sekitar 7 juta, turun 40.000 orang pada Agustus 2017. Dibandingkan dengan China, tingkat pengangguran pada Juni 2018 adalah 3,83 persen. Saat tingkat pengangguran dari kelompok lulusan SD hingga SMA/SMK menurun, tingkat pengangguran kelompok lulusan perguruan tinggi malah meningkat dari 5,18 persen menjadi 5,89 persen.

Menurut Tanri yang juga menjabat Rektor TAU, kerja sama dunia industri dengan perguruan tinggi belum cukup intensif. Akibatnya, perguruan tinggi tidak mengetahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan industri pada bidang-bidang tertentu. Karena itu, perguruan tinggi harus mulai mengacu pada hasil riset lapangan kerja untuk menyesuaikan jumlah mahasiswa yang diterima di masing-masing program studi.

”Perguruan tinggi harus memastikan anak-anak didiknya siap untuk bekerja secara professional. Selain diberi kemampuan dan ilmu dasar program studinya, mereka juga harus dibekali kompetensi kepemimpinan,” katanya.

Terkait dengan itu, TAU mendirikan JKELC yang direncanakan menjadi tempat bagi mahasiswa TAU untuk belajar mengenai kewirausahaan khas Wakil Presiden Jusuf Kalla secara mandiri. Tanri mengatakan, kegigihan dan nilai-nilai yang dimiliki Wapres Kalla akan disusun ke dalam silabus pembelajaran.

Dalam sambutannya ketika meresmikan JKELC, Wapres Kalla mengatakan, pusat pembelajaran kewirausahaan dan kepemimpinan masih sangat jarang ditemui di Indonesia. Ia berharap, JKELC bisa mencetak lebih banyak mahasiswa yang siap terjun ke dunia kerja.

KRISTIAN OKA PRASETYADI UNTUK KOMPAS–Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla mengunjungi Tanri Abeng University, Jumat (22/3/2019).

Wapres juga berharap mahasiswa mulai mengenal perbedaan sektor publik dengan sektor swasta. Di sektor publik, ada birokrasi, hukum, dan prosedur yang harus dihormati sehingga pemerintah sulit mencapai target yang telah ditetapkan.

”Di sektor publik, kita bisa menggunakan berbagai strategi untuk mencapai suatu target, tetapi targetnya tidak boleh berubah. Sebaliknya, di sektor swasta, yang lebih penting adalah prosesnya, sedangkan target boleh berubah. Harapannya, mahasiswa bisa menguasai manajemen di kedua sektor ini,” katanya.

Kolaborasi
Selain meresmikan JKELC, Tanri Abeng juga mengumumkan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi negara lain, yaitu University of West Scotland (Inggris Raya), University of Melbourne, Curtin University, Canberra University (Australia), Malla Reddy Institute of Technology (India), dan Pohang University (Korea Selatan). Kerja sama tersebut mencakup beberapa bidang studi, antara lain manajemen, pertambangan, perminyakan, kebijakan publik, dan teknologi digital.

Menteri Ristek dan Dikti Mohammad Nasir yang turut hadir dalam peresmian itu mengatakan, kolaborasi di antara perguruan tinggi secara lintas negara perlu dipacu. Peraturan Menristek dan Dikti Nomor 53 Tahun 2018 tentang Perguruan Tinggi Luar Negeri mendukung kerja sama ini.

”Tanpa kolaborasi dan pengembangan, tidak mungkin Universitas Indonesia masuk peringkat top dunia. Universitas top di Indonesia saat ini masih di peringkat 800-an dunia, sedangkan universitas di China sudah belasan yang masuk peringkat atas,” kata Mohammad Nasir.

KRISTIAN OKA PRASETYADI UNTUK KOMPAS—Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir memberikan sambutan dalam peresmian Jusuf Kalla Entrepreneurial and Leadership Center di Tanri Abeng University, Jakarta, Jumat (22/3/2019).

Meski demikian, jumlah publikasi riset Indonesia sekarang menempati kedua terbanyak di Asia Tenggara dengan 31.851 publikasi. Malaysia memimpin dengan 32.867 publikasi.

Di samping itu, jumlah hak paten saat ini 2.561, terbanyak di Asia Tenggara. Singapura menyusul dengan 2.100 hak paten. ”Semoga ke depan ada pertemuan antara industri dengan peneliti dan inovator sehingga hak paten Indonesia bisa diproduksi,” kata Mohammad Nasir. (KRISTIAN OKA PRASETYADI)–KHAERUDIN

Editor KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 22 Maret 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru