Home / Berita / Perangkat Pemantau Pemantau Kebugaran Tidak Berhenti pada Bugar

Perangkat Pemantau Pemantau Kebugaran Tidak Berhenti pada Bugar

Pemantau Kebugaran Tidak Berhenti pada Bugar
Selain jam tangan pintar atau smartwatch yang akrab disebut sebagai perangkat yang dikenakan (wearable devices), ada pula pemantau kebugaran yang lazim disebut fitness tracker. Sama-sama terhubung dengan telepon seluler pintar sebagai perangkat untuk sinkronisasi data, pemantau kebugaran memiliki tujuan lebih spesifik, yakni mengumpulkan data dari aktivitas fisik penggunanya. Dan, tentu saja tidak berhenti pada badan bugar saja.

Perangkat pemantau kebugaran umumnya memiliki sensor untuk mendeteksi beberapa aktivitas penggunanya, mulai yang paling sederhana, yakni pedometer untuk menghitung jumlah langkah, hingga pemindai urat nadi untuk mengukur detak jantung. Sensor tersebut akan menangkap data selama pengguna beraktivitas dan diterjemahkan sebagai laporan yang berisi jumlah langkah yang dibuat, berapa jauh berjalan kaki termasuk berapa langkahnya, jumlah jam tidur, sampai mengukur stres berdasarkan denyut jantung.

Salah satu produk yang cukup banyak ditemukan adalah Mi Band yang dibuat oleh Xiaomi. Perangkat yang dijual baik secara daring maupun luring dengan harga Rp 300.000 per unit ini menawarkan fitur yang sederhana, tetapi sesuai kebutuhan para penggunanya, yakni mengukur jumlah langkah dan jarak tempuh. Data yang dihasilkan perangkat ini bisa disinkronkan dengan aplikasi yang dikembangkan sendiri maupun ke layanan dari Google Fit.

Mi Band juga menjadi bagian dari ekosistem perangkat pintar yang saling terhubung, dan diharapkan bisa bermuara di ponsel buatan mereka, seperti pengukur berat badan pintar. Saat digunakan, perangkat ini memastikan profil pengguna melalui koneksi bluetooth dengan gelang pintar, lantas memasukkan hasilnya ke aplikasi untuk diukur dan diikuti perkembangannya hingga sesi penimbangan berikutnya.

Sewaktu meluncurkan lini produk ponsel premium Xperia Z5, Sony juga memperkenalkan Smart Band 2, gelang pemantau kebugaran yang juga memiliki fitur pendeteksi pembuluh darah untuk mengukur tekanan darah. Dikaitkan dengan data jam tidur yang juga dicatat dalam perangkat yang sama, Smart Band 2 juga bisa menakar kadar stres pengguna.

28846269af714bd8a74c2cc0d9308cc5KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Smart Band 2 merupakan gelang pemantau kebugaran tubuh yang diluncurkan Sony untuk menyasar pasar pemantau kebugaran di Indonesia. Tidak hanya jumlah langkah, perangkat ini juga memindai pembuluh darah untuk mengukur tekanan darah dan kondisi stres pengguna.

Runtastic yang dikenal sebagai layanan perangkat lunak pemantau kebugaran juga ikut bermain dengan meluncurkan produk untuk pasar Indonesia berupa Runtastic Moment yang menggabungkan teknologi analog dengan digital. Artinya, jam tersebut memiliki jarum dan berputar secara analog, tetapi terdapat pula indikator yang menunjukkan pencapaian target jumlah langkah harian. Data tersebut bisa disinkronisasi dengan aplikasi yang diunduh secara terpisah.

Berbeda dengan jam tangan pintar, konsumsi daya perangkat ini jauh lebih hemat dan tidak perlu diisi ulang setiap dua hari sekali. Namun, pengguna harus puas dengan tampilan antarmuka yang minim tanpa bisa diulik layaknya jam tangan pintar. Dengan Runtastic Libra atau pengukur berat badan pintar, pengguna bisa mendapatkan lengkap informasi terukur dari kondisi fisiknya.

Tren menggunakan pemantau kebugaran tidak lepas dari fenomena quantified self, atau kecenderungan orang untuk mencari patokan terukur dari aktivitas kesehariannya, seperti berapa jam langkah yang dibuat dalam sehari, berapa banyak pesan yang dikirim, berapa jam tidur, hingga perkembangan berat badan selama enam bulan terakhir. Di satu sisi, itulah data yang bisa dimanfaatkan untuk membantu seseorang mengetahui perkembangan fisiknya, tetapi di sisi lain juga membuka pertanyaan mengenai kegunaan data-data tersebut bagi pihak lain.

Menjadi bugar barulah langkah pertama.

(DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Maret 2016, di halaman 27 dengan judul “Perangkat Pemantau Pemantau Kebugaran Tidak Berhenti pada Bugar”.
——————
Adu Pintar dengan Jam Tangan Pintar

Jam tangan pintar hadir sebagai bagian dari gelombang wearable devices atau perangkat yang dikenakan. Tren ini muncul setelah telepon seluler pintar menjadi teknologi konsumen yang kini sudah menjadi sesuatu yang lazim dijumpai.

Ini adalah tahap awal dari perangkat yang makin menginvasi tubuh manusia. Jam tangan pintar, sesuai namanya mampu memberikan fungsi tambahan pada perangkat yang biasa digunakan untuk menunjukkan waktu.

Tak hanya itu, jam tangan pintar kini menjadi ekstensa atau kepanjangan tangan dari ponsel pintar, misalnya memberitahukan pemiliknya bila ada panggilan atau pesan masuk dengan getaran atau pemberitahuan di layar. Semua dilakukan tanpa harus merogoh ponsel yang biasa disimpan di saku atau dalam tas.

Seiring perkembangan sistem operasi yang digunakan (Android Wear, watchOS, dan Tizen), makin banyak kemampuan yang bisa diperagakan oleh jam tangan pintar, seperti menerima perintah suara dari pemilik dan melihat peta. Jam pintar juga dijejali sensor yang membuatnya bisa memeriksa parameter fisik pengguna, seperti detak jantung, jumlah kalori, dan langkah kaki.

Sebagai kepanjangan tangan dari ponsel, jam tangan pintar memang belum bisa mendapatkan sambutan sebagaimana mestinya meski optimisme untuk terus tumbuh selalu ada. Prediksi dari International Data Corporation menyebut bahwa popularitas perangkat yang dikenakan pada tahun ini akan meningkat menjadi 100 juta unit dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 72,2 juta unit.

Angka prediksi juga diramalkan berlipat dua pada 2019 mendatang karena perkembangan teknologi yang makin cepat sehingga muncul produk yang jauh lebih baik dari generasi sebelumnya.

Salah satu kendala yang membuat jam tangan pintar sulit dijangkau oleh banyak orang adalah harga jual. Untuk produk dari merek global, seperti Lenovo, Huawei, Sony, atau Samsung, setidaknya harus mempersiapkan dana Rp 5 juta untuk satu unit. Ada produk yang dijual dengan harga di bawah itu, tetapi umumnya hanya bisa ditemui di laman toko daring dengan kualitas maupun jaminan purnajual yang dipertanyakan.

Kendala lainnya adalah perangkat ini sangat bergantung pada ponsel karena sinkronisasi data pengguna dilakukan di sana. Bisa saja ponsel ditinggalkan dan pengguna tetap mengenakan jam tangan pintar. Namun, bisa dipastikan kehilangan banyak fitur mengingat sebagian perangkat membutuhkan koneksi bluetooth ke ponsel agar tetap terhubung ke internet.

Hal yang paling mengganggu adalah daya tahan baterai. Ukuran kecil mengharuskan produsen untuk memasang baterai dengan kapasitas kecil.

Namun, pada saat bersamaan juga disadari bahwa layar sentuh dan fitur yang dilakukan jam tangan pintar akan menguras baterai lebih cepat ketimbang jam tangan pada umumnya. Para pemilik jam tangan pintar setidaknya harus mengingat untuk isi ulang baterai setiap 1,5 hari sekali.

Dan, untuk urusan prestise, jam tangan pintar masih belum mampu menggeser keberadaan jam tangan analog. Persepsi bahwa perangkat yang melingkar di pergelangan tangan ini adalah sesuatu yang berharga dan menjadi gengsi pada pemiliknya hanya bisa dipahami oleh mereka yang mengikuti perkembangan tren produk teknologi.

Bagi Ario Pratomo, seorang vlogger atau pembuat video blog, jam tangan pintar cukup membantunya tetap produktif. Salah satu fitur yang dianggapnya bermanfaat adalah pemberitahuan panggilan atau pesan dari layanan percakapan.

Dia bisa mengulas singkat pesan apa saja yang masuk ke ponsel tanpa membuat gerakan mengambil ponsel. Semua bisa dilakukan dengan melirik isi layar jam tangan pintar sembari jarinya mengusap (swipe) kanan dan kiri untuk membaca pemberitahuan selanjutnya. “Dengan demikian, saya bisa tahu mana pesan yang harus dijawab dan mana yang bisa diacuhkan untuk beberapa saat,” kata Ario.

Fitur lain yang membantunya adalah pemantau kebugaran. Ario saat ditemui tengah mencoba Moto 360 generasi kedua dari Lenovo yang memiliki fitur Moto Body yang bisa mencatat berbagai parameter, seperti detak jantung dan jumlah langkah kaki yang dilakukan penggunanya. Di pergelangan tangan satunya, melingkar perangkat pemantau kebugaran yang sepenuhnya berupa sensor tanpa layar apa pun. Nantinya, dia akan menyingkirkan salah satunya.

Pasar
Indonesia dianggap sebagai pasar yang penting untuk pemasaran produk wearable devices, di samping negara-negara Asia lainnya. Dalam 12 bulan terakhir, banyak produk jam tangan pintar yang diluncurkan di Tanah Air baik oleh merek yang sudah kondang karena produk ponsel mereka, atau merek yang baru datang.

Pada Desember 2015, misalnya Huawei meluncurkan Huawei Watch, jam tangan pintar yang diluncurkan dengan desain yang menyerupai jam mewah analog tanpa melupakan fitur konektivitas atau pemantau kebugaran. Harganya pun hampir menyamai satu unit ponsel kelas premium, Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Pabrikan dari Korea Selatan, Samsung, juga merilis Gear S2 yang memiliki harga Rp 4 juta hingga Rp 4,5 juta. Tidak ketinggalan varian warna emas yang ditawarkan dengan harga Rp 5,7 juta. Sejumlah toko daring melayani pemesanan atau pre-order varian warna emas dan juga menawarkan tali jam seharga Rp 1,6 juta sebagai bonus untuk para pemesan.

Antusiasme produsen jam tangan pintar untuk menyerbu Indonesia tidak bisa disalahkan karena mereka berharap bisa mendompleng animo masyarakat dalam membeli ponsel pintar. Tahun 2015 saja diperkirakan sebanyak 30 juta unit ponsel membanjiri pasar.

Perkembangan teknologi pula yang akhirnya memungkinkan desain jam tangan pintar yang sebelumnya berbentuk kotak pada dua tahun lalu, kini bergeser ke bulat layaknya jam analog. Pergeseran desain ini hal yang serius untuk membuat jam tangan pintar terlihat lebih mewah.

Sayangnya, konsumen Indonesia juga memiliki pertimbangan tersendiri. Secara kasatmata pun, tidak banyak terlihat jam tangan pintar sebagai produk yang sedang diburu oleh konsumen. Produsen pun masih enggan membuka angka mengenai penjualan maupun sekadar pangsa pasar di Indonesia.

Toh, itu pun tidak menghentikan untuk terus meluncurkan produk jam tangan ke Indonesia. Moto 360 generasi kedua dari Motorola baru-baru ini juga diluncurkan di Indonesia dengan harga Rp 5 juta hingga Rp 5,8 juta. Produk ini sekaligus menjadi peluang bagi Lenovo yang kini memiliki merek Motorola untuk memperkenalkan kembali nama tersebut di Indonesia.

“Moto 360 akan mengawali kembalinya produk Motorola ke Indonesia dengan nama Lenovo Moto,” ujar Mobile Business Group Marketing Manager Lenovo Indonesia Miranda Vania Warokka saat peluncuran, Kamis (17/3).

Akan tiba waktunya jam tangan pintar menjadi bagian dalam tren teknologi di Indonesia. Setidaknya mampu mengurangi kebiasaan pemilik ponsel untuk merogoh saku, mengambil gawainya, dan mengintip layar untuk memeriksa apakah ada pesan yang masuk. Menurut penelitian, seorang pria dewasa rata-rata bisa melakukan hal itu hingga 150 kali dalam sehari.

Jam di pergelangan tangan kini tidak sekadar menunjukkan waktu saja. Para produsen jam tangan pintar pun beradu pintar merebut hati konsumen di Indonesia.–DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Maret 2016, di halaman 27 dengan judul “Adu Pintar dengan Jam Tangan Pintar”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: