Home / Berita / Penyebab Kematian Ibu

Penyebab Kematian Ibu

SEBUAH penemuan mengejutkan tentang tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia bak sebuah ’’tamparan keras’’. Baru-baru ini, WHO merilis bahwa setiap tahun ada sekitar 20.000 ibu Indonesia yang meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Sebanyak 259 ibu meninggal dunia pada setiap 100.000 kelahiran hidup.

Angka itu meupakan sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19) dan Sri Lanka (24). Pemerintah pun tak tinggal diam, berbagai usaha dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.000 ribu kelahiran hidup pada tahun 2015.

Menurut WHO, kematian ibu (maternal death) adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan atau cedera.

Ada dua klasifikasi penyebab kematian ibu saat melahirkan atau melakukan proses persalinan, yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung berhubungan dengan komplikas obstetrik selama masa kehamilan, persalinan dan masa nifas (post-prartum).

Sedangkan penyebab tidak langsung lantaran penyakit yang telah diderita ibu, atau penyakit yang timbul selama masa kehamilan dan tidak ada kaitannya dengan penyebab langsung obstretik. Penyakit tersebut diperberat oleh efek fisiologik kehamilan.

Sebagain besar AKI disebabkan oleh penyebab langsung. Berikut adalah lima besar penyebab kematian ibu menurut hasil kajian kinerja IGD Obstetri-Ginekologi dari RSUP Cipto Mangunkusumo, Jakarta:

1. Pendarahan

Sebanyak 20-50 persen kematian ibu disebabkan perdarahan yang tidak terkontrol. Ini merupakan situasi yang paling serius. Biasanya terjadi saat kehamilan, persalinan atau setelah persalinan (nifas). Perdarahan saat nifas (post partum) menyebabkan ibu kehilangan darah lebih dari 1000 mL. Komplikasi dari perdarahan post-pratum termasuk hipotensi ortostastistik, kelelahan, dam anemia.

2. Eklampsia

Tanda-tanda eklampsia adalah gagal ginjal, kejang dan koma saat kehamilan atau pasca melahirkan yang bisa menyebabkan kematian. Biasanya terjadi setelah trisemester ketiga kehamilan, sebagain besar terjadi saat persalinan dan 48 jam pertama setelah melahirkan.

3. Sepsis

Sepsis Maternal adalah infeksi bakteri yang parah yang terjadi di uterus (rahim) dan terjadi beberapa hari setelah melahirkan. Bakteri penyebab utama penyakit ini adalah Group A Streptococcus (GAS) yang masuk ke tubuh melalui kulit atau jaringan yang rusak saat melahirkan. Pasien bisa terkena sepsis jika kurangnya standar kebersihan selama proses persalinan, atau infeksi penyakit menular seksual yang tidak diobati selama kematian.

4. Infeksi

Infeksi merupakan kelompok penyebab kematian ibu secara tidak langsung. Infeksi ini biasanya berupa malaria, tuberkulosis dan hepatitis. Malaria merupakan infeksi parasit yang ditularkan oleh nyamuk dan bisa dicegah dengan obat-obatan serta perangkat antinyamuk.

Sedangkan tuberkulosisi adalah infeksi basil tuberculosisi. Dapat disembuhkan dengan obat-obatan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. Hepatitis adalah penyakit akibat infeksi virus Hepatitis yang menyerang fungsi hati. Hepatitis dapat dicegah dengan kewaspadaan, imunisasi, dan sanitasi yang lebih baik.

5. Gagal Paru

Gagal paru merupakan kegagalan pernapasan akut yang berisiko tinggi menimbulkan kematian. Penyebabnya karena embolisme paru (pulmonary embolism) yang terjadi setelah proses persalinan. (Miftahun Nikmah11)

—————-

Risiko untuk Ibu Hamil

Hamil, melahirkan, lalu mempunyai anak yang sehat, siapa yang tidak mau? Namun sayang, karena kurang kesadaran, pengetahuan, dan barangkali tingkat  ekonomi, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menempati posisi tertinggi. Bahkan lebih tinggi dibandingkan Malaysia dan Sri Lanka.

Menurut majalahkesehatan.com, setiap tahun sekitar 20 ribu ibu di Indonesia mening- gal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Ada 259 ibu meninggal dunia dari setiap 100 ribu kelahiran hidup. Menurut WHO, kematian ibu (maternal death) merupakan kematian yang terjadi selama masa kehamilan atau hingga 42 hari paska melahirkan.

Kematian tersebut berkaitan dengan penyakit dan penanganan kehamilan, kecuali karena kecelakaan atau cedera. Ada dua penyebab AKI, yakni langsung dan tak langsung. Penyebab langsung berkaitan dengan komplikasi obstetrik selama masa kehamilan, persalinan dan post-partum.

Sedangkan penyebab tak langsung berkaitan dengan penyakit yang sudah lama diderita ibu, atau penyakit yang muncul selama kehamilan namun tidak ada kaitannya dengan penyebab langsung obstetrik. Penyakit ini bisa diperparah efek fisiologis kehamilan.

Menurut data Case Fatality Rate RSUPCipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2011, lima besar penyebab utama AKI adalah pendarahan, eklampsia, sepsis, infeksi dan gagal paru. Pendarahan biasanya terjadi setelah proses persalinan. Adapun, kehilangan darah bisa terjadi selama kehamilan, persalinan, atau post-partum yang bisa menyebabkan kehulangan darah lebih dari 1000 ml.

Uterine atony (atonia uterus) atau kondisi otot rahim kehilangan kemampuan berkontraksi setelah melahirkan, merupakan penyebab utama pendarahan post-partum. Penyebab lain namun jarang terjadi, adalah retensi plasenta, di mana seluruh atau sebagian jaringan plasenta tertinggal di rahim, serta penyebab trauma termasuk luka, ruptur uterus dan inversi uterus.

Lalu, eklampsia merupakan kondisi yang ditandai dengan gagal ginjal, kejang dan koma saat kehamilan atau paska melahirkan. Kondisi ini biasanya terjadi setelah trimester ketiga kehamilan, mayoritas pada masa persalinan (intra-partum), dan 48 jam pertama setelah post-partum.

Menurut dr Soerjo Hadijono, SpOg (K), kepala ilmu ginekolog RSUP dr. Kariadi Semarang, eklampsia merupakan kondisi ketika tekanan darah tiba-tiba naik/ hipertensi pada masa kehamilan. Karena penyakit ini belum ada obatnya, tindakan yang dilakukan hanya sebatas mencegah supaya tidak terjadi kejang. Karena jika si ibu kejang, akan meningkatkan risiko kematian dirinya maupun janin yang dikandungnya.

Sepsis dan infeksi, bisa terjadi akibat virus atau bakteri apa saja yang masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau jaringan yang rusak saat melahirkan. Infeksi yang paling umum terjadi adalah malaria, tuberkulosis dan hepatitis. Sepsis biasanya terjadi akibat standar kebersihan/ higienis yang buruk selama masa persalinan. Misalnya persalinan yang tidak dilakukan di rumahsakit atau dengan tenaga medis profesional, tapi dilakukan dukun beranak.

’’Satu lagi faktor penyebab sepsis atau infeksi, nutrisi ibu hamil yang tidak bagus,’’ jelas dr. Soerjo.

Terakhir, gagal paru. Dr Soerjo menjelaskan, gagal paru merupakan gejala, bukan diagnosa; bukan penyebab tapi merupakan kondisi akhir. Karena, gagal paru terjadi karena didahului penyakit yang sudah diderita sebelumnya.

Selain penyakit-penyakit tersebut, hal yang kerap dianggap ’sepele’, merupakan penyebab risiko AKI. Seperti sering melahirkan, jarak hamil yang terlalu dekat, hamil usia muda dan hamil usia tua. Dr Soerjo memberi sebuah contoh simpel, jika seorang ibu hamil/ melahirkan sekali, maka ia ’hanya’ mengambil sekali risiko kematian. Jika duakali hamil/melahirkan maka duakali mengambil risiko kematian, dan begitu seterusnya. Tidak heran, jika seorang ibu terlalu sering hamil dan melahirkan (misalnya sampai enamkali), maka risiko kematiannya enamkali lebih banyak dibandingkan yang hanya duakali hamil/melahirkan.

Jarak hamil yang terlalu dekat (misalnya satu tahun), terutama bagi ibu yang melahirkan secara caesar, berisiko karena kondisi fisik yang belum 100% pulih. Terutama bagi yang menjalani proses caesar, peregangan kulit bekas operasi yang belum sempurna, tentu mempunyai risiko terjadi luka lebih besar. Hamil usia muda (di bawah 20 tahun) memiliki risiko karena fisik (panggul dan pinggang) belum sempurna, sedangkan hamil usia tua (di atas 35 tahun) memiliki risiko karena metabolisme tubuh sudah berkurang.

Jadi, untuk menekan atau mencegah AKI, tak hanya urusan pemerintah untuk memberi fasilitas melahirkan secara gratis bagi yang tidak mampu, tetapi kesadaran dan pengetahuan masyarakat soal kesehatan ibu.

Dua hal utama untuk mencegah AKI, adalah menggunakan alat kontrasepsi dan jangan hamil jika tidak mendesak, ini tentunya setelah memiliki satu atau dua orang anak. Kebutuhan untuk ’harus’ hamil ini misalnya, karena alasan menginginkan keturunan laki-laki untuk meneruskan marga keluarga.

Hamil dan melahirkan, bukan perkara yang enteng. Karena ini merupakan pertarungan yang penuh risiko.

“Ibu hamil itu berhadapan dengan beragam risiko. Jadi, ndak perlu hamil kalau tidak ada kepentingannya,” papar dr Soerjo. (11)

? Irma Mutiara Manggia

—————–

Perlu Perhatian Ekstra

ANGKA Kematian Ibu (AKI) di Indonesia yang sangat tinggi dibanding negara-negara lain membuat hati miris. Melahirkan, adalah proses mempertaruhkan dua nyawa yang harus disiapkan dengan kondisi prima. Pun dengan masa-masa kehamilan, perhatian khusus perlu diberikan agar tak terjadi komplikasi penyakit lain.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kematian pada ibu hamil dan pascapersalinan. Pertama, memperhatikan nutrisi yang dikonsumsi saat masa kehamilan. Banyak kasus kematian ibu terjadi karena kurang gizi, anemia, pendarahan, dan cacingan. Penyakit tersebut dapat dicegah dengan pemberian nutrisi yang baik. Upayakan agar ibu hamil mengonsumsi makanan yang memenuhi kriteria empat sehat lima sempurna dengan gizi yang seimbang.

Kedua, perhatikan kebersihan lingkungan di sekitar ibu hamil. Lingkungan yang tidak bersih akan menjadi sarang bakteri dan virus penyebab infeksi komplikasi. Pilih tempat bersalin yang kebersihannya benar-benar terjaga. Pertolongan petugas yang tidak berkompeten juga bisa menimbulkan penyakit baru.

Ketiga, kenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan. Jika Anda melihat ada tanda-tanda seperti pendarahan pada hamil muda maupun hamil tua; pembengkakan di kaki dan tangan atau wajah disertai sakit kepala dan kejang; demam tinggi; air ketuban keluar sebelum waktunya, bayi dalam kandungan tidak bergerak; muntah terus-menerus dan tidak mau makan; Anda harus segera menghubungi dokter. Sedini mungkin gejala ini diketahui, semakin besar peluang tim medis menolong ibu dari risiko kematian.

Keempat, lakukan vaksinasi selama masa kehamilan untuk melindungi nyawa ibu hamil dan bayi yang dikandungnya dari kemungkin- an terinfeski penyakit yang mematikan. yang paling utama adalah imunisasi tetanus untuk ibu hamil yang berencana melahirkan dengan bantuan dukun bayi di rumah dengan peralatan yang kurang terjamin kesterilannya. Ibu hamil yang mendapat vaksin akan melindungi bayi mereka dari infeksi selama dua bulan. Juga ada imunisasi kombinasi untuk mencegah difteri dan batuk.

Kelima, lakukan pemeriksaan rutin ke dokter atau bidan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengawasi masa kehamilan dan persalinan guna mendeteksi segala kemungkinan buruk yang terjadi selama proses itu berlangsung. Terlebih untuk ibu yang punya riwayat penyakit berat seperti penyakit jantung, paru-paru, diabetes mellitus, ginjal, dan hipertensi .

Ibu hamil membutuhkan perhatian ekstra dari keluarga. Jangan biarkan penyesalan datang terlambat. Mencegah lebih baik daripada menyesal, bukan? (Miftahun Nikmah-11)

Sumber: Suara Merdeka, 16 Desember 2012

Share

One comment

  1. Adrienne Walls

    Perdarahan yang tidak terkontrol menyumbang sekitar 20%-25% kematian ibu sehingga merupakan risiko yang paling serius. Kehilangan darah dapat terjadi selama kehamilan, selama persalinan, atau setelah persalinan (post partum). Perdarahan post partum yang menyebabkan kehilangan darah lebih dari 1.000 mL adalah penyebab utama kematian. Meskipun dapat dicegah, tidak semua kasus perdarahan post partum dapat dihindari. Atonia uterus (uterine atony), yaitu kondisi di mana otot rahim kehilangan kemampuan untuk berkontraksi setelah melahirkan, adalah penyebab utama perdarahan post partum. Penyebab lain yang lebih jarang adalah retensi plasenta (retained placenta), di mana seluruh atau sebagian jaringan plasenta tertinggal di rahim. Penyebab trauma termasuk luka, ruptur uterus, dan inversi uterus.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: