Home / Artikel / Pengendalian Zoonosis

Pengendalian Zoonosis

Peringatan Hari Zoonosis Dunia (HZD) dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap zoonosis, dan mengajari mereka bertindak benar.

Tanggal 6 Juli lalu diperingati sebagai Hari Zoonosis Dunia. Penentuan tanggal didasarkan keberhasilan Louis Pasteur, ahli mikrobiologi Perancis, melakukan vaksinasi rabies pertama (6/7/1885), pada seseorang yang digigit anjing dan dicurigai tertular rabies. Tindakan vaksinasi pasca-gigitan (post exposure) ini merupakan terobosan karena umumnya vaksinasi dilakukan sebelum tertular penyakit.

Zoonosis, penyakit yang menular dari hewan ke manusia, dapat berasal dari ternak (sapi, kambing), hewan kesayangan (anjing, kucing), atau binatang liar. Dalam 30 tahun terakhir, frekuensi zoonosis dari satwa liar kian sering terjadi. Ada yang sudah lama, muncul lagi (re-emerging) dengan korban lebih banyak, seperti ebola.

Ada pula yang baru muncul (new-emerging zoonotic diseases), misalnya hendra di Australia (1994), flu burung di Hong Kong (1997), nipah di Malaysia (1998), SARS di China (2002), MERS-CoV di Timteng (2013), dan Covid-19 di China (2019). Untuk menulari manusia, SARS memakai ”kendaraan” musang. Covid-19 memakai tenggiling, sebagai intermediate host.

Zoonosis konvensional yang endemik seperti rabies, antraks, ebola, demam kuning (yellow fever), Japanese encephalitis (JE), leptospirosis, Q fever, brucellosis, salmonellosis, virus West Nile (WN), pes, relatif terkendali. Di Amerika ada 8 zoonosis penting: zoonotic flu, salmonellosis, virus WN, pneumonic plague, coronavirus, rabies, brucellosis, Lime disease (CDC Atlanta, 31/5/2019).

Afrika benua sumber zoonosis terbanyak, kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Demam kuning menyebar ke Amerika di zaman perbudakan (1502- 1866) ketika ribuan tenaga kerja dibawa ke sana.

Karena ditularkan nyamuk, demam kuning jadi masalah besar, terutama di musim panas, ketika populasi nyamuk meningkat. Pembangunan Terusan Panama sempat terganggu karena banyak pekerja terserang. Kini telah ada vaksinnya.

Virus zika yang tak merupakan masalah di Afrika menggegerkan Brasil (2016). Sekitar 1.800 bayi yang dilahirkan ibu hamil tertular zika, menderita microcephaly (kepala ukuran kecil). Kemudian penyakit menyebar ke Amerika Utara. Penyebaran zika ke Brasil diduga terkait kedatangan atlet dari Polynesia saat Olimpiade. Pada wanita tak hamil dan pria, virus hanya menimbulkan sakit ringan, bahkan tanpa gejala.

Virus WN masuk ke Queens, New York (1999) lewat migrasi burung. Melalui nyamuk, virus ditularkan ke burung di Amerika, lalu ke manusia. Sekarang WN bersifat endemik. Secara serologis, antibodi terhadap WN pernah ditemukan pada serum pasien yang menderita demam di Jawa (2003-2004), tetapi negatif terhadap demam berdarah.

Indonesia
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (6/7/2019) menyebut 15 zoonosis prioritas: flu burung, rabies, antraks, brucellosis, leptospirosis, JE, bovine tuberculosis, salmonellosis, schistosomiasis, Q fever, campylobateriosis, trichinellosis, paratuberculosis, toksoplasmosis, cysticercosis.

Korban manusia tertinggi flu burung ada di Indonesia (163). Flu ini berhasil dikendalikan melalui vaksinasi unggas dan biosekuritas, sesuai anjuran Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE).

Ini capaian luar biasa. Yang masih perlu perhatian serius rabies dan antraks. Rabies menyebar ke Bali (2008), dengan total kematian sampai kini sebanyak 175. Puncak kematian 82 orang (2010). Kendala utama pemberantasan: banyak anjing tak bertuan sulit ditangkap untuk divaksin. Beruntung, setelah 2010 tersedia cukup banyak vaksin rabies untuk orang sehingga banyak jiwa bisa diselamatkan. Rabies menyebar dari Flores ke Dompu, Sumbawa (2019).

Antraks selalu menghantui ketika akan dilakukan pemotongan sapi dan kambing dalam jumlah besar. Kesadaran masyarakat melakukan vaksinasi mandiri rendah meski wilayahnya pernah tertular antraks. Pengendalian zoonosis yang utama adalah pada sumbernya (hewan). Jika sumbernya ternak sapi atau kambing di daerah tertular, harus dilakukan vaksinasi setahun sekali. Keterbatasan pemerintah menyediakan vaksin perlu diatasi lewat vaksinasi mandiri.

Meski flu burung di Indonesia terkendali, kewaspadaan harus tetap ada karena virus penyebabnya mudah bermutasi. Menurut para ahli, virus flu burung termasuk yang dapat menimbulkan pandemi. Kesiapan laboratorium kesehatan hewan untuk monitoring dinamika (mutasi) virus secara berkala perlu digalakkan.

Jika sumber virus di satwa liar seperti kelelawar atau satwa primata, janganlah satwa ini diganggu atau dimanfaatkan sebagai makanan. Mereka punya peran dalam ekologi.

Peringatan Hari Zoonosis Dunia (HZD) dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap zoonosis, dan mengajari mereka bertindak benar. Melalui peringatan HZD, kerja sama lintas sektoral (kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan hidup dan pemda) diharapkan makin erat dan kesadaran masyarakat tentang zoonosis makin baik.

Soeharsono, Mantan Penyidik Penyakit Hewan.

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: