Penerapan Navigasi Otomatis Masih Terkendala

- Editor

Senin, 27 Juni 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Purwarupa sarana navigasi otomatis pesawat terbang atau automatic dependent surveillance-broadcast (ADS-B) rancang bangun peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi siap diproduksi PT Inti. Namun, rencana itu terkendala ketiadaan regulasi terkait sertifikasi dan operasi di bandara.

Regulasi berupa keputusan menteri perhubungan itu diharapkan terbit tahun ini. Menurut Direktur Pusat Teknologi Elektronika BPPT Yudi Purwantoro, Jumat (24/6), di Jakarta, untuk memproduksi dan mengaplikasikan ADS-B, perlu putusan menteri yang mengatur sertifikasi ADS-B rancang bangun BPPT.

Selain itu, perlu regulasi yang mengatur izin pemakaian ADS-B, khususnya untuk ketinggian di bawah 29.000 kaki (sekitar 8,83 kilometer). Selama ini, izin hanya untuk ketinggian di atas 29.000 kaki. “Sambil menanti regulasi itu, BPPT dan PT Inti menyiapkan data hasil uji coba untuk sertifikasi,” ucap Yudi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam proses sertifikasi alat penerima ADS-B di bandara, bekerja sama dengan PT Inti, BPPT akan membuat purwarupa alat untuk dipasang di 6 bandara perintis di Papua. Lokasinya di jalur penerbangan antara Bandara Wamena dan Bandara Sentani.

Selama ini, bandara itu memakai komunikasi radio dengan pilot. “Itu pun saat pesawat sudah dekat landasan,” katanya.

Yudi menjelaskan, ADS-B adalah sistem navigasi berbasis satelit navigasi global positioning system untuk menentukan lokasi pesawat. Posisi itu otomatis akan dipancarkan dari sistem pemancar di pesawat, lalu diterima stasiun penerima di bandara. Lokasi pesawat itu bisa tampak di layar monitor di menara kontrol lalu lintas udara di bandara.

“Sistem ADS-B dirintis rancang bangunnya sejak 2007,” kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Hammam Riza. Itu untuk mengurangi ketergantungan produk impor. Kini, dua ADS-B buatan BPPT diuji coba di bandara di Bandung dan Semarang.

“Selama uji coba, dua prototipe itu terbukti andal dan tak kalah dengan produk asing yang digunakan di bandara di Indonesia. Dari 237 bandara, baru 31 bandara memakai ADS-B. “Sarana itu 90 persennya impor. Padahal, harganya empat kali lebih mahal daripada buatan dalam negeri,” ucap Hammam.

Sementara itu, sebagian besar bandara masih menggunakan komunikasi radio dengan pilot, belum ada komunikasi visual.

Selain mengembangkan alat penerima, kata Yudi, tim di Pusat Teknologi Elektronika akan merancang bangun pemancar ADS- B, sistem navigasi lalu lintas sekitar bandara. “Tahun 2019 semua sistem ADS-B ini kami harap tersertifikasi,” ujarnya. (YUN)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juni 2016, di halaman 14 dengan judul “Penerapan Navigasi Otomatis Masih Terkendala”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB