Peneliti Belia Indonesia Menjanjikan

- Editor

Kamis, 17 April 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peneliti belia Indonesia di jenjang SMP dan SMA memiliki potensi untuk menawarkan ide-ide penelitian yang bermanfaat memecahkan beragam persoalan bangsa. Bahkan, peneliti belia Indonesia mampu unjuk prestasi dalam kompetisi penelitian tingkat internasional.

Sebanyak delapan siswa SMP dan SMA dari sejumlah daerah terpilih mewakili Indonesia ke ajang International Conference of Young Scientists ke-21 pada 17-23 April, di Serbia. Pada Rabu (16/4), tim pelajar Indonesia ini melakukan presentasi secara terbuka di Kampus Surya University di Tangerang.

”Peneliti belia kita selalu berhasil mempersembahkan medali. Bahkan, pada 2009 dan 2010 mereka meraih medali terbanyak dari peserta yang umumnya negara-negara di Eropa,” kata Monika Raharti, Direktur Center for Young Scientists atau Pusat Peneliti Belia Surya University, di Tangerang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Monika, Pusat Peneliti Belia Surya University mendorong lahirnya peneliti belia dengan menyeleksi siswa berpotensi mulai dari tingkat daerah hingga nasional untuk mewakili Indonesia di ajang internasional. Namun, pembinaan utama diserahkan kepada sekolah dengan dukungan dari para pakar berbagai perguruan tinggi ternama.

Pusat Peneliti Belia Surya University berusaha mewujudkan lahirnya 30.000 doktor di Indonesia pada 2030, seperti mimpi ilmuwan Yohanes Surya yang juga Rektor Surya University. Lahirnya doktor berkualitas yang kuat dalam riset ini akan menopang kemajuan Indonesia di tengah persaingan global.

Jocelyne Livia Kusuma, siswa kelas XI SMA St Laurensia Tangerang, mengatakan, penelitian bidang ilmu hayati yang diikutinya dipersiapkan sekitar satu tahun. Dia meneliti manfaat batang pepaya yang diekstrak untuk mencegah jamur pada kentang.

Peneliti belia lainnya, Gracesilia, siswa SMP Petra 3 Surabaya, merasa tertantang melestarikan gamelan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Dia yang ikut lomba di bidang komputer membuat program komputer dengan memanfaatkan teknologi gerakan isyarat (motion gesture) untuk memainkan saron demung.

Pelajar lainnya yang mewakili Indonesia, yaitu Harman Dewantoro (SMA Cita Hati Surabaya), Wilbert Osmond (SMP Chandra Kusuma Medan), Ni Luh Putu Lilis Sinta Setiawati (SMAN Bali Mandara), Josiah Christoper (SMA Cita Hati Surabaya), dan Jeff Bastian (SMA Petra Surabaya). (ELN)

Sumber: Kompas, 17 April 2014

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB