Pendidikan Vokasi Perkuat Bangsa

- Editor

Rabu, 27 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah memfokuskan pendidikan kejuruan untuk mencetak tenaga-tenaga terampil berkelas dunia. Orientasi itu dipatok sebagai jawaban pemerintah untuk memenuhi permintaan pasar dunia. Langkah ini adalah bagian dari tindak lanjut kerja sama Pemerintah RI yang dijalin selama kunjungan Presiden Joko Widodo ke empat negara Eropa.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung, seusai rapat terbatas, Senin lalu, di Jakarta, menyampaikan arahan Presiden bahwa negara yang akan memenangi pertarungan ke depan adalah negara yang mempunyai keahlian. “Maka, akan ada perubahan mendasar dalam sistem pendidikan kita. Jika sebelumnya lebih bersifat umum, nanti lebih diarahkan ke kejuruan. Balai latihan kerja atau BLK yang ada akan diperbarui, diberi hak menerbitkan sertifikat. Mereka juga diberi kemudahan mendatangkan pelatih-pelatih keahlian dari luar negeri,” katanya.

Menurut Pramono, sekolah kejuruan akan diarahkan pada penajaman keahlian untuk memenuhi pasar kerja internasional. Pelatihan khusus dilakukan sesuai dengan kebutuhan negara tujuan. Syaratnya, peserta pelatihan harus bisa berbahasa Inggris dan bahasa lokal negara tujuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir merespons positif langkah tersebut. Menurut Nasir, program ini dapat mengembalikan kejayaan bidang vokasi seperti yang terjadi pada era 1980-an.

Penuhi kebutuhan industri
Sejalan dengan hasil rapat, pemerintah akan membuat program ini secara masif dan bisa dilakukan di banyak tempat. Adapun vokasi yang dimaksud diarahkan guna memenuhi industri.

Dalam jangka pendek, program yang disiapkan adalah kunjungan para pengajar vokasi dari Jerman ke Indonesia. Mereka akan mengajar para tenaga terampil Indonesia di bidang rekayasa mesin industri, otomotif, pariwisata, dan sektor lain. Tahun ini, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) menyediakan alokasi anggaran untuk mendatangkan 100 pengajar asing (di bidang kejuruan) ke Indonesia. Keputusan rapat itu, kata Nasir, sejalan dengan rencana Kemristek dan Dikti yang akan membangun pendidikan vokasi.

Memperkuat mutu pendidikan tinggi vokasi salah satunya dilakukan Politeknik Manufaktur (Polman) Astra. Direktur Polman Astra Tony Harley Silalahi mengatakan, melalui pendidikan vokasi ini, Indonesia ke depan diharapkan bisa menjadi negara yang memiliki ketahanan ekonomi dan industri yang kuat. Dengan demikian, bonus demografi yang dimiliki saat ini akan memberi manfaat.

Politeknik ini menerapkan “Astra Duales System” yang terinspirasi pendidikan vokasi Jerman dengan penerapan 65 persen praktik (termasuk magang industri) dan 35 persen teori.

Tony mengatakan, pendidikan vokasi khas Jerman ini perlu ditindaklanjuti dan dipertajam melalui kerja sama dunia pendidikan, masyarakat industri, serta didukung kebijakan dan regulasi agar duales system berjalan dengan baik dalam membentuk kompetensi anak didik.

Selain itu, implementasi duales system Jerman di Indonesia perlu dilakukan dengan adaptasi yang kontekstual. (SON/NDY/ELN)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 April 2016, di halaman 12 dengan judul “Pendidikan Vokasi Perkuat Bangsa”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru