Home / Artikel / Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika terkelola dengan baik, kemajuan lebih cepat datang. Jika salah urus, kelimpahan jumlah anak muda bakal jadi bumerang.

Salah satu problem pokok yang dihadapi bangsa Indonesia di dunia kerja saat ini ialah masih rendahnya kualitas SDM.

Hal ini dapat dilacak dari lemahnya tingkat keterampilan dibandingkan negara ASEAN lain. Pada 2018, World Economic Forum memublikasikan indeks daya saing global (global competitiveness index), Indonesia berada di peringkat ke-45, jauh di bawah Singapura (7), Malaysia (21), dan Thailand (28). Bahkan, untuk pilar ke-6, yaitu skills, Indonesia berada di peringkat ke-62, di bawah Singapura (20) dan Malaysia (24), tetapi unggul di atas Thailand (66).

Kondisi ini menunjukkan berbagai komoditas Indonesia kurang berdaya saing di pasar global, termasuk SDM-nya. Padahal, di era industri 4.0, SDM menjadi kunci untuk dapat bersaing. Jika tidak, siap-siap tergilas oleh mekanisme pasar.

Resep suatu negara jadi negara maju ialah mendorong kemajuan pendidikan vokasi dalam negeri. Beberapa negara yang sudah membuktikannya ialah Jerman, China, Jepang, dan Swiss. Kemajuan vokasi dapat menjadi tulang punggung kemajuan sebuah negara.

Ketika kita berbicara tentang pendidikan vokasi, tak hanya kampus vokasi, tetapi juga SMK dan juga lembaga kursus dan pelatihan. Lebih lanjut, pendidikan vokasi harus link and match dengan dunia usaha dunia industri (DUDI). Potensi Indonesia untuk mengembangkan dunia vokasi sangatlah lebar. Saat ini, kita memiliki sekitar 17.000 lembaga kursus dan 2.000 kampus vokasi. Ini aset yang sangat berharga.

Dari banyaknya aset pendidikan tadi, beberapa bahkan sudah go international, menghasilkan produk hasil kolaborasi riset dengan dunia industri dan link and match dengan DUDI.

Contohnya, siswa-siswa SMK NU Banat Kudus menjuarai ajang bergengsi fashion internasional, Grand Prix Sakura Collection ”Asia Students Awards 2020” yang diselenggarakan di Singapura. Juga ada SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta yang sudah menerapkan link and match dengan industri sehingga serapannya mencapai 89 persen.

Universitas Diponegoro baru saja meresmikan Gedung Sekolah Vokasi beserta infrastruktur pendukungnya hasil kerja sama dengan Grup Sinar Mas dan Grup Astra sebagai bentuk sinergi kampus dan industri. Peresmian dilakukan Presiden Joko Widodo, Rabu (26/8/2020).

HUMAS UNIVERSITAS DIPONEGORO—Suasana di depan gedung Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2020). Gedung yang merupakan hibah dari Astra dan Sinarmas itu diresmikan oleh Presiden Joko Widodo secara virtual.

Gebrakan
Saat ini, upaya yang ditempuh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud untuk meningkatkan SDM adalah dengan mentransformasi pendidikan vokasi melalui program-program unggulan, seperti link and match, Rumah Vokasi, center of excellence (CoE), mahasiswa berwirausaha, dan pelibatan industri dalam menyusun kurikulum.

Link and match merupakan cara yang digalakkan kembali, termasuk oleh Ditjen Pendidikan Vokasi, untuk menjembatani lulusan sekolah/kampus vokasi dengan DUDI. Nantinya, perusahaan akan menyerap tenaga dari lulusan vokasi.

Untuk menopang gagasan ini, Kemendikbud juga membentuk Forum Pengarah Vokasi (Rumah Vokasi). Melalui Rumah Vokasi, diharapkan bisa diselaraskan lembaga pendidikan vokasi dengan DUDI lewat penyelarasan kurikulum, penyelarasan proses pembelajaran, dan peningkatan kapasitas SDM vokasi.

Dari sisi input, siswa SMK dan mahasiswa kampus vokasi harus memiliki keyakinan memilih pendidikan vokasi sebagai jalan hidupnya. Harus disertai passion dan visi, memahami profesi pekerjaan di masa depan, dan merasa cocok dan bahagia melakukan atau memiliki profesi pekerjaan tersebut.

Beberapa strategi dasar link and match yang dilakukan bersama oleh satuan pendidikan vokasi dengan DUDI ialah sinkronisasi kurikulum; menghadirkan guru/dosen tamu dari kalangan expert/industri minimal 50 jam/prodi/semester; program magang/prakerin minimal 1 semester di DUDI; serta uji kompetensi/sertifikasi kompetensi bagi seluruh lulusan vokasi dan guru/dosen vokasi.

Diakui atau tidak, lulusan vokasi memang menjadi harapan dalam daya saing ekonomi. Vokasi juga dianggap sebagai salah satu langkah yang bisa menjawab semua tantangan global. Roman Hrmo et all (2016) dalam Improving the Quality of Technical and Vocational Education in Slovakia for European Labour Market Needs melihat bahwa pendidikan kejuruan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap daya saing ekonomi dan kesejahteraan dalam ekonomi berbasis pengetahuan global sehingga perlu diperhatikan kebutuhan dengan dunia kerja dan kerja sama antarlembaga penyelenggara.

SDM pemenang adalah SDM yang kompeten, bukan hanya mengandalkan ijazah ketika lulus. Harus berani bilang, ”Aku bisa apa”, atau ”Aku mampu apa”. Kalau hanya mengandalkan ijazah, tanpa kompetensi, itu artinya sekadar ”Aku sudah belajar apa”. Kompetensi mencakup hardskills dan softskills yang sama-sama kuat. Itulah yang diinginkan oleh industri dan dunia kerja, output dari link and match level ”pernikahan”.

Indonesia, juga semua negara di dunia, saat ini bersiap menyambut datangnya Revolusi Industri 4.0. Riset McKensey pada 2015 menyebut revolusi jilid empat ini membawa perubahan 10 kali lebih cepat dari revolusi industri pertama pada abad ke-19. Dampaknya 3.000 kali lebih dahsyat. Kita mengantisipasi dinamika seperti ini, salah satunya dengan meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 yang menargetkan pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) sebesar 1-2 persen per tahun.

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak- anak muda. Peluangnya, yang sekaligus jadi tantangannya, ada pada bonus demografi yang akan kita nikmati pada 2030- 2040. Dalam dekade itu, 60-70 persen dari total penduduk ada di usia produktif. Jika terkelola dengan baik, kemajuan lebih cepat datang. Jika salah urus, kelimpahan jumlah anak muda bakal jadi bumerang.

Pemerintah tentu tak bisa mengerjakan semua itu sendirian. Semua pemangku kepentingan, mulai dari pengelola sekolah dan kampus hingga pelaku usaha, harus memberikan sumbangsih masing-masing. Lewat komunikasi dan kerja sama yang terjaga, penerapan link and match menjadi sebuah ikhtiar yang berkesinambungan. Ia terus memperbaiki diri menyesuaikan dengan dinamika perkembangan zaman.

Mari perkokoh kemitraan untuk siapkan anak-anak muda kita sebagai manusia Indonesia yang bukan hanya terampil dan produktif, tetapi juga bertanggung jawab dan berkontribusi bagi lingkungan dan bangsanya. Mengutip Ki Hajar Dewantara: ”Apa pun yang dilakukan oleh seseorang hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya”.

Wikan Sakarinto, Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemendikbud.

Sumber: Kompas, 18 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: