Home / Berita / Pendidikan Tinggi di Australia; Memadukan Minat dan Peluang Kerja

Pendidikan Tinggi di Australia; Memadukan Minat dan Peluang Kerja

Memilih perguruan tinggi yang sesuai minat dan kebutuhan tidak mudah; tak bisa sekadar eeny meeny miny moe. Apalagi, jika ingin kuliah di luar negeri yang memiliki banyak kampus dengan kualitas yang beda-beda tipis dan biayanya tak murah, seperti di Australia. Untuk itu, perlu perencanaan matang.

Bagi Stanley Aditya, mahasiswa asal Malang, Jawa Timur, yang saat ini kuliah semester dua di University of New South Wales, Australia, relatif mudah memperoleh perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhannya. Itu karena ia sudah menentukan terlebih dahulu program studi yang ingin didalami. Sejak masih duduk di bangku SMA, ia ingin belajar ilmu pangan (food science). “Selesai kuliah, saya ingin bikin perusahaan makanan sendiri di Malang. Saya pilih kuliah di sini karena lingkungannya nyaman. Kota metropolitan, tetapi masih enak,” cerita Stanley saat menemani Kompas mengelilingi kampusnya, pada awal musim dingin Juli 2015 lalu.

Vincent Santosa, mahasiswa Le Cordon Bleu Australia dari SMA Karangturi Semarang, Jawa Tengah, juga sudah sejak awal mengincar perguruan tinggi bidang kuliner dan industri makanan. Ia hendak melanjutkan jiwa bisnis orangtua dengan membuka restoran di Semarang. “Untuk buka restoran, saya tidak hanya harus tahu sisi bisnis, tetapi sampai urusan memasak di dapurnya,” ujarnya.

Tidak semua peserta didik bisa seperti Stanley dan Vincent. Masih lebih banyak anak berikut orangtuanya yang bingung memilih program studi dan perguruan tinggi yang cocok. Cocok dengan minat bakat anak, keinginan anak dan orangtua, serta tentunya cocok dengan kondisi keuangan keluarga.

Ini dikemukakan oleh hampir semua dari 11 unsur pimpinan SMA dan konselor pendidikan SMA yang mengunjungi tujuh perguruan tinggi di Sydney dan Melbourne, Australia, 27 Juni-4 Juli 2015. Ketujuh kampus itu adalah University of Technology Sydney (UTS), University of New South Wales (UNSW), Macquarie University, Le Cordon Bleu Australia, Swinburne University of Technology, Monash University, dan Deakin University. Kunjungan untuk mengenal pendidikan tinggi di Australia ini difasilitasi lembaga konsultan pendidikan luar negeri, SUN Education Group, yang memiliki kerja sama dengan 300 institusi di 12 negara, termasuk Australia.

Peran orangtua
Kembali ke soal pemilihan perguruan tinggi, Kepala Divisi Bidang Kesiswaan SMA Kristen Immanuel Pontianak, Kalimantan Barat, Gunawan, mengungkapkan, orangtua di Indonesia masih berperan besar dalam memilih kuliah untuk anaknya. Selama ini orangtua juga yang berkonsultasi ke sekolah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anaknya agar bidang studi pilihannya cocok dengan karakter anak. Ini bisa diketahui melalui program bimbingan konseling atau konsultasi karier dan profesi di sekolah.

2012865293a641178bea1628abb9a788KOMPAS/LUKI AULIA–Ruang belajar berbentuk ruang kecil (cubicle) ini dibuat untuk mendukung metode pembelajaran baru, “Learning 2014”, di University of Technology Sydney, Australia. Semua ruang kuliah dan ruang belajar didesain untuk pembelajaran kolaboratif antarmahasiswa, mahasiswa dan dosen, serta mahasiswa dan industri.

“Pertama-tama, orangtua selalu tanya tentang citra perguruan tingginya. Lalu, lingkungan belajarnya, seperti kondisi kota lokasi kampus dan akomodasi di kampus. Saya selalu merekomendasikan kampus yang punya ranking bagus,” kata Gunawan.

Hadi, Koordinator Secondary Department di Springfield International School Jakarta, menilai, mengingat biaya besar yang dikeluarkan, baik orangtua maupun murid pasti akan memilih kampus terbaik. Biasanya pertimbangan dan keinginan murid dan orangtuanya pragmatis sekali, seperti kondisi cuaca. “Peran orangtua yang sedikit mendominasi bukan masalah asalkan komunikasi yang baik bisa dijalin,” ujarnya.

Menurut Chief Operating Office SUN Education Group Harianto, sesungguhnya keinginan anak justru yang terpenting. Jika sesuai dengan keinginan anak, komitmen berkuliahnya bisa dijamin bagus. Untuk mengetahui keinginan anak, biasanya saat mereka datang berkonsultasi pertama kali akan ditanyakan tujuan kuliah dan profesi yang ingin dijalani. Biasanya anak-anak Indonesia memilih belajar bisnis, komunikasi, serta seni dan desain. “Lalu kita cari negara atau kampus yang cocok. Setelah ketemu, orangtua akan ditanya kesanggupan biaya pendidikannya seberapa,” ujarnya.

Fasilitas unggulan
Bagi Kepala SMA Sutomo 1 Medan Khoe Tjok Tjin, memilih perguruan tinggi memang bukan perkara mudah. Pasalnya, setiap perguruan tinggi, terutama di Australia, memiliki ciri khas dan keunggulan masing-masing dengan kualitas sarana prasarana dan capaian akademik yang hampir sama bagusnya.

Saat berkunjung ke tujuh kampus di Sydney dan Melbourne, para pengelola perguruan tinggi berkeliling dan blusukan masuk ke hampir semua fasilitas unggulan pendukung pembelajaran di setiap kampus. Ruang kuliah, ruang belajar berbagai ukuran dan bentuk sesuai dengan fungsi “Learning 2014” di UTS, laboratorium berteknologi mutakhir “Super Lab”, laboratorium ilmu forensik yang didesain seperti lokasi kejahatan dalam film serial CSI, serta perpustakaan bawah tanah di kampus UTS.

Selain itu, rombongan juga melongok ke laboratorium atau bengkel kerja perakitan kendaraan roda dua dan empat bertenaga surya dan listrik serta Factory of the Future di Swinburne University of Technology. Ini lokasi khusus untuk memfasilitasi pertemuan mahasiswa dengan pelaku industri dan menggarap proyek bersama. Ada juga kunjungan ke laboratorium pangan nutrisi dan studio animasi di Deakin University serta ke kamar asrama mahasiswa di kampus yang bersih dan nyaman dengan kisaran harga 140 dollar hingga 600 dollar Australia per minggu.

Meski memiliki keunggulan berbeda-beda, tujuh perguruan tinggi itu sama-sama menekankan pembelajaran kolaboratif melalui pengerjaan proyek bersama baik sesama mahasiswa, mahasiswa dan dosen, maupun antara mahasiswa dan kalangan industri. Jalinan kerja sama dengan industri ini yang akan membiasakan mahasiswa menangani persoalan riil. Dengan demikian, mereka tidak canggung masuk ke dunia kerja saat lulus nanti.

Ambil contoh Macquarie University, perguruan tinggi yang unggul pada bidang bisnis, khususnya Ilmu Aktuaria (ilmu yang mengaplikasikan metode matematika dan statistik untuk menaksir risiko dalam industri asuransi dan keuangan). Kampus ini setiap dua tahun sekali menyusun kurikulum bidang bisnis bersama dengan kalangan industri. Secara berkala, kalangan industri datang ke kampus dengan membawa sejumlah persoalan riil yang harus dicarikan solusinya oleh perguruan tinggi.

“Ini tidak hanya dilakukan di bidang bisnis, tetapi di semua program studi di sini,” kata Senior Country Manager International (Pacific) Macquarie University Natalie Lastary Dewi Lee yang membawa kami berkeliling kampus seluas 126 hektar itu.

Manager of Regional Relations Swinburne University of Technology Struan Robertson menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan hard skill dan soft skill serta bekerja sama dengan industri sejak awal masuk kuliah, seperti halnya pembelajaran di pendidikan vokasi atau politeknik. “Belajar dan bekerja, ini yang kami lakukan terus-menerus agar mahasiswa mampu bertahan pada era ekonomi global,” ujarnya.

Menurut Gunawan, bisnis merupakan bidang studi yang paling cocok bagi anak didiknya yang mayoritas orangtuanya berkecimpung di dunia bisnis. Pendapat serupa disampaikan Kepala SMA Karangturi Semarang Susena. Selama ini anak didiknya memilih kuliah mengambil bidang studi bisnis dan teknik di Australia. Alasannya, perguruan tinggi di negeri itu menghasilkan sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia kerja. “Prospek kerja setelah lulus sering ditanyakan murid dan orangtuanya,” kata Susena.

Ada lagi nilai tambah bersekolah di Australia, yaitu adanya peraturan pemerintah setempat yang memperbolehkan mahasiswa internasional dengan visa pelajar untuk bekerja hingga 40 jam setiap dua minggu selama musim akademik universitas dan tidak terbatas selama musim liburan universitas. Artinya, di sela-sela belajar, mahasiswa juga boleh menyambi bekerja.–LUKI AULIA
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juli 2015, di halaman 12 dengan judul “Memadukan Minat dan Peluang Kerja”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: