Home / Berita / Pendidikan Seni; Memiliki Posisi Tawar, Bukan Level ”Pengemis”

Pendidikan Seni; Memiliki Posisi Tawar, Bukan Level ”Pengemis”

Menjelang presentasi drama untuk mata kuliah Drama Televisi, seorang mahasiswa mengedarkan kotak sumbangan sukarela di antara para mahasiswa lainnya. Arinta Agustina (40), dosen mata kuliah itu, sontak tergerak, lalu memotong-motong kertas origami yang sedianya akan diberikan kepada anaknya dan ditulisi ”Rp 500”, menjadi tiket menonton agar dijual mahasiswa tadi.


”Saya ingin menyadarkan bahwa seni adalah komoditas. Setiap mahasiswa yang ingin menjadi seniman agar terbebas dari level ’pengemis’, mempunyai posisi tawar, dan bisa menjaga keberlanjutan setiap karyanya,” kata Arinta, Sekretaris Jurusan Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Senin (3/11), di ruang kerjanya.

”Ini bagian dari pembaruan mental agar seniman mau menghargai diri sendiri,” ujar Arinta.

Sebagai institusi pendidikan seni, ISI Yogyakarta merespons bentuk tanggung jawab mempersiapkan peserta didik supaya siap terjun di tengah pasar. ISI Yogyakarta membentuk Jurusan Tata Kelola Seni pada 2014. Di antara institusi pendidikan seni lainnya, ini menjadi yang pertama di Indonesia.

”Selama ini ISI menghasilkan pencipta dan pengkaji seni, tidak ada pengelola seni,” kata Sudjud Sartanto, Ketua Jurusan Tata Kelola Seni.

Semula diusulkan nama Jurusan Manajemen Seni. Namun, sesuai nomenklatur yang diperbolehkan menjadi Jurusan Tata Kelola Seni. Pada angkatan pertama 2014 terdapat 38 mahasiswa. ”Promosi penerimaan mahasiswa untuk jurusan yang baru ini relatif singkat, hanya sebulan. Namun, antusiasme masyarakat cukup tinggi,” kata Sudjud.

Alasan atau motivasi pembentukan Jurusan Tata Kelola Seni, menurut Sudjud, lebih kurang sama dengan yang dilakukan Arinta untuk membentuk mahasiswa yang ingin menempuh jalan hidup sebagai seniman atau berhubungan dengan kerja seniman, menyadari seni itu komoditas. Walau tidak selamanya seni bisa diperlakukan sebagai komoditas guna mencari keuntungan.

”Melalui pendidikan tata kelola seni, setidaknya lulusannya nanti mampu merancang proyek yang tidak mendatangkan profit menjadi mendatangkan profit,” kata Sudjud.
Inferior

Melihat kondisi terkini masyarakat, kemudian membingkai menjadi pola pendidikan seni, merupakan tanggung jawab besar bagi para pendidik. Salah seorang dosen Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, mengatakan, masyarakat seni kita inferior.

”Kami pernah menghitung ada sekitar 200 profesi yang terkait dengan bidang kesenian. Untuk mengatasi kondisi masyarakat seni yang inferior, sebaiknya dibentuk asosiasi-asosiasi profesi itu,” kata Mikke.

Pendidikan seni untuk mendidik mahasiswa supaya tak inferior atau rendah diri diperlukan. Mikke yang juga mengajar mahasiswa di Jurusan Seni Murni itu, Selasa pagi keesokan harinya, menunjukkan salah satu kelas yang diasuhnya.

Pagi itu sekitar pukul 09.00 di Kampus ISI Yogyakarta di Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul. Udara pagi terasa sudah menghangat. Mikke mengajak sekitar 40 mahasiswa semester awal dengan mata kuliah Seni Lukis Dasar I ke ”plasa” kampus. Pelataran luas itu dinaungi pohon besar sebagai peneduh.

Setiap mahasiswa membawa sketsa masing-masing. Mikke didampingi dua dosen rekannya, I Gede Arya Sucitra dan Amir Hamzah, memberikan kritik seni terhadap setiap lukisan. Para dosen mempertanyakan motivasi pelukisan, mahasiswa mempertahankan dengan berbagai argumennya.

”Di mana ada matahari untuk sketsa mal Malioboro ini,” ujar Gede Arya.

Aneka jawaban mahasiswa, matahari ada di sebelah kanan atau kiri, tetap saja dipersalahkan Gede Arya. Penentuan posisi matahari sangat penting untuk membentuk efek sinar dan bayangan di dalam sketsa.

”Matahari ada di dalam mal itu,” kata Gede Arya. Ia ingin menunjukkan kritik seninya terhadap karya sketsa mahasiswa tadi yang tak lugas menentukan posisi matahari di dalam karyanya.

”Mahasiswa seni yang terbiasa dikritik tidak akan lagi inferior,” kata Mikke.

Menimba ilmu
Mahasiswa tidak selamanya menggeluti ilmu dan memperoleh bahan ajar hanya dari bangku kuliah. Di ISI Surakarta, Maharani Ayuk, mahasiswa Jurusan Tari, sempat menimba ilmu sekaligus mengukir prestasi seni tari di Tilburg, Belanda, pada 2012.

”Di Tilburg, saya mengikuti Mondial Festival tahunan dan menarikan kolaborasi hip-hop dengan stakato yang kunci tariannya sama dengan tarian Buta Cakil,” kata Maharani.

Buta Cakil populer sebagai tokoh antagonis dalam seni pertunjukan wayang wong (orang) di Jawa. Buta Cakil representasi keangkaraan manusia, selalu menjadi lawan tokoh baik seperti Arjuna. Gerak tarian Buta Cakil semarak dan patah-patah. Buta Cakil dengan keinginan jahatnya itu sering dikisahkan terbunuh oleh senjatanya sendiri.

”Kalau di New York, inspirasi gerak tari hip-hop pada sekitar 1920. Dengan adanya gerak tari Buta Cakil itu, sepertinya gerak tari hip-hop kita lebih awal,” kata Maharani.

Di Tilburg, Maharani berkolaborasi tari hip-hop dengan peserta dari Ghana. Ia memperoleh pengalaman kolaborasi yang sangat istimewa.

”Tarian dari Ghana itu lebih sering mengentakkan kakinya ke lantai. Saya menarikan peran Dewi Anjani dengan gerak tari stakatonya Buta Cakil, ketika Anjani memperoleh kutukan berubah menjadi kera,” kata Maharani.

Maharani pada 2014 memasuki tahun ketujuh kuliah. Ia
sempat cuti kuliah selama tiga tahun. Menimba ilmu baginya tidak hanya dari bangku kuliah. Apalagi di bidang seni, pengalaman selama masa kuliah sangatlah berarti untuk menunjang profesinya.

Mengasah keterampilan seni di dalam kampus tak kalah pentingnya dengan aktivitas di luar bangku kuliah. Fikri Musyafak dan Mohammad Hasanudin, dua mahasiswa semester 5 Program Studi Keris dan Senjata Tradisional Jurusan Kriya Fakultas Seni Kriya ISI Surakarta, mengungkapkan hal itu.

Fikri dan Hasanudin sedang ”nggebuk” baja bakal keris. Bilah baja itu dipanaskan terlebih dahulu hingga membara. Kemudian ditempa supaya pipih membentuk bilah keris.

”Saya ingin menjadi empu pembuat keris. Keris bisa diperjualbelikan, bisa untuk hidup,” demikian alasan Hasanudin memilih mata kuliah perkerisan itu. Ia berasal dari Nganjuk, Jawa Timur.

Begitu pula Fikri. Ia bercita-cita menjadi pengajar pembuatan keris. ”Saya sudah membuat tiga keris dengan pamor sinom, jangkung, dan tilam upe,” kata Fikri.

Hasanudin juga menghasilkan tiga keris dengan pamor berbeda-beda. Ia menamainya keris pasopati berpamor kulit semangka, tilam sari berpamor udan mas, dan dapur jalak berpamor wengkon.

”Pembuatan keris di dunia pendidikan ini menjadi satu-satunya di dunia,” ujar Joko Suryono, dosen Program Studi Keris dan Senjata Tradisional ISI Surakarta.

Menurut Joko, pengoleksian keris, terutama oleh para kolektor asing, terus bertambah. ketika tidak ada produksinya, keris sebagai benda seni seperti senjata-senjata tradisional lainnya menjadi makin langka.

Maharani, mahasiswa seni tari, serta dua mahasiswa seni kriya, Fikri dan Hasanudin, menunjukkan optimisme masing-masing. Mereka akan menjadi bagian dari masyarakat seni yang ditantang zaman untuk menjadikan seni sebagai komoditas. Namun, komoditas yang memberikan daya hidup bagi diri dan sesamanya.

Seperti yang diharapkan Arinta. Masyarakat seni akan selalu mempunyai posisi tawar dan mampu menjaga keberlanjutan karyanya di tengah masyarakat. (Nawa Tunggal)

Sumber: Kompas, 28 November 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: