Pendidikan Organisasi, Bujeting & Semangat Efisiensi

- Editor

Minggu, 16 September 2012

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANYAK yang menyarankan, jika nanti kuliah, jangan lupa untuk ikut berorganisasi. Kata banyak orang, IPK hanya mengantarkan kita pada meja wawancara, tetapi nanti yang mengantarkan kita ke meja direktur, ya, pengalaman dalam berinteraksi dengan orang. Memang, pendapat seperti ini tidaklah salah, malah bisa dikatakan benar. Bahkan, banyak juga pengalaman yang menyatakan kebenaran tersebut, salah satunya yang dialami ayah penulis.

Nah, sekarang, yang menjadi duduk persoalan adalah bagaimana budaya kita dalam mengatur organisasi mahasiswa tersebut ketika sudah kuliah dan bergabung dalam sebuah organisasi. Banyak yang akan kita rasakan, mulai dari hal yang biasa sampai yang luar biasa. Berterima kasihlah pada bapak dan ibu dekan karena kita telah diizinkan untuk berorganisasi. Terima kasih Pak, Bu.

Dalam kehidupannya, para mahasiswa aktivis kampus akan dihadapkan dengan banyak kegiatan dalam proses manajemen, dari planning, organizing, budgeting, controlling, hingga evaluating. Dari sekian proses tersebut, para mahasiswa pun pasti akan dihadapkan kepada proses membuat anggaran. Jangan bayangkan membuat anggaran mahasiswa akan serumit dan sekonfrontatif pembuatan anggaran di ruang badan anggaran DPR RI, sebuah ruang keramat bagi kelangsungan hidup bangsa. Dijamin mahasiswa tidak akan dibuat terlalu pusing dan serumit itu, karena semangatnya kan untuk belajar. Walau belajar, tapi pastinya tetap harus menjaga nilai-nilai moral.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mahasiswa dituntut untuk membuat anggaran sebaik mungkin demi terwujudnya sebuah program kerja yang baik dan sukses. Mereka diminta untuk memprediksi dan memperkirakan berapa uang yang akan dikucurkan demi berlangsungnya sebuah program. Para kakak seniornya akan mengajarkan bagaimana mereka untuk mendesain sebuah anggaran. Pertama, tentang cara untuk menyesuaikan ide dengan dana, lalu yang penting adalah bagaimana untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Di sini, pasti jurus dari gunung sebelah barat akan mengajarkan yang sering kita sebut sebagai dana “Mark-Up”.

Risk averse adalah sebuah sikap yang diajarkan juga di mata kuliah manajemen, sikap ini diambil untuk menghindari risiko. Lalu, para senior akan mengajarkan kepada juniornya untuk membuat dana “mark-up” agar risiko yang tidak diharapkan bisa ditanggulangi dengan dana ini. Terdapat semangat yang mulia di sini, untuk mengajarkan para aktivis muda agar selalu berhati-hati. Tetapi, langkah ini akan menjadi berbahaya jika dilakukan dengan salah.

Banyak kasus yang saya temukan, seperti melakukan mark-up terlalu tinggi. Padahal, di manajemen kita diajarkan untuk melakukan bujeting seefektif dan serealistis mungkin, karena kita memiliki kendala, yakni dana. Hal ini bisa dikatakan sebagai siklus atau memang hanya kesengajaan dari pihak tertentu dalam menentukan anggaran. Bayangkan jika hal ini terus berlanjut sampai nanti seorang mahasiswa beranjak dewasa dan menduduki jabatan-jabatan penting. Mungkin sampai sekarang, kasus korupsi paling banyak adalah tentang pengadaan barang, ada hubungannya mungkin dengan praktik ini. Tapi, tidak ada yang tahu, bukan?

Sudah sewajarnya dan sepantasnyalah mahasiswa melakukan bujeting sesuai dengan kebutuhan, daripada nanti banyak uang terbuang karena mark-up berlebihan. Selain itu, sudah seharusnya semangat untuk efisiensi anggaran kita budayakan. Terkait budaya efisiensi, barang siapa yang bisa efisien, ya, cepat majunya. Toh, mahasiswa membuat acara bukan untuk profit, tapi nilai apa yang harus ditanamkan pada acara-acara mahasiswa.

Ardhi Hiang Sawak
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM)
Ketua Umum BEM FEB UGM

Sumber: Okezone.com, Senin, 27 Agustus 2012 14:56 wib

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi
Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli
Menjadi Detektif Masa Depan. Mengenal Profesi Data Scientist yang Sedang Hits!
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:00 WIB

Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:38 WIB

Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB