Home / Berita / Pendidikan Kejuruan Tiongkok; Menuju Arah Negara Produsen

Pendidikan Kejuruan Tiongkok; Menuju Arah Negara Produsen

Produk Tiongkok membanjiri hampir seluruh negara di dunia. Ternyata hal itu tak terlepas dari proses penyediaan tenaga kerja yang berasal dari dunia pendidikan kejuruan.

Direktur Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh di Indonesia untuk Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMOLEC) Gatot Hari Priowirjanto membawa sedikitnya 40 kepala sekolah menengah kejuruan (SMK) mengunjungi sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok, 7-13 Juni 2014. Direktur Pendidikan, Kebudayaan, dan Pariwisata ASEAN-China Center Tri Purnajaya menyambutnya dan menyatakan, itu arah yang tepat untuk membawa dunia pendidikan menjadi negara produsen.

”Dari 2.000 sekolah menengah dan perguruan tinggi di Tiongkok, terdapat sekitar 600 lembaga yang berubah menjadi pendidikan kejuruan atau vokasi belakangan ini. Tidak salah kalau kita sekarang mengembangkan pendidikan vokasi untuk menjadi negara produsen seperti Tiongkok,” kata Tri.

Menurut Tri, Tiongkok sekarang sudah memajukan teknologi antariksanya dengan penjelajahan-penjelajahan baru ke Bulan. Tiongkok adalah satu-satunya negara berkembang yang sedang mempersiapkan pembuatan stasiun luar angkasa.

”Pengembangan teknologi antariksa Tiongkok ini salah satu bidang yang akhirnya juga menuntut perubahan dunia pendidikan konvensional menjadi kejuruan,” kata Tri.

Di luar bidang antariksa, produksi industri manufaktur Tiongkok sudah menguasai dunia. Negara-negara maju Eropa, Amerika, atau Asia, seperti Jepang, kini mulai memperhitungkan persaingan produk-produk dari Tiongkok.
Kereta api

Institut Teknologi Perkeretaapian Nanjing (Nanjing Institute of Railway Technology) di Nanjing adalah salah satu tujuan kunjungan rombongan. Gatot mengatakan, pengembangan teknologi perkeretaapian di Tanah Air sekarang mendapatkan momentum yang tepat.

”Nanjing Institute of Railway Technology memberikan beasiswa untuk 20 calon mahasiswa kita, diutamakan dari lulusan SMK. Ini tahap awal yang sangat bermanfaat,” ungkap Gatot.

Instruktur pada institut tersebut membawa Gatot beserta rombongan menilik laboratorium dan ruang praktik pendidikannya. Simulator lokomotif kereta api cepat menjadi salah satu ruang praktik paling menarik bagi rombongan.

”Saya membayangkan, tidak akan lama lagi kita juga memiliki kereta api cepat seperti ini,” katanya.

Ruang simulasi perjalanan kereta api dengan monitor lengkung berukuran besar juga menjadi bagian kunjungan yang menarik. Ketika berada di depan layar monitor lengkung itu, seolah-olah kita merasakan berjalan dengan kereta api di atas rel. Pada simulasi itu ditunjukkan daerah-daerah yang sedang dilintasi.

”Simulasi seperti ini sangat mudah untuk mengenalkan daerah wisata melalui perjalanan kereta api,” ujar dia.

Simulator kereta api bawah tanah sebagai angkutan umum massal di Nanjing Institute of Railway Technology juga mampu menjelaskan cara kerja kereta api. Beberapa kepala SMK mengabadikan dengan video miniatur sejumlah kereta api yang sedang melaju di simulator kereta bawah tanah tersebut.

Kereta api mini itu melaju di jalur rel yang bisa dilihat di bawah akrilik bening di atasnya. Ruang simulator kereta api bawah tanah itu cukup menggambarkan mekanisme kerjanya. Kapan kereta api bawah tanah itu bisa terwujud di Indonesia? Kira-kira itulah yang selalu terlontar dari para peserta.

”Beasiswa pendidikan kejuruan perkeretaapian ini hanya salah satu yang ingin kita tuju. Kita akan terus menjalin kerja sama pendidikan kejuruan ini untuk bidang manufaktur lain,” kata Gatot.

Beberapa perguruan tinggi lain yang sudah dikunjungi meliputi Beijing Institute of Technology, Jiangsu Institute of Commerce, Nanjing University of Information Science and Technology, Jiangsu Animal-Husbandry and Agriculture College, dan Wuxi Institute of Technology.

Pengembangan SMK
Perkeretaapian adalah salah satu bidang penting untuk dikembangkan melalui dunia pendidikan kejuruan. Saat ini, perkeretaapian masih memiliki operator tunggal, yaitu PT Kereta Api Indonesia. Namun, pengembangannya ke depan, melalui pendidikan kejuruan SMK, juga sangat dibutuhkan.

Menurut Gatot, SMK mulai berkembang. Peminatnya juga melonjak. Pada tahun 2004, jumlah peserta didik SMK baru 2,1 juta siswa. Jumlah itu meningkat dua kali lipat menjadi 4,3 juta siswa pada tahun 2013.

Mereka tertampung di 11.748 SMK negeri dan swasta dengan jumlah guru mencapai 219.000 orang. Ia menambahkan,sekalipun pertumbuhan siswa SMK meningkat saat ini, masih ada ketimpangan kualitas lulusan, kelemahan infrastruktur pendidikan, dan ketimpangan fasilitas pendidikan antara SMK unggulan dan yang lain.

Salah satu peserta kunjungan ke Tiongkok, Kepala SMK Negeri 13 Bandung Een Rohaeni, menyampaikan, beberapa siswa berprestasi yang lulus dari SMK mampu melanjutkan pendidikan ke universitas terkemuka di Tanah Air. Meski demikian,
peserta didik SMK cenderung bertujuan menjadi calon tenaga kerja terdidik sesuai bidangnya.

Gatot mengatakan, SEAMOLEC tengah memperjuangkan kesempatan bagi lulusan SMK untuk memperoleh beasiswa pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa itu terutama beasiswa pendidikan terbuka dan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informatika berbasis internet yang sekarang tumbuh pesat.

”Para penerima beasiswa nanti dituntut membukukan setiap pendidikan yang diperoleh di Tiongkok. Materinya akan dijadikan buku digital untuk program pendidikan terbuka dan jarak jauh SEAMOLEC,” kata Gatot. Kunjungan ke beberapa perguruan tinggi vokasi di Tiongkok merupakan langkah awal untuk meneguhkan SMK sebagai pencetak angkatan kerja berkualitas.

Oleh: Nawa Tunggal

Sumber: Kompas, 21 Juni 2014

——–

Sekolah Digital sebagai Pembelajaran Alternatif

Sistem belajar jarak jauh menjadi makin mudah dan lebih terarah dengan hadirnya sekolah digital berbasis teknologi internet. Inilah yang ingin dicapai Organisasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk Bidang Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh atau SEAMOLEC di Indonesia dengan menjalin kolaborasi pendidikan vokasi atau kejuruan di Tiongkok.

”Sekolah digital menjadi pembelajaran alternatif ketika sumber ilmu pengetahuannya berada di tempat yang jauh, seperti di Tiongkok,” kata Direktur SEAMOLEC Gatot Hari Priowirjanto, Rabu (11/6), ketika mengunjungi Jiangsu Agri-animal Husbandry Vocational College (JSAHVC) di Provinsi Jiangsu, Tiongkok bagian tenggara.

Gatot membawa rombongan yang terdiri atas sekitar 40 kepala sekolah menengah kejuruan (SMK). Turut serta perwakilan beberapa perguruan tinggi dan pejabat pemerintah daerah di Indonesia.

JSAHVC merupakan salah satu lembaga pendidikan tinggi vokasi atau kejuruan yang dikunjungi. Lembaga pendidikan ini menempati area sekitar 400 hektar. Dua bidang utama pendidikannya disebut Jiangsu Modern Animal Husbandry Science and Technology Park dan Jiangsu Chinese Herbal Medicine Science and Technology Park.

Para peserta rombongan diajak mengunjungi beberapa gedung berisikan koleksi hewan yang diawetkan. Tidak hanya dalam kondisi yang utuh, tetapi organ-organ hewan yang diawetkan juga menjadi koleksi yang menarik. Beberapa instruktur JSAHVC mempertontonkan sirkus anjing, kemudian mempertontonkan sabung ayam yang ternyata juga menjadi bagian dari tradisi yang masih terpelihara dengan baik di beberapa wilayah di Tiongkok.

Hal menarik lainnya, ketika para peserta rombongan diajak mengunjungi sekitar 20 kandang angsa. Angsa yang ada di kandang satu dengan yang lainnya hampir semuanya berbeda jenis.
Sumber ilmu

Bagi para peserta rombongan, JSAHVC menjadi sumber ilmu untuk pengembangan ternak atau berbagai jenis hewan. Namun, sejauh ini masih ada keterbatasan untuk mengadopsi pengetahuan.

”Peternak kami tidak mudah meraih keuntungan, terutama untuk komoditas ayam, karena selama ini terbebani harga pakan yang tinggi. Ini membutuhkan solusi teknologi yang mungkin bisa diperoleh dari sini (Tiongkok),” kata Wali Kota Kediri, Jawa Timur, Abdullah Abu Bakar, satu-satunya kepala daerah yang turut serta dalam kunjungan SEAMOLEC tersebut.

Menurut Gatot, inilah pentingnya kolaborasi pendidikan yang ingin dijalin dengan Tiongkok. Saat ini diprioritaskan program beasiswa, terutama untuk lulusan SMK.

”Penerima beasiswa nantinya dibebani agar membukukan aktivitas belajarnya di Tiongkok ke dalam blog (ruang maya) masing-masing. Kemudian, materinya akan disusun menjadi buku digital,” kata Gatot.

Selama tiga tahun terakhir, SEAMOLEC mengembangkan sekolah digital dengan penerbitan buku digital mencapai 1.500 judul. Sebagian besar buku digital selama ini diproduksi guru SMK untuk meraih kredit poin dan menunjang proses belajar-mengajar.

”Buku digital juga akan dikerjakan para lulusan SMK yang mendapat beasiswa belajar ke Tiongkok. Ini menjadi pembelajaran alternatif bagi siswa-siswa SMK lainnya di Indonesia,” ujar Gatot.

Sekolah digital, diharapkan Gatot, menjadi sekolah dengan sistem informasi akademik terlengkap. (NAWA TUNGGAL)

Sumber: Kompas, 24 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: