Home / Berita / Pendekatan Baru: Saatnya Menerawang Masa Depan

Pendekatan Baru: Saatnya Menerawang Masa Depan

“Si Buta Huruf masa depan bukanlah orang yang tidak bisa membaca, (tetapi) orang yang tidak tahu bagaimana belajar”. (Alvin Toffler, 1928-2016, Brainyquote)

Mendadak saja nama futuris Amerika Serikat ini berkelebat saat mengawali tulisan pengantar ini. Toffler dikenal karena buku-bukunya tentang teknologi modern dan terlebih lagi tentang penerawangannya mengenai masa depan, khususnya seperti yang ia tuangkan dalam Future Shock (1970) dan The Third Wave (1980).

Meski menaruh perhatian pada masa depan, Toffler menegaskan, dirinya bukanlah peramal. Seperti kutipan ucapannya yang lain, ”No serious futurist deals in prediction. These are left for television oracles and newspaper astrologers”. Selain Toffler, pada dekade 1980-an dan 1990-an populer pula nama John Naisbitt yang menulis buku Megatrends (1982) dan Megatrends 2000 (1990).

Memang ada unsur-unsur prakiraan dalam buku-buku Toffler dan Naisbitt, tetapi apa yang mereka tulis mereka dasarkan pada apa yang berkembang pada satu masa, lalu mereka menarik garis proyeksi, atau mengekstrapolasikan, apa yang berkembang untuk menerawang apa yang diyakini akan mewujud pada suatu saat di masa depan.

KOMPAS/JANNES EUDES WAWA–Robot ini mampu memilah bahan makanan di pabrik sehingga waktu pun lebih pendek. Ini bagian dari kecerdasan buatan yang diperkenalkan Panasonic dalam pameran di Tokyo pada 30 Oktober-3 November 2018.

Seperti ditegaskan Toffler di atas, futuris bekerja tidak sebagaimana juru ramal atau cenayang yang menjadi medium jagat tak tampak.

Kecerdasan buatan
Bahasan tentang urusan masa depan dan peramalan bisa saja kita panjangkan, tetapi pengantar ringkas ini sekadar ingin menyampaikan sejumlah hal terkait dengan pentingnya masa depan, yang—menurut film Kung Fu Panda—merupakan misteri, yang menurut Doris Day dalam lagu ”Que Sera Sera”, ”The future’s not ours to see”.

Kita sebut lagi Toffler karena dua hal. Pertama, karena ia menerawang ke masa depan berdasar tren besar yang menguat dan diyakini akan memegang peran dominan di masa depan. Kedua, melalui kutipan pertama yang kita tulis di atas, ada kaitan penting dengan apa yang dihadapi oleh insan modern yang kini tengah menyongsong datangnya Revolusi Industri 4.0.

Dalam The Third Wave, Toffler mengatakan, teknologi yang akan dominan di era gelombang ketiga adalah penerbangan dan eksplorasi angkasa, telekomunikasi dan pengolahan data, bioteknologi dan rekayasa genetika, serta nuklir dan energi terbarukan, dengan mikroelektronika sebagai penyangga utama.

Dalam Revolusi Industri 4.0 ada, antara lain, kecerdasan buatan (AI), robotika, dan cetak tiga dimensi. Di luar itu masih ada wacana yang sudah cukup kita akrabi, seperti big data dan internet of things serta machine learning.

Salah satu konsekuensi dari datangnya zaman baru dengan teknologi yang mutakhir ini adalah ”kemampuan untuk menjadi insan pembelajar seumur hidup”.

Ini meniscayakan bahwa pendidikan pun harus mendisrupsi diri, dalam arti tidak sekadar sebagai penyalur pengetahuan yang berubah cepat, tetapi juga sebagai lembaga yang mampu menjadikan anak didiknya ”pembelajar seumur hidup”.

Hal ini ada kaitannya dengan berubahnya orientasi Laporan Akhir Tahun Kompas yang telah menjadi tradisi sejak bertahun-tahun silam. Selama ini, laporan akhir tahun berciri kaleidoskopik, kilas balik.

Tradisi selama bertahun-tahun ini bukannya tanpa makna dan faedah. Justru karena manusia bisa terperosok berulang kali, sementara keledai hanya sekali, serta adanya ungkapan Perancis, l’histoire se repete (sejarah berulang), laporan akhir tahun berciri kilas balik bisa menjadi pengingat.

Namun, terlalu lama berhanyut diri dalam nostalgia juga kurang bijak. Sejumlah perkembangan terakhir menggarisbawahi urgensi ini. Antara lain, informasi semakin cenderung keruh: banyak, simpang siur, membingungkan, dan banyak di antaranya palsu (fake). Hoaks juga merebak. Sungguh memprihatinkan dan dalam soal ini masyarakat luas perlu panduan.

Dalam kondisi inilah Kompas—sesuai makna harfiah namanya—semakin dituntut untuk menjadi suluh dan pemberi arah. Tanpa berpretensi menjadi futuris, Kompas ingin mengubah orientasi laporan akhir tahunnya dengan tetap memberikan tempat untuk hari kemarin, tetapi ingin lebih memberi gambaran tentang hari esok.

Untuk itulah, di pengujung tahun 2018 ini, Kompas menurunkan sejumlah topik yang berkarakter menerawang masa depan, setidaknya tahun 2019. Genre menerawang hari esok bukan hal baru. Menjelang akhir tahun, sekitar akhir November, media Inggris The Economist telah meluncurkan edisi tahunan, kali ini ”The World in 2019”.

Sebagaimana edisi tahun-tahun sebelumnya, analisis dalam format majalah ini menampilkan pemimpin dunia yang diprediksi tampil di panggung politik utama, keamanan kawasan, juga isu-isu lain yang krusial, seperti pemanasan global.

Tentu perubahan paradigma membutuhkan waktu untuk reorientasi, tetapi keputusan untuk mengubah ini didasari keyakinan bahwa menerawang masa depan melahirkan sikap baru, yakni sikap proaktif, tanpa berpretensi weruh sakdurunge (melihat sebelum kejadian).

Proaktif, sikap riding the wave (menunggangi gelombang), meniscayakan bekal pengetahuan, data, dan kemampuan menganalisis, yang pada era masa kini mungkin membutuhkan machine learning.

Menerawang 2019 dalam topik utama adalah menerawang pemilihan presiden dan pemilu dengan segenap dinamikanya, juga prospek ekonomi Indonesia di tengah gejolak ekonomi dunia.

Dalam situasi yang kritikal inilah Kompas ingin menguji dirinya untuk tetap dapat menjadi penunjuk arah dan memberi aufklarung (pencerahan) bagi pembaca dan audiensnya.–NINOK LEKSONO

Sumber: Kompas, 14 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: