Home / Berita / Pencegahan DBD Terlambat, 100 Orang Meninggal

Pencegahan DBD Terlambat, 100 Orang Meninggal

Sejak 1 Januari 2020 hingga 8 Maret 2020, 100 orang meninggal akibat demam berdarah dengue atau DBD di Indonesia. Kematian tertinggi, 14 kasus, terjadi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, sejak 1 Januari 2020 hingga 8 Maret 2020, jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 100 orang dari 28 provinsi di seluruh Indonesia. Tingginya jumlah kematian itu disebabkan oleh keterlambatan pencegahan dan penanganan serta minimnya kesadaran masyarakat untuk deteksi dini.

Dari 100 kematian itu, angka tertinggi dilaporkan terjadi di Nusa Tenggara Timur (32 kasus), Jawa Barat (15 kasus), serta Jawa Timur (13 kasus). Jumlah kasus DBD sebanyak 16.099 kasus. Angka terbanyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 2.713 kasus, Lampung (1.837 kasus), serta Jawa Timur (1.761 kasus).

Di wilayah NTT, kasus DBD terbanyak terjadi di Kabupaten Sikka dengan jumlah kasus mencapai 1.197 kasus, dan 14 kasus di antaranya dilaporkan meninggal. Kini, kabupetan ini telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) DBD.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, di sela-sela kunjungannya di Rumah Sakit Umum Daerah TC Hillers di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (9/3/2020), menuturkan, deteksi dini pasien DBD sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Ketika ditemukan gejala DBD, pasien harus segera dibawa ke pelayanan kesehatan.

“Kalau pasien meriang atau demam lebih dari dua hari, harus segera dibawa ke rumah sakit, dicek kadar trombosit. Jika trombositnya rendah, harus segera ditolong supaya jangan terjadi dengue shock syndrome,” tuturnya.

Perlu juga dipastikan tenaga kesehatan serta ruang perawatan untuk menampung pasien DBD. Untuk membantu Kabupaten Sikka, lanjut Terawan, pemerintah telah mengirim sejumlah bantuan, antara lain 30 tenaga kesehatan, 1.500 botol cairan infus, serta 30 liter cairan insektisida.

Kepala Dinas Kesehatan NTT Dominikus M Mere menyampaikan, ada tiga rumah sakit rujukan bagi pasien DBD di Kabupaten Sikka, yaitu RSUD TC Hillers, RS Santo Gabriel Kewapante, dan RS Santa Elisabeth Lela. Kapasitas di rumah sakit itu cukup untuk menampung pasien setempat.

Namun, dalam tinjauan langsung di RSUD TC Hillers, setidaknya ada enam orang yang dirawat di ruang perawatan geriatri (kesehatan lansia). Ada 97 pasien yang dirawat di rumah sakit itu, 20 orang usia dewasa dan 77 orang usia anak.

Pencegahan terlambat
Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyatakan, upaya pemberantasan sarang nyamuk mendesak digiatkan di daerah dengan kasus DBD. Di Kabupaten Sikka, misalnya, fogging (pengasapan) secara massal diperlukan untuk menekan jumlah nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularan demam berdarah.

“Sebagian masyarakat belum sadar kebersihan lingkungan. Tampungan air yang jarang dibersihkan jadi tempat berkembangnya jentik nyamuk. Tingginya kasus DBD karena pencegahan terlambat,” ucapnya.

Bupati Kabupaten Sikka Fransiskus Roberto Diogo menuturkan, pemerintah daerah mendorong pemberantasan sarang nyamuk secara massal selama 14 hari. “Sudah ada arahan bagi masyarakat untuk membersihkan lingkungan, hanya belum masif,” ucapnya.

Secara terpisah, Anggota DPRD Sikka, Charles Bertandi mengatakan, tindakan promotif dan prefentif tidak berjalan maksimal oleh Pemkab Sikka sehingga berujung pada kejadian luar biasa DBD. Ini terbukti dengan alokasi anggaran untuk promotif, dan prefentif penyakit menular sangat minim.

Direktur Yayasan Bola Kemanusiaan Sikka Yie Gae Tjie di Maumere, menyoroti rendahnya pemahaman masyarakat akan ancaman nyamuk vektor DBD. “Ketika saya bicara soal nyamuk, masyarakat langsung sambar, nyamuk cukup diusir dengan menanam sereh atau bunga lavender di pekarangan rumah, nyamuk tidak berani datang. Ketika ditanya, kamu sudah tanam, mereka menjawab belum. Pernah lihat tanaman itu, belum pernah, hanya dengar,” katanya.

Sebagian masyarakat Sikka berpandangan, mengonsumsi daun pepaya mentah, virus yang disebabkan nyamuk jenis apa saja, masuk di dalam tubuh akan mati. Soal nyamuk, mereka beranggapan bukan kali ini saja menggigit mereka, tetap sejak nenek moyang, sudah sering menggigit, mereka masih hidup sampai hari ini.

Di sisi lain, air bersih menjadi begitu penting dan berharga bagi mayoritas masyarakat di desa-desa. Masalah ini, mendorong sebagian masyarakat menadah air hujan dari atap rumah selama musim hujan untuk minum, mandi, memasak, dan mencuci. Air ini kemudian menampung jentik-jentik nyamuk tetapi tidak mereka sadari.

Di Jawa Barat
Dari Bandung, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Berli Hamdani, mengungkapkan, pada Januari sampai Februari 2020, sejumlah 15 orang meninggal akibat DBD di Jawa Barat. Di periode yang sama tahun 2019, jumlah korban jiwa mencapai 49 orang. Penurunan angka kematian tersebut tidak dapat disimpulkan pencegahan DBD sudah optimal. Sebab, tingginya kasus DBD di 2019 dikarenakan siklus lima tahunan.

KOMPAS/KEMENTERIAN KESEHATAN–Jumlah Kasus meninggal akibat DBD hingga Minggu peken ke-10 tahun 2020

Pemerintah daerah menerapkan kebijakan satu juru pemantau jentik (jumantik) di setiap rumah. Namun, kebijakan ini belum menyeluruh di kabupaten/kota. “Pencegahan DBD sangat membutuhkan peran aktif masyarakat. Salah satu caranya dengan rutin memantau jentik nyamuk di tempat-tempat penampungan air,” ujarnya.

Di tengah merebaknya Covid-19, kewaspadaam terhadap DBD tidak boleh berkurang. Sebab, jika pasien DBD terlambat ditangani berpotensi menyebabkan kematian

“Jadi, kita tetap tidak boleh lengah. Apalagi, musim hujan belum berakhir sehingga nyamuk akan terus berkembang biak,” ujarnya.

KOMPAS/KEMENTERIAN KESEHATAN–Jumlah Kasus DBD hingga pekan ke-10 tahun 2020

Oleh DEONISIA ARLINTA / TATANG MULYANA SINAGA / KORNELIS KEWA AMA

Editor: ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 10 Maret 2020

Share
x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...