Pemodelan Ungkap Sumber Tsunami dari Anak Krakatau

- Editor

Senin, 24 Desember 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber tsunami yang melanda pesisir Banten dan Lampung semakin menemukan titik terang. Pemodelan yang dilakukan telah menyingkap sumber tsunami ini berasal dari Anak Krakatau.

“Kasus tsunami Selat Sunda ini kompleks karena ada dua parameter yang tidak diketahui, yaitu lokasi sumber dan waktu kejadian,” kata peneliti tsunami dari Indonesia yang bekerja di GNS Science, Selandia Baru, Aditya R. Gusman, yang dihubungi, Minggu (23/12). Aditya merupakan ahli dalam pemodelan tsunami.

Dengan memakai waktu tiba tsunami di pesisir tide gauge dari BIG (Badan Informasi Geospasial), Aditya berhasil menemukan lokasi sumber dan waktu terjadinya peristiwa yang memicu tsunami. “Saya menggunakan metoda backward tsunami propagation time berdasar waktu tiba sinyal di setiap stasiun untuk mencari lokasi dan waktu kejadian di sumbernya,” kata Aditya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

–Dengan metoda backward tsunami propagation time dan waktu tiba signal di setiap stasiun, diketahui sumber tsunami berada di disekitar kepulauan Anak Krakatau dan waktu kejadian sumber tsunami pada 21:02 WIB. Warna paling merah adalah perkiraan lokasi sumber tsunami. Segitiga hijau adalah lokasi stasiun tide gauge. Sumber: Aditya Gusman, 2018

Hasilnya sumber tsunami diprediksi berada di sekitar kepulauan Anak Krakatau dan waktu kejadian sumber tsunami pada 21.02 WIB. Jika mengacu data tide gauge BIG, atau alat pemantau muka air laut di Serang, gelombang tsunami tiba paling awal di Serang, yaitu pada pukul 21.27 WIB dengan ketinggian 0,9 meter. Berikutnya, di Banten tiba pukul 21.33 WIB dengan ketinggian 0,35 meter, di Pelabuhan Panjang, Lampung pukul 21.53 WIB dengan ketinggian 0,28 meter.

Waktu jeda tsunami
Berdasarkan data ini, waktu jeda tsunami dengan tibanya di pantai Serang sebenarnya cukup lama, yaitu sekitar 25 menit, sedangkan di Banten 31 menit dan Lampung 51 menit. “Kecepatan tsunami itu berubah-ubah tergantung kedalaman di mana tsunami merambat. Semakin dalam lautnya, semakin cepat,” kata dia.

Jadi, sekalipun jarak pesisir Banten dengan sumber tsunami jauh, namun waktu tibanya lebih lambat dibandingkan Lampung. Ini karena dinamika batimetri ke arah Lampung yang lebih dalam.

Ahli tsunami dari Institut Teknologi Bandung Hamzah Latief, mengatakan, pemodelan ini menguatkan dugaan semula bahwa tsunami dipicu aktivitas di sekitar Anak Krakatau yang saat ini mengalami erupsi. Tsunami di Selat Sunda bisa terjadi dengan akibat longsoran atau guguran lava. Juga bisa akibat pertemuan antara lava panas dengan air terutama jika terdengar ledakan. “Ini seperti saat menggoreng ikan di wajan panas, cuma ini yang panas ikannya sedangkan minyaknya yang dingin,” ungkapnya.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 23 Desember 2018

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB