Home / Berita / Terobosan Peringatan Dini Tsunami

Terobosan Peringatan Dini Tsunami

Sejumlah ilmuwan, salah satunya dari Indonesia, sukses mengembangkan metode yang memungkinkan pembuatan peta rendaman tsunami tiga menit setelah gempa bumi. Nantinya publik bisa mengetahui informasi rinci jarak dan tinggi rendaman gelombang tsunami di darat yang berguna dalam peringatan dini.

”Kami mengembangkan metode ini dua tahun terakhir,” kata Aditya Gusman, peneliti asal Indonesia di Earthquake Research Institute, Universitas Tokyo, Jepang, lewat surat elektronik, Senin (13/10). Riset dipublikasikan di Journal of Disaster Research Volume 9 Nomor 3, 2014.

Selain Aditya, para ilmuwan yang turut mengembangkan metode itu adalah Prof Yuichiro Tanioka, salah satu ahli tsunami di Jepang; Breanyn MacInnes dari Central Washington University; dan Hiroaki Tsushima, peneliti tsunami dari Japan Meteorological Agency.

16042012_sistem-peringatan-dini-tsunami-di-indonesiaMenurut Aditya, metode yang diberi nama NearTIF (Near-field Tsunami Inundation Forecasting) itu dapat menghasilkan peta rendaman tiga menit setelah gempa. Sebagai perbandingan, untuk menyimulasikan 15 lokasi sepanjang Pantai Sanriku perlu waktu sekitar 40 jam dengan metode biasa. ”NearTIF 800 kali lebih cepat daripada numerical modeling dengan menggunakan komputer yang sama,” katanya.

Model baru itu lebih murah karena hanya memerlukan komputer kerja biasa. ”Yang kami perlukan membangun basis data peta rendaman tsunami dari ratusan ribu simulasi dengan berbagai skenario gempa yang dibangun sebelum tsunami terjadi,” ujar Aditya.

Aditya dan tim menemukan kemiripan bentuk gelombang tsunami antara simulasi resolusi rendah dan simulasi resolusi tinggi. ”Dengan ditemukannya kemiripan ini, saat gempa terjadi, sistem hanya perlu menyimulasikan tsunami dengan resolusi grid rendah yang hanya perlu waktu dua menit. Berdasarkan kemiripan bentuk gelombang tsunami, algoritma mencari dan menghasilkan peta rendaman tsunami,” ungkapnya.

Melalui dukungan data batimetri dan data lain, Aditya memperkirakan butuh waktu 1-2 tahun untuk membangun basis data di Indonesia. (AIK)

Sumber: Kompas, 14 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: