Home / Berita / Pembunuh Senyap dari Selat Sunda

Pembunuh Senyap dari Selat Sunda

Pantauan udara garis pantai di kawasan Banten yang terdampak tsunami dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). Bencana tersebut menimbulkan ratusan korban jiwa, sebagian luka-luka dan korban hilang serta kerusakan pada gedung-gedung, permukiman hingga kapal nelayanPenanganan darurat dampak bencana terus dilakukan pihak BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian PU Pera, Kementerian ESDM, dan embaga terkait terus bersama pemerintah daerah.

Tanpa peringatan, gelombang laut menerjang pesisir di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12) malam. Dari karakteristiknya, tak terbantahkan lagi bahwa gelombang yang menghancurkan itu adalah tsunami. Sekalipun mekanismenya masih diperdebatkan, namun sumbernya diduga kuat berasal dari Anak Krakatau.

Tsunami yang melanda Banten dan Lampung kali ini mengingatkan pada fenomena orphan tsunami (tsunami yatim) karena tidak diketahui asal-usulnya. Istilah orphan tsunami ini awalnya dikemukakan geolog dari US Geological Survey, Brian F Atwater, yang berhasil menyingkap asal-usul tsunami yang menghancurkan pesisir Jepang pada 2 Desember 1611 yang menewaskan 5.000 orang. Dalam berbagai literatur kuno Jepang disebutkan, tsunami saat itu terjadi tiba-tiba, tanpa didahului guncangan gempa bumi.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Kawasan Terdampak Tsunami

Penyebab tsunami saat itu baru diketahui setelah Atwater menerbitkan bukunya pada 2005, The Orphan Tsunami of 1700. Disebutkan, tsunami ratusan tahun lalu itu bersumber dari gempa di Kaskadia, Amerika Serikat, dipisahkan Samudra Pasifik sejarak 8.000 km.

Bahkan, tsunami yang melanda pesisir Selat Sunda ini awalnya tidak diakui keberadaannya. Hingga Sabtu pukul 23.03 WIB, akun resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), melalui twitter menyebutkan,”BMKG tidak mencatat adanya gempa yang menyebabkan tsunami malam ini. Yang terjadi di Anyer dan sekitarnya bukan tsunami, melainkan gelombang air laut pasang. Terlebih malam ini ada fenomena bulan purnama yang menyebakan air laut pasang tinggi. Tetap tenang.”

Informasi ini kemudian diamplifikasi oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, sebelum kemudian dikoreksinya. “Kami awalnya mengacu BMKG yang menyatakan gelombang pasang bulan purnama, lalu jam 01.30 WIB diralat menjadi tsunami,” kata Sutopo.

Dalam siaran pers yang disampaikan lewat tengah malam, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kemudian mengatakan,”Setelah kami analisis lebh lanjut itu merupakan gelombang tsunami. Tipe gelombangnya mirip gelombang tsunami yang terjadi di Palu.”

Ahli tsunami dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Hamzah Latief mengatakan, melihat karakteristik gelombang laut yang menghancurkan pesisir Banten dan Lampung, jelas sebagai tsunami. “Gelombang panjang atau periode gelombang kali ini lebih besar dari gelombang angin, dan sifatnya membesar saat mendekati pantai,” kata Hamzah, Minggu (23/12).

Menurut Hamzah, tsunami terjadi karena ada daya yang menggerakkan kolom air laut, baik dari bawah maupun dari permukaan. Hal ini bisa diakibatkan oleh gempa bumi, longsor bawah laut, erupsi dan atau guguran lava gunung api, tekanan atmosfer atau meteorologi, atau terjangan benda padat di permukaan seperti longsoran tebing di permukaan laut hingga tumbukan meteor, yang membangkitkan sederatan gelombang dan membesar saat mendekat pantai.

Lalu, apa yang memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung?

BMKG telah menyatakan tidak merekam adanya gempa bumi tektonik di Selat Sunda sebelum kejadian. “Peristiwa ini tidak terkait aktivitas gempa tektonik,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono

Demikian halnya, dari aspek meteorologi juga tidak terekam adanya badai tropis ataupun tekanan atmosfir signifikan yang bisa menjadi pemicu tsunami. “Tekanan udara di sekitar selat sunda relatif kecil untuk memicu terjadi meteotsunami (tsunami dipicu oleh meteorologi). Pola aliran udara cenderung bergerak atau bergeser ke barat,” Deputi Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo.

Jika demikian, kandidat lain penyebab tsunami tinggal aktivitas Anak Krakatau yang sejak beberapa bulan terakhir mengalami erupsi. Namun demikian, data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan, letusan Anak Krakatau pada Sabtu malam, sama seperti hari-hari sebelumnya. Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan menyebutkan, pada pukul 21.03 terjadi letusan, namun belum dipastikan apakah hal ini yang menjadi penyebab tsunami.

Pemodelan
Namun, Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia Gegar Prasetya meyakini, tsunami kali ini dipicu runtuhknya sebagian tubuh Anak Krakatau. “Saya pernah membuat pemodelan dengan skenario ini,” kata dia.

Pemodelan yang dibuat Gegar pada tahun 2008, dengan diameter Anak Krakatau telah mencapai 4 kilometer dengan ketinggian 273 meter pada saat itu. Tsunami disimulasi bisa dipicu letusan dengan skenario runtuhnya seluruh tubuh gunung.

Lewat simulasi itu, dalam waktu 45 menit sebagian besar gelombang telah mencapai pesisir di sekitar Selat Sunda dan masuk ke Laut Jawa. Gelombang paling tinggi sekitar 9 meter menimpa Ujung Kulon. Sementara di sepanjang Anyer, Carita, dan Labuan, ketinggian gelombang 4 meter hingga 7 meter. Gelombang pertama yang mencapai lokasi-lokasi tersebut dalam waktu 28-60 menit. Di pesisir Sumatera, ketinggian gelombang 1,5 meter hingga 4 meter dan gelombang pertama yang mencapai pantai dalam waktu 18-66 menit.

Dalam simulasi itu terlihat betapa ketinggian gelombang tsunami, bisa lebih tinggi dari kejadian kali ini. “Pemodelan kami saat itu menggunakan skenario terburuk jika seluruh tubuh Anak Krakatau runtuh. Yang terjadi kali ini, hanya sebagian saja yang runtuh,” kata Gegar.

Peneliti tsunami dari Indonesia di GNS Science, Selandia Baru, Aditya R Gusman, menemukan lokasi sumber dan waktu peristiwa pemicu tsunami kali ini dengan menghitung waktu tiba tsunami di pesisir menurut data tide gauge Badan Informasi Geospasial atau alat pemantau muka laut. Hasilnya, sumber tsunami diprediksi sekitar kepulauan Anak Krakatau dan waktu kejadian sumber tsunami pukul 21.02.

Analisis citra satelit sebelum dan sesudah tsunami oleh peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Agustan, menemukan longsoran di barat selatan Anak Krakatau. ”Bidang longsoran 300 meter kali 1.800 m,” ujarnya.

Analisis citra satelit sebelum dan sesudah kejadian tsunami oleh peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agustan menemukan bukti-bukti terjadinya longsoran di sisi barat selatan Anak Krakatau. “Dari hitungan sementara, bidang longsoran sekitar 300 m (meter) kali 1.800 m. Untuk tinggi bidang longsornya masih dihitung,” kata Agustan.

Menurut Gegar, dalam sejarahnya, Gunung Krakatau kemungkinan sudah beberapa kali menimbulkan tsunami saat meletus. Catatan pujangga Jawa, Rongowarsito, juga menyebutkan, sekitar tahun 416, Krakatau purba meletus hebat dan mengirim tsunami hingga jauh ke pedalaman Lampung dan Pulau Jawa. Sedangkan letusan Krakatau pada tahun 1883 yang memicu runtuhnya tubuh gunung telah menyebabkan tsunami hingga ketinggian lebih dari 20 meter dan menelan korban jiwa hingga 36.000 jiwa di pesisir Banten dan Lampung.

Berdasarkan katalog tsunami Soloviev dan Go (1974), sejak tahun 416 telah terjadi 11 kali tsunami di Selat Sunda. Kajian Yudhicara dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi dan K Budiono dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan-Badan Geologi tahun 2008 menemukan, tsunami di Selat Sundaini bisa berasal dari beragam sumber.

Disebutkan, dari sejumlah tsunami ini ini, tiga di antaranya disebabkan erupsi gunung api bawah laut Krakatau, yaitu pada tahun 416, 1883, dan 1928. Sedangkan tsunami yang dipicu gempa bumi terjadi pada tahun 1722, 1852, dan 1958. Penyebab lainnya, menurut Yudhicara dan Budino, diduga akibat kegagalan lahan berupa longsoran baik di kawasan pantai maupun di dasar laut, yaitu pada tahun 1851, 1883, dan 1889.

Dengan jejak keberulangan tsunami di Selat Sunda ini, seharusnya perhatian memang banyak dilakukan di daerah ini. Apalagi, kawasan pesisir Lampung dana terutama Banten merupakan kawasan wisata dan industri yang berisiko tinggi.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 25 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: