Pemikiran J Drost; Ujian Nasional, Ujian Penghabisan yang Tidak Perlu

- Editor

Rabu, 11 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ujian nasional berbasis komputer yang dimulai 2014 untuk SD, SMP, dan SMA memang mampu mengurangi praktik pembocoran soal. Namun, tetap saja ini modifikasi ujian penghabisan yang dipandang tokoh pendidik Josephus Ignatius Gerardus Maria Drost SJ (1925-2005), sesungguhnya tidak diperlukan.

Drost menuangkan pemikiran itu pada bukunya, Reformasi Pengajaran, Salah Asuhan Orang Tua? (2000). Drost, lahir di Jakarta dan menjadi pastor Jesuit yang kemudian dikenal sebagai tokoh pendidik dan pembelajar yang banyak memberikan sumbangan pemikiran segar untuk pembaruan pendidikan di Indonesia.

Drost lulus dari Institut Teknologi Bandung tahun 1957 sebagai sarjana fisika. Ia menerima tahbisan imamat sebagai pastor pada 1960 di Yogyakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Drost pernah ditugaskan sebagai Kepala SMA Kanisius Jakarta pada 1976-1987. Selanjutnya, sebagai Kepala SMA Gonzaga Jakarta (1987-1991). Namun, sebelumnya Drost pernah menduduki jabatan lebih tinggi sebagai Rektor IKIP Sanata Dharma pada 1964-1967 (kini Universitas Sanata Dharma) di Yogyakarta.

Tes meninggalkan sekolah
Ujian akhir di setiap jenjang SD, SMP, dan SMA disoroti Drost semata sebagai tes hasil menghafal. Anak didik yang pandai menghafal akan mendapatkan nilai yang baik.

Seperti di negara lain, Drost menganjurkan agar ujian akhir itu digantikan menjadi tes untuk meninggalkan jenjang sekolah tersebut. Materi ujiannya berupa tes psikologis untuk memberikan gambaran yang tepat mengenai kemampuan belajar anak di jenjang sekolah berikutnya.

Kini, ujian nasional berbasis komputer (UNBK) dimaksudkan pemerintah untuk pencapaian standar pendidikan. Drost menawarkan hal yang lebih dari sekadar mencapai sebuah standar pendidikan. Drost menyodorkan pemikiran tes untuk meninggalkan jenjang sekolah itu guna mencapai sebuah kematangan emosional dan intelektual ketika ingin memulai studi di jenjang berikutnya.

Pengamatan Drost cukup relevan hingga kini. Kurikulum universitas cukup baik, tetapi tidak cocok bagi kebanyakan mahasiswanya. Mahasiswa juga tak memiliki kemampuan belajar yang baik di universitas, tetapi memaksakan diri sehingga menjadi lulusan yang tidak bermutu dan sulit mendapatkan pekerjaan.

Kunci keberhasilan
Pembentukan potensi belajar dengan kematangan emosional dan intelektual menjadi kunci keberhasilan anak didik di setiap jenjang pendidikan. Ini yang tidak pernah kita sadari.

Drost mencatat kebiasaan buruk, yaitu mencari kambing hitam, ketika lulusan universitas itu tidak bermutu. Tak ada yang berani mengaku bahwa sewaktu masuk universitas itu tidak mempunyai kematangan emosional dan intelektual. Itu karena memang mereka tidak bisa memperolehnya melalui proses pembelajaran di sekolah menengah.

Kemudian ada catatan Drost yang tidak kalah menariknya. Ada kekeliruan besar mengenai tujuan pendidikan bagi orangtua dan sekolah yang semata ingin menjadikan anak pandai dalam hal meraih nilai pelajaran yang baik.

Itu dianggap sebagai kekeliruan besar oleh Drost karena tujuan pendidikan sesungguhnya untuk membantu anak tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Orang dewasa mandiri itu sebagai orang yang mengetahui dirinya, baik keunggulan maupun kelemahan, yang kemudian mampu bertanggung jawab serta penuh perhatian kepada sesamanya.

Pemikiran-pemikiran Drost ini tidak akan pernah usang. Tetapi, ini bisa hilang karena mata kita selalu dibutakan oleh prestasi-prestasi semu yang dituangkan di atas kertas hasil nilai ujian nasional.(NAWA TUNGGAL)
———-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Mei 2016, di halaman 12 dengan judul “Ujian Nasional, Ujian Penghabisan yang Tidak Perlu”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 128 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB