Home / Berita / Pemetaan Genetika di Kalimantan Dimulai

Pemetaan Genetika di Kalimantan Dimulai

Peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memeriksa genetika masyarakat Punan. Kajian ini diharapkan menjawab asal-usul, migrasi, dan pola adaptasi masyarakat pemburu dan peramu terakhir di Pulau Kalimantan.

Pengambilan sampel dilakukan di Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, 21-25 Mei 2018. Desa ini adalah daerah paling terisolasi di Kalimantan Utara yang hanya bisa ditempuh dengan pesawat perintis. Perjalanan darat disambung perahu butuh waktu berminggu-minggu, bahkan bulanan, tergantung kondisi cuaca.

”Ini merupakan awal riset baru tentang Kalimantan untuk memetakan asal-usul dan migrasi manusia Indonesia. Sebelumnya, kami melakukan riset di Kalimantan tentang kaitan mereka dengan Madagaskar,” kata Deputi Direktur Lembaga Eijkman Herawati Sudoyo Supolo, di Long Sule, Jumat (25/5/2018).

Hasil riset sebelumnya menyingkap asal-usul orang Madagaskar di Afrika dari suku Banjar. Sementara suku Banjar terbentuk dari campuran orang Melayu dari Semenanjung Malaysia dengan Dayak Maanyan. “Kajian kali ini lebih melihat populasi manusia di Kalimantan lebih luas dan untuk yang pertama kami mulai di Dayak Punan Aput,” kata Herawati.

Penghunian Kalimantan amat menarik. Sebab, saat masih menyatu dengan daratan Asia di Zaman Es terakhir, 20.000-10.000 tahun lalu, area ini paling dekat dengan tempat asal penutur Austroasiatik. Dari kajian Eijkman, komposisi genetika warga Jawa dan sebagian Sumatera didominasi Austroasiatik meski dari aspek bahasa lebih dominan Austronesia.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi mengambil sampel genetik masyarakat Punan di Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Kamis (24/5/2018). Kajian ini diharapkan bisa menjawab asal-usul, migrasi, dan pola adaptasi masyarakat pemburu dan peramu terakhir di Pulau Kalimantan.–KOMPAS/AHMAD ARIF

Penutur Austroasiatik yang menghuni daratan Asia, di sekitar Vietnam, Myanmar saat ini, diperkirakan bermigrasi ke Nusantara lewat jalur darat pada Zaman Es terakhir ini. Adapun penutur Austronesia datang dari Taiwan ke Nusantara setelah pulau-pulau terbentuk akibat es mencair, sekitar 4.500 tahun. Para penutur Austronesia ini dikenal sebagai pembawa teknologi bercocok tanam.

“Dugaan awalnya, jika Jawa yang lebih selatan dominan Austroasiatik, kemungkinan jejak genetiknya ada di Kalimantan. Kita harus memperhitungkan etnisitas di Kalimantan beragam, termasuk Punan yang punya ciri berbeda dengan Dayak lain,” kata dia.

Dugaan awalnya, jika Jawa yang lebih selatan dominan Austroasiatik, kemungkinan jejak genetiknya ada di Kalimantan.

Pemburu dan Peramu
Kolaborator riset ini, antropolog yang juga Direktur Complexity Institute Nanyang Technogical University- Singapura, John Stephen Lansing, mengatakan masyarakat Punan atau dinamakan Penan di Serawak, Malaysia, memiliki budaya pemburu dan peramu. Sementara masyarakat Dayak lain berbudaya agraris.

“Ada sejumlah hipotesa tentang asal-usul Punan, salah satunya adalah ada anggapan bahwa mereka lebih dulu tiba di Kalimantan sebelum para Dayak lain,” kata dia. Selama ini, pertanyaan itu belum bisa dijawab dengan pendekatan antropologi ataupun arkeologi. Dengan kajian genetika, diharapkan diperoleh jawabannya.

Ada sejumlah hipotesa tentang asal-usul Punan, salah satunya adalah ada anggapan bahwa mereka lebih dulu tiba di Kalimantan sebelum para Dayak lain.

Menurut Kepala Lembaga Adat Besar Punan Kayan Hilir Jingom Padai, masyarakat Punan terdiri dari beragam kelompok terpisah. “Kelompok kami di sini Punan Aput. Ada Punan Tubu. Bahasa kami beda dan tak saling memahami meski nenek moyang kami sama-sama hidup dari berburu,” ungkapnya.

Dari cerita leluhurnya, Punan Aput sebelumnya tinggal di Sungai Aput, Serawak, Malaysia. Mereka terus berpindah mengikuti satwa buruan dan musim buah dalam kelompok kecil. Sampai 1970-an, lima kelompok Punan membentuk desa di Long Sule. “Cerita sebelum tinggal di Sungai Aput, kami tak tahu. Semoga riset ini menjawab asal-usul leluhur,” kata dia.

Menurut Herawati, selain Punan Aput di Long Sule, dalam riset kali ini akan dikumpulkan materi genetik dari warga Dayak lain di Kalimantan Utara yakni Punan di Respen, Dayak Lundaye, dan Dayak Kenyah. Lalu kajian akan dilakukan di daerah lain di Kalimantan untuk memberi gambaran lebih lengkap keberagaman etnis di pulau ini.

“Selain untuk mencari asal-usul, riset genetik ini juga sangat penting untuk memetakan pola penyakit, kerentanan dan ketahanan masyarakat. Ini ke depan akan jadi dasar bagi pengobatan presisi, apalagi kami sekarang sudah memakai analisis total genom,” kata Herawati.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 26 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: