Home / Berita / Pembukaan Hutan Terkait Sebaran Kasus Malaria

Pembukaan Hutan Terkait Sebaran Kasus Malaria

Pembukaan hutan, di antaranya untuk perkebunan sawit dan pertambangan, terkait dengan sebaran kasus malaria. Di Kalimantan Tengah, angka kesakitan malaria yang diukur dengan Annual Parasite Incidence pada 2014 mencapai 1,4 orang per 1.000 penduduk.
“Hutan dibabat, rawa dikeruk mengakibatkan nyamuk Anopheles menyebar ke rumah-rumah warga,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah Suprastija Budi, di Palangkaraya, Minggu (3/5). Pekan lalu, hal sama disampaikan kepada sejumlah pelajar dan media pada audiensi Menuju Eliminasi Malaria di Kalteng Tahun 2018.

Menurut Suprastija, meski angka kesakitan malaria terus menurun lima tahun terakhir, masih ada empat kabupaten dari 13 kabupaten dan satu kota di Kalimantan Tengah yang angka kesakitannya tinggi. Di provinsi itu, angka kesakitan malaria pada 2010 tercatat 4,47 orang per 1.000 penduduk dan pada 2014 turun jadi 1,4 orang per 1.000 penduduk. “Konsentrasi penderita malaria ada di daerah endemis sedang di Kabupaten Gunung Mas, Kapuas, Pulang Pisau, dan Murung Raya,” katanya.

Tahun 2014, angka kesakitan malaria di Kabupaten Kapuas yang diukur dengan Annual Parasite Incidence mencapai 4,50 orang per 1.000 penduduk, di Gunung Mas 3,92 orang per 1.000 penduduk, di Pulang Pisau 2,57 orang per 1.000 penduduk, dan di Murung Raya 2,25 orang per 1.000 penduduk. Dari total penduduk berisiko di Kalimantan Tengah (2.326.057 orang), 342 orang di antaranya positif malaria. Penderita paling banyak ada di Kapuas, yaitu 166 orang.

“Kesulitannya adalah masalah geografis. Daerah dengan jumlah penderita malaria paling banyak adalah daerah perkebunan dan pertambangan karena mobilisasi dan angka kepadatan juga tinggi. Kadang-kadang banyak pertambangan liar yang jauh dari layanan kesehatan,” tuturnya.

Di Indonesia, lanjut Suprastija, Pulau Kalimantan ditargetkan bebas malaria 2020. Namun, pada puncak peringatan Hari Malaria Sedunia V di Palangkaraya dideklarasikan percepatan eliminasi (bebas) malaria di Kalimantan Tengah pada 2018.

Langkah-langkah penanganan yang dilakukan antara lain setiap penemuan penderita wajib dicek di laboratorium, baik secara mikroskopis maupun menggunakan rapid diagnostic test. Lalu, pengobatan penderita positif malaria menggunakan artesunate combination therapy serta perlindungan terhadap masyarakat dari gigitan nyamuk, terutama populasi rentan, yaitu ibu hamil dan balita, di daerah endemis tinggi.

“Untuk daerah dengan akses pelayanan rendah, pemberdayaan masyarakat menjadi solusi melalui pembentukan pos malaria desa atau posmaldes. Saat ini, ada 31 posmaldes,” kata Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah Endang SL Narang. (DKA)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Mei 2015, di halaman 14 dengan judul “Pembukaan Hutan Terkait Sebaran Kasus Malaria”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: