Pemadaman Internet Jadikan Demokrasi Indonesia Kian Terperosok

- Editor

Rabu, 25 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lagi-lagi, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika memadamkan internet di wilayah Provinsi Papua, khususnya Wamena, Kabupaten Jayawijaya per Senin (23/9/2019), pukul 19.00. Tindakan represif ini sangat disayangkan karena justru membuat kondisi demokrasi di Indonesia semakin terperosok.

Ini adalah kali ketiga pemerintah melakukan pemadaman internet. Menurut Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu, pembatasan sementara layanan data telekomunikasi di Wamena dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan situasi keamanan dan ketertiban di daerah tersebut.

PASTOR JOHN JONGA–Aksi Unjuk Rasa yang berakhir anarkis di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pada Senin (23/9/2019).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dia mengatakan, pemerintah mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi hoaks, kabar bohong, ujaran kebencian berbasis SARA, hasutan dan provokasi melalui media apapun termasuk media sosial, agar proses pemulihan kembali situasi dan kondisi keamanan di wilayah Wamena cepat berlangsung.

Menyikapi kebijakan ini, Direktur Eksekutif SAFENet Damar Juniarto mengatakan, pembatasan ini menyiratkan bahwa pemerintah Indonesia menganggap masyarakat Papua tidak cerdas dalam mengelola informasi berbasis internet. Padahal, banyak dari mereka yang justru dapat memberikan informasi nyata dan sesuai fakta kepada sanak keluarganya di luar Papua sehingga dapat meredam kekhawatiran.

“Pemadaman internet telah menjadi salah satu alat represi pemerintah di abad ke-21. Sampai sekarang telah terjadi tiga kali pemadaman. Rupanya ini telah menjadi sebuah cara wajar untuk menangani situasi konflik sosial di Indonesia. Ini sangat disayangkan karena membuat kondisi demokrasi di Indonesia semakin terperosok,” kata dia, Selasa (24/9/2019) di Jakarta.

Sebelumnya, SAFEnet telah menyampaikan kritik pada kebijakan pemadaman internet ini karena proses pengambilan keputusannya yang tertutup, ketiadaan prosedur standar pelaksanaan, minimnya evaluasi independen yang dilakukan oleh pihak di luar Kemkominfo, serta tidak adanya mitigasi gangguan terhadap pelayanan publik yang berhenti sehingga menjadikan kebijakan ini terlihat tidak memenuhi kualifikasi good governance.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN–Sejumlah tuntutan yang disampaikan melalui poster-poster menyikapi pemblokiran akses internet di Papua dan Papua Barat

Desak pemerintah
Karena itulah, SAFEnet mendesakkan tiga hal kepada pemerintah. Pertama, pemerintah diminta segera menyalakan kembali internet di Wamena. Kedua, pemerintah diminta menghentikan praktik-praktik pemadaman internet di seluruh Indonesia. Ketiga, pemerintah mesti mematuhi hukum yang ada serta menghormati hak-hak warga untuk mengakses informasi sebagaimana yang dilindungi oleh Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) dan Pasal 19 Kovenan Hak Sipil dan Politik.

Berdasarkan hasil analisa pengamat media sosial Ismail Fahmi, percakapan mengenai topik-topik yang diributkan di Papua justru tidak terpengaruh pemadaman internet. Sebaliknya, fenomena ini malah meningkatkan minat masyarakat pada virtual private network (VPN) sebagai cara untuk memintas pembatasan akses informasi yang dilakukan oleh pemerintah.–ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 24 September 2019

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB