Home / Berita / Peluang Pasar Pesawat Baling-Baling Besar

Peluang Pasar Pesawat Baling-Baling Besar

Penggunaan pesawat jet untuk penerbangan jarak pendek dan menengah tidak efisien. Potensi pasar pesawat turboprop untuk berbagai kelas yang besar itu bisa dipenuhi industri dirgantara Indonesia.

Rute penerbangan antarkota dengan jarak kurang dari 400 mil laut atau 740 kilometer tumbuh pesat di Indonesia. Jarak sejauh itu tidak efisien jika dilayani dengan pesawat jet, tetapi pesawat turboprop atau baling-baling.

“Pada jarak menengah, saat pesawat jet belum mencapai kecepatan maksimumnya, pesawat sudah harus menurunkan kecepatannya untuk persiapan mendarat,” kata anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Andri BS Sudibyo dalam diskusi Penyusunan Cetak Biru Industri Dirgantara Nasional di Jakarta, Selasa (16/4/2019).

Rute penerbangan dengan jarak menengah itu antara lain Jakarta-Tanjung Karang atau Jakarta-Solo. Selain lebih efisien, penggunaan pesawat turboprop itu juga menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih rendah sehingga lebih ramah lingkungan dan membantu mewujudkan kesepakatan Paris untuk mencegah perubahan iklim.

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS–Kebutuhan pesawat turboprop atau baling-baling di masa depan akan makin besar seiring berkembangnya penerbangan antarkota dengan jarak pendek dan menengah. Penggunaan pesawat ini pada rute pendek dan menengah dianggap lebih efisien dibanding pesawat jet.

Naik turunnya harga bahan bakar dan meningkatnya kekhawatiran tentang efisiensi pesawat jet menumbuhkan minat untuk memakai pesawat baling-baling. Mengutip data Airbus 2019, lanjut Andri, antara 2017-2037 dibutuhkan 3.020 pesawat turboprop. Sebanyak 1.220 pesawat diperlukan untuk mengganti pesawat lama dan 1.800 pesawat untuk pengembangan rute dan penambahan frekuensi penerbangan.

Kebutuhan pesawat turboprop yang besar itu terbagi dalam tiga kelas, yaitu kelas penumpang kurang dari 20 penumpang, kelas 40-60 penumpang dan kelas 61-80 penumpang. Industri dirgantara punya potensi besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut melalui pesawat N219 dan N245 buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) dan R80 buatan PT Regio Aviasi Industri.

KOMPAS/DAHONO FITRIANTO–Komisaris PT Regio Aviasi Industri Ilham Habibie (kanan) menjelaskan tentang pesawat penumpang R80 kepada Menteri Perindustrian Saleh Husin (tengah) dengan didampingi Presiden Direktur PT RAI Agung Nugroho (kiri). (17/2/2016)

Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, lanjutnya, pesawat N219 yang saat ini sedang proses sertifikasi bisa menggantikan pesawat Cessna Caravan. Sedangkan R80 dan N245, keduanya masih dalam rancangan, masing-masing bisa menggantikan pesawat ATR72 dan ATR42.

Meski kebutuhannya besar, saat ini banyak produsen pesawat turboprop kelas kecil dan menengah yang menghentikan produksi. Padahal, operator perlu mengganti pesawat miliknya dan melakukan ekspansi usaha.

“Industri pesawat terbang nasional bisa menguasai pangsa pasar pesawat turboprop jika proses pengembangan N219, R80 dan N245 tepat waktu untuk memenuhi kebutuhan pasar,” kata Andri.

Sertifikasi
Pesawat N219 dengan kapasitas 19 penumpang terbang perdana pada 16 Agustus 2017. Hingga kini, pesawat yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bersama PT DI itu masih menjalani sertifikasi oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

PT DIRGANTARA INDONESIA–Pesawat N219 yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional bersama PT Dirgantara Indonesia

“Pemerintah mendorong penuh industri dirgantara nasional, namun standar pesawat tetap harus mengacu ketentuan ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional),” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenhub Sugihardjo.

Proses sertifikasi yang berlangsung hampir dua tahun itu dinilai Kepala Lapan Thomas Djamaluddin sebagai proses yang wajar. Di industri penerbangan internasional, proses sertifikasi pesawat bisa memakan waktu lebih lama. “Sertifikasi selama tiga tahun itu sesuatu yang wajar,” katanya.

Terlebih, ini merupakan untuk pertama kali Indonesia melakukan sertifikasi pesawat bagi penumpang. Selama ini, pesawat yang diproduksi PT DI digunakan untuk kepentingan militer yang standarnya berbeda dengan pesawat untuk penumpang sipil.

Meski demikian, berbagai proses perbaikan terus dilakukan hingga N219 benar-benar bisa disertifikasi secara penuh hingga pesawat bisa diproduksi massal. “Tahun 2019 ini diharapkan proses sertifikasi lengkap selesai dilakukan,” tambah Thomas.

Setelah N219 selesai disertifikasi, Lapan bisa mengembangkan N219 versi amfibi atau N219A. Varian pesawat yang bisa mendarat di lapangan terbang maupun di perairan ini untuk menopang pertumbuhan wisata bahari dan menghubungkan pulau-pulau kecil di Indonesia.

LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL–Konsep pesawat N219 Amfibi

Sementara N245, saat ini masih dalam tahap perancangan sambil menunggu N219 masuk pasaran. N245 yang berkapasitas hingga 50 penumpang itu dikembangkan dari pesawat CN235 yang dimodifikasi bagian ekornya untuk menambah kapasitasnya. Pesawat itu juga dirancang untuk menempuh rute pendek hingga bisa mengangkut dan menurunkan penumpang lebih banyak.

Produksi massal N219 diyakini akan menggerakkan industri kecil dan menengah bidang teknologi dirgantara. Industri dirgantara besar pun, seperti Airbus dan Boeing, umumnya juga menyubkontrakkan sebagian pekerjaannya ke industri pendukung di seluruh dunia.

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) teknologi dirgantara itu banyak bermunculan di negara lain, terutama India. Sumbangan mereka terhadap pembangunan ekonomi pun cukup besar. Karena itu, konsep berbagi risiko pembuatan pesawat terbang itu bisa ditiru Indonesia dalam produksi N219, baik untuk menggerakkan ekonomi maupun memperkuat kualitas sumber daya manusia dirgantara Indonesia.

“Berkembangnya UKM teknologi kedirgantaraan itu diharapkan akan membawa pulang insinyur penerbangan Indonesia yang kini tersebar di banyak industri dirgantara negara lain,” kata Sekretaris Pusat Kerekayasaan Aeronautika Indonesia (Indonesian Aeronautical Engineering Center/IAEC) Fadzar Vira Caryanto

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 17 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: