Pascakorona: Inovasi sebagai Ideologi Global

- Editor

Sabtu, 16 Mei 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lebih dari sekadar krisis ekonomi, pandemi ini telah mengoreksi tatanan geopolitik global. Faktor kunci untuk dapat keluar dari krisis global ini adalah daya inovasi bangsa.

Dunia tengah berada dalam krisis yang luar biasa, yaitu pandemi Covid-19. Di awal perkembangan pandemi, banyak yang meremehkan kegentingannya. Tetapi sekarang, semua kita sepakat pandemi ini luar biasa serius bagi dunia jika dilihat dari banyaknya negara terpapar, banyaknya korban terinfeksi dan meninggal, serta implikasinya bagi dunia.

Dampak yang sudah di depan mata adalah krisis ekonomi global, termasuk di Indonesia. Tetapi lebih dari sekadar krisis ekonomi, pandemi ini telah mengoreksi tatanan geopolitik global. Faktor kunci untuk dapat keluar dari krisis global ini adalah daya inovasi bangsa. Bangsa yang menang di persaingan global adalah bangsa yang unggul dalam berinovasi, bangsa yang menjadikan inovasi ideologi barunya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasca-Perang Dunia II, dunia ditata menurut kekuatan senjatanya, kemudian tercipta dua blok, Blok Barat yang dikomandani AS dan Blok Timur yang berpusat di Uni Soviet. Dikotomi global seperti ini telah lama cair ketika Uni Soviet bubar dan negara-negara Eropa Timur meninggalkan komunisme. Sementara China, meski masih mempertahankan komunisme sebagai ideologi negara, sistem ekonomi yang dibangun sudah berubah mendasar, jadi berorientasi pada pasar global.

Pasca-Covid-19, hegemoni Barat yang dipimpin AS jadi kehilangan relevansinya. Dunia Barat terbukti gagal melawan pandemi. China, negara pertama yang terserang Covid-19, berhasil lolos karena kombinasi kekuatan inovasi dalam melawan pandemi dan birokrasi komando yang bekerja efektif memutus mata rantai penularan virus.

Protokol kesehatan yang berhasil diterapkan di China gagal diterapkan di sejumlah negara Barat, yang penduduknya sangat melek huruf dan punya tradisi disiplin di tempat publik yang kuat.

Kini, setelah Covid-19, China tak dapat dihambat atau dicegah untuk jadi negara adikuasa baru menggantikan AS. China kini disebut ”negeri teknologi dengan ribuan inovasi”. Inovasi telah menjadi ideologi baru di China. Kuatnya inovasi ini salah satunya tampak dalam sistem mata uang.

Di tengah pandemi korona ini, China tengah menyiapkan terobosan baru di bidang keuangan dengan menginisiasi e-currency atau e-RMB yang digunakan dalam sistem pembayaran nasional, termasuk pemberian gaji pegawainya. Model currency baru ini telah berhasil diujicobakan di China. Bukan tak mungkin, dalam waktu dekat, e-RMB akan jadi mata uang global menggantikan dollar AS.

Secara mengejutkan, China telah memutuskan membatalkan patokan dollar AS dalam transaksi bursa dan secara resmi menggunakan yuan, bukan lagi dollar AS. Dengan keputusan ini, dollar tak lagi digunakan dalam perdagangan China dan nilai dollar AS pun diperkirakan akan jatuh.

Di sisi lain, ekonomi AS kini jadi rapuh karena Covid-19. Anggarannya defisit luar biasa dan Trump menutupinya dengan memperbanyak utang negara sehingga ia kini dijuluki ”raja utang”. Maka, masuk akal untuk menduga, China akan memimpin perekonomian dunia.

Akan terjadi perubahan mendasar dalam tata geopolitik dunia. Dunia tak lagi dikendalikan kekuatan senjata, tetapi kekuatan inovasi. Pemenangnya bukan AS, melainkan China.

Bagaimana ini menjadi mungkin? Pertama, hegemoni AS yang berpusat pada kekuatan nuklir dan dollar AS kini telah terkoreksi oleh hadirnya Covid-19. AS yang unggul di senjata ”mati gaya” melawan pandemi, sementara China berhasil mengatasinya melalui inovasi dan disiplin warga mengimplementasikan inovasinya.

Dominasi ”soft power”
Kedua, mengikuti pandangan Joseph Nye Jr (2005), persaingan global mengandalkan hard power (seperti kekuatan senjata) sudah lampau. Sekarang kita berada di era peradaban baru, di mana utilitasi soft power (kekuatan yang lembut) jadi kunci kemenangan dalam percaturan global.

Ramalan Samuel Huntington (2011) bahwa setelah berakhirnya Perang Dingin akan muncul konflik baru yang bersumber pada identitas agama, antara Barat yang Kristen dan Yahudi serta dunia Islam, ternyata tak terbukti.

Ramalan ini hanya benar dalam jangka pendek, yaitu maraknya terorisme Islam dan tumbuhnya radikalisme Islam anti-Barat di negara-negara Islam. Itu pun banyak yang menuduhnya sebagai produk rekayasa Barat. Namun, setelah Covid-19, perilaku beragama seperti itu sudah tak populer dan tak efektif lagi.

Agama justru tengah mencair menjadi ideologi yang lebih terbuka dan damai. Dunia Barat tak lagi melihat agama Islam sebagai ancaman. Hal ini tampak dari beberapa gejala baru yang muncul. Ketika di Selandia Baru seorang warga kulit putih yang sangat anti-Islam memberondongkan peluru dan menewaskan 50 orang di masjid, masyarakat justru kemudian menjadi dekat dan melampiaskan empati mereka terhadap praktik ibadah Islam di negara tersebut.

Di AS dan sejumlah negara Eropa yang secara politik didominasi warga berkulit putih dan beragama Kristen atau Yahudi, kehadiran Islam tak menimbulkan aksi permusuhan dari warga Kristen dan Yahudi di sana. Justru kehadiran mereka mendapat pengakuan sosial, seperti menangnya sejumlah politisi Islam menduduki jabatan publik.

Kini London punya wali kota Muslim pertama, Sadiq Khan, dan kota Montgomery, New Jersey, AS, punya wali kota Muslimah pertama, Sadaf Jaffer. Bisa seperti itu karena pendakwah Islam tak menggunakan pedang (hard power), apalagi melakukan teror, tetapi menggunakan soft power, yaitu komunikasi sosial yang damai.

Ini juga yang terjadi pada kasus inovasi di atas. China berhasil menang dalam kompetisi global, tak melalui perang atau adu senjata, tak pula dengan mengagungkan ideologi komunismenya yang ”sangar,” tetapi melalui kekuatan inovasi, yang karakternya juga soft. Kesimpulannya, kunci kesuksesan dalam percaturan politik global ini bukan lagi tergantung hard power, tetapi pada soft power.

Setelah Covid-19, bukan ideologi ekonomi yang menonjol, bukan pula ideologi agama. Semua agama akan tetap hadir, tetapi bukan agama yang mengedepankan hard power-nya, tapi pada keunggulan soft power, yaitu nilai dan pesan agama yang damai.

China barangkali akan jadi negara adidaya baru, tetapi bukan dalam konteks penguatan senjata militer untuk perang. Menangnya China dalam percaturan politik dan ekonomi global tak dapat diartikan sebagai kemenangan komunisme atas kapitalisme karena ekonomi China sendiri berhasil tumbuh bukan melalui pengerasan ideologi komunis, melainkan justru karena adaptasinya yang inovatif terhadap eksistensi pasar global yang kapitalistik.

Paul Mason dalam Post-Capitalism dan Nick Srnicek dalam Inventing the Future menyatakan bahwa inovasi teknologi telah membuka peluang baru untuk melampaui kapitalisme, sebagai lawan dari sosialisme lama yang berpusat pada perencanaan-negara pada abad XX.

Sementara Peter Drucker (1997) menyebut knowledge, rather than capital, land and labor, is the new basis of wealth. Dengan knowledge sebagai faktor penentu, kapasitas berinovasi menjadi kuncinya. Siapa yang unggul adalah siapa yang paling inovatif. Inovasi, dengan begitu, akan menjadi ideologi global, yang mengatur dunia pasca-Ccovid-19 atau pascakapitalisme.

(Muhadjir M Darwin, Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik UGM)

Sumber: Kompas, 16 Mei 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Menghapus Joki Scopus
Kubah Masjid dari Ferosemen
Paradigma Baru Pengendalian Hama Terpadu
Misteri “Java Man”
Empat Tahap Transformasi
Carlo Rubbia, Raja Pemecah Atom
Gelar Sarjana
Gelombang Radio
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 20 Agustus 2023 - 09:08 WIB

Menghapus Joki Scopus

Senin, 15 Mei 2023 - 11:28 WIB

Kubah Masjid dari Ferosemen

Jumat, 2 Desember 2022 - 15:13 WIB

Paradigma Baru Pengendalian Hama Terpadu

Jumat, 2 Desember 2022 - 14:59 WIB

Misteri “Java Man”

Kamis, 19 Mei 2022 - 23:15 WIB

Empat Tahap Transformasi

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB