Home / Berita / Pasar Lampu LED Indonesia Potensial

Pasar Lampu LED Indonesia Potensial

Potensi pasar lampu hemat energi jenis dioda emisi cahaya (light- emitting diode/LED) di Indonesia masih sangat besar. Industri lampu di dalam negeri membutuhkan dukungan regulasi agar peluang pasar tersebut bisa digarap dengan optimal.

“Sebagai gambaran, dari jumlah pelanggan PLN yang sekitar 52 juta rumah tangga, diperkirakan baru 10 persen yang sudah menggunakan lampu LED,” kata Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia John Manoppo yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (5/6).

Adapun sebagian besar pelanggan PLN masih menggunakan lampu hemat energi non-LED dan lampu pijar. Tantangan yang dihadapi industri lampu listrik saat ini adalah sekitar 80 persen dari pasar lampu hemat energi tersebut diisi produk impor.

“Kapasitas produksi lampu hemat energi non-LED di Indonesia sekitar 100 juta unit per tahun. Namun, yang mampu kami produksi sekitar 40 persen dari kapasitas itu,” ujar John.

Berkaca dari pasar lampu hemat energi yang tergerus produk impor tersebut, John menilai, dukungan pemerintah merupakan hal penting. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui komitmen penggunaan produk lampu buatan dalam negeri di semua instansi pemerintah.

Menurut John, pemerintah juga dapat memperketat pengawasan pemenuhan kualitas atau Standar Nasional Indonesia pada produk lampu impor.

Menurut John, dukungan riil penting karena kebutuhan penerangan di masa mendatang akan mengarah ke LED. Kebutuhan energi LED lebih hemat 50 persen dibandingkan dengan lampu hemat energi biasa.

“Bayangkan penghematan energi yang terjadi kalau semua rumah tangga di Indonesia menggunakan LED,” ujar John.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian Ignatius Warsito menuturkan, salah satu prioritas pemerintah adalah mendorong industri lampu LED di dalam negeri. “Termasuk di antaranya mendorong produsen besar untuk transfer pengetahuan atau bekerja sama dengan produsen lokal,” ujar Warsito.

Sementara itu, PT Panasonic Gobel Eco Solutions Sales Indonesia membuka ruang pamer produk penerangan LED nonresidensial, kemarin. Ruang pamer di Da Vinci Tower, Jakarta, ini merupakan yang pertama dibuka di luar Jepang.

Director Panasonic Eco Solutions Japan, Lighting Business Unit, Masaharu Michiura menuturkan, nilai pasar lampu dunia sekitar 71 miliar dollar AS.

President Director PT Panasonic Gobel Eco Solutions Sales Indonesia Yoshihide Nagano menuturkan, pasar lampu Indonesia tumbuh sekitar 10 persen per tahun. “Kebutuhan diperkirakan mencapai Rp 13 triliun di tahun 2018,” katanya. (CAS)
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Juni 2015, di halaman 20 dengan judul “Pasar Lampu LED Indonesia Potensial”.
———————————————-
Lampu Hemat Energi Indonesia Makin Tergerus Produk Impor

Salah satu dampak perdagangan bebas membuat produk lampu hemat energi Indonesia makin tergerus produk impor. Penguatan industri lampu di Indonesia mutlak perlu dilakukan agar mampu bersaing mengisi kebutuhan dalam negeri. Hal ini kian dibutuhkan seiring dengan perkembangan pesat teknologi yang menawarkan efisiensi penggunaan energi.

538d8148ea9149b9b58d83a60bacda09Pekerja memproduksi lampu hemat energi di pabrik PT Osram Indonesia, di Jatiuwung, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu. Pabrik itu memproduksi lebih dari 160 juta lampu per tahun. Sekitar 70 persen produk pabrik ini diekspor, antara lain ke Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Jerman, dan sejumlah negara di Asia.–Kompas/Riza Fathoni

“Penciptaan iklim usaha yang mendukung dipastikan akan mendorong industri lampu dalam negeri makin bertumbuh,” kata Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo) John Manoppo, Sabtu (6/6), di Jakarta.

John mengatakan, selama ini pasar lampu hemat energi di Indonesia tergerus oleh dominasi produk impor, terutama dari Tiongkok. Hal ini tidak lepas dari perjanjian perdagangan bebas yang menjadikan bea masuk berbagai produk, termasuk lampu hemat energi, nol persen.

Kapasitas produksi lampu hemat energi di Tiongkok yang sedemikian besar, menurut dia, makin memperkuat daya penetrasi mereka menembus pasar ekspor global. “Dukungan serapan produk dalam negeri mutlak dibutuhkan industri lampu,” kata John.

Aperlindo memproyeksikan, berbagai proyek pembangunan perumahan, infrastruktur jalan, dan pelabuhan di Indonesia yang digulirkan pemerintah akan ikut menciptakan tambahan pasar bagi lampu produksi industri dalam negeri.

Berdasarkan data Aperlindo, industri lampu di Indonesia tahun 2014 hanya mampu mengisi sekitar 20 persen dari total kebutuhan lampu hemat energi sebanyak 320 juta unit.

Sebagai perbandingan, kapasitas produksi lampu hemat energi di Indonesia mencapai 100 juta unit. “Meski demikian, produksi tidak mencapai angka tersebut karena pasar banyak diisi produk impor,” ujar John.

Aperlindo menyatakan, terbuka peluang menggaet masuk investasi industri lampu untuk memproduksi lampu light-emitting diode (LED) yang lebih efisien dibandingkan dengan lampu hemat energi di Indonesia.

Hal ini dibutuhkan agar Indonesia tidak semata menjadi pasar, tetapi juga lokasi investasi yang menciptakan peluang tenaga kerja dan transfer teknologi.

Direktur Industri Telematika dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Warsito menilai, proses transfer teknologi di industri lampu tersebut penting. Hal itu, antara lain, dapat dicapai melalui kerja sama pemain besar industri lampu dunia dengan produsen lokal. Kemenperin mencatat kinerja perdagangan di sektor elektronika dan telematika selama ini defisit.

Nilai impor industri elektronika dan telematika pada 2010 sebesar 15,513 miliar dollar AS. Kemudian, pada 2011, nilai impor elektronika dan telematika naik menjadi 18,237 miliar dollar AS. Impor pada 2012 naik menjadi 18,314 miliar dollar AS dan turun menjadi 18,203 miliar dollar AS pada 2013. Pada 2014, impor industri elektronika dan telematika diproyeksikan 19,285 miliar dollar AS.

Sebagai perbandingan, ekspor elektronika dan telematika pada 2010 sebesar 10,585 miliar dollar AS dan naik menjadi 10,932 miliar dollar AS pada 2011.

Tahun 2012, ekspor tercatat 10,866 miliar dollar AS dan turun menjadi 9,790 miliar dollar AS tahun 2013. Proyeksi ekspor industri elektronika dan telematika tahun 2014 sebesar 10,246 miliar dollar AS.

Kemenperin mencatat, nilai investasi industri elektronika dan telematika pada 2010 sebesar Rp 49,3 triliun dan meningkat menjadi Rp 51,1 triliun pada 2011.

Investasi pada 2012 meningkat menjadi Rp 52,2 triliun dan naik menjadi Rp 52,2 triliun pada 2013. Nilai investasi industri elektronika tahun 2014 diproyeksikan Rp 64,2 triliun.

C Anto Saptowalyono
Sumber: Kompas Siang | 6 Juni 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: