Home / Berita / Parasit Malaria pada Monyet Menular ke Manusia

Parasit Malaria pada Monyet Menular ke Manusia

Parasit malaria Plasmodium knowlesi yang biasa menjangkiti monyet telah ditemukan menulari masyarakat di Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Sumatera Utara. Infeksi zoonosis atau bersumber dari binatang itu ini menjadi tantangan baru untuk mengatasi penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini.

“Keberadaan P knowlesi di Aceh ini kami laporkan di jurnal internasional tahun lalu,” sebut Rintis Noviyanti, peneliti pada Unit Patologi Malaria, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kamis (25/4/2019). Hari Malaria Sedunia yang diperingati setiap tanggal 25 April menjadi momentum untuk membenahi tata laksana malaria seiring bertambahnya jenis parasit malaria.

KOMPAS/AHMAD ARIF (AIK)–Tim Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dibantu Perkumpulan Warsi memeriksa kesehatan Orang Rimba di Pakuaji, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, Jambi, Senin (7/12/2015). Pemeriksaan ini, terutama difokuskan pada penanganan malaria dan hepatitis, selain juga pemetaan genetika.—Kompas/Ahmad Arif (AIK)–07-12-2015

Temuan tentang infeksi Plasmodium knowlesi pada masyarakat di Aceh ini diterbitkan para peneliti Eijkman dengan penulis pertama Farah N. Coutrier dan tim internasional di jurnal Plos Neglected Tropical Deseasespada November 2018. Kasus itu ditemukan di Aceh Jaya dan Aceh Besar.

Menurut Rintis, penularan P knowlesidi Aceh kemungkinan sudah terjadi sejak lama, namun sebelumnya tak terlaporkan atau salah diagnosis karena kemiripan bentuknya dengan Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae. Kemungkinan lain, penularan parasit pada hewan ke manusia ini meningkat seiring dengan perambahan hutan dan tingginya aktivitas di dalam hutan.

Dalam laporan itu disebutkan, tantangan laboratorium untuk membedakan P knowlesi dengan spesies yang lainnya. Keberadaan parasit ini ditemukan setelah dilakukan penyelidikan ulang pada 41 kasus malaria yang melalui analisis mikroskop dilaporkan disebabkan P falciparum (49 persen), P vivax (39 persen), P malariae (7 persen), dan tak tentu (5 persen).

Pemeriksaan dengan mikroskop merupakan metode standar yang biasa digunakan di Indonesia, dan kebanyakan negara Asia lainnya, untuk mendeteksi jenis malaria yang menjangkiti. Namun, dengan memakai metode molekuler PCR (reaksi berantai polimerase) dan sequencing (pengurutan), ditemukan bahwa bahwa hampir setengahnya disebabkan P. knowlesi. Sebanyak 19 (46 persen) ternyata P. knowlesi, 8 (20 persen) P. falciparum, 14 (34 persen) P. vivax.

Temuan P. knowlesi pada manusia ini menambah kompleks penanganan malaria. Sebelumnya, plasmodium malaria yang umumnya diketahui menginfeksi manusia di Indonesia hanya empat, yaitu P. falciparum, P. vivax, P. malariae, dan P. ovale. Untuk memfasilitasi diagnosis dan pengelolaan infeksi P. knowlesi dengan lebih baik, Coutrier dan tim merekomendasikan, metode deteksi baru di tempat perawatan dan laboratorium rujukan lokal.

Beberapa peneliti lain, sebelumnya melaporkan keberadaan P. knowlesi di daerah lain. Contohnya, Sulityaningsih menemukannnya di Kalimantan Selatan pada 2010, Setiadi di Kalimantan Tengah pada 2016, dan Lubis di Sumatera Utara pada 2017. Infeksi spesies P. knowlesi sebelumnya juga dilaporkan terjadi di sejumlah negara Asia Tenggara lain, seperti Brunei, Kamboja, India, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Tailand, dan Vietnam.

Menurut Rintis, gejala klinis P. knowlesicenderung mirip dengan plasmodium lain. Namun karena siklus hidupnya hanya 24 jam, maka jumlah parasit di dalam darah bisa lebih cepat berkembang.

Kajian terpisah di Malaysia, oleh Cyrus Danesvahar tahun 2009 dan Timothy William tahun 2011menemukan, P. knowlesi cenderung menyebabkan risiko penyakit parah atau setidaknya sama dengan P. falciparum. Pada tahap awal serangan, jika tidak ditangani dengan tepat bisa memicu hasil yang fatal.

Vaksin malaria
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Selasa (23/4/2019) mengumumkan proyek percontohan penggunaan vaksin malaria untuk pertamakali di dunia di Malawi. Vaksin, yang disebut RTS, S akan diberikan untuk semua anak di bawah usia dua tahun. Setelah peluncuran di Malawi, vaksinasi akan dilakukan di Ghana dan Kenya akhir tahun ini. Secara total, 360.000 anak-anak akan mendapatkan vaksin.

Sekalipun menjadi langkah baru untuk mengatasi malaria, vaksin ini dinilai masih banyak kelemahan karena efikasinya hanya 40 persen. Menurut Rintis, vaksin RTS,S hanya menarget P. falciparum. “Padahal, terbukti ada 4 spesies lain menginfeksi manusia di dunia. Khusus di Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara, ada lima jenis infeksi malaria, salah satunya P. knowlesi,” ujarnya.

Data WHO menyebutkan, malaria masih menjadi salah satu pembunuh utama dunia, yang merenggut nyawa satu anak setiap dua menit. Sebagian besar kematian ini terjadi di Afrika, di mana lebih dari 250.000 anak meninggal akibat penyakit ini setiap tahun. Anak-anak berusia di bawah 5 tahun berisiko paling besar mengalami komplikasi yang mengancam jiwa. Di seluruh dunia, malaria membunuh 435.000 orang per tahun, kebanyakan dari mereka anak-anak

Sejumlah daerah di Indonesia hingga saat ini juga dinyatakan endemik malaria. Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2017, Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur merupakan daerah dengan kategori endemis tertinggi penyakit malaria. Tercatat ada 261.617 kasus malaria secara nasional yang menewaskan setidaknya 100 orang setiap tahun.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 26 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: