Home / Berita / Paradoks Gawai dalam Hidup Kita

Paradoks Gawai dalam Hidup Kita

Teknologi gawai alias ”gadget” meniscayakan berbagai hal dalam peradaban manusia masa kini. Namun, wajahnya selalu diwarnai paradoks. Dia dapat menyederhanakan sekaligus merepotkan, membebaskan sekaligus membelenggu.


Rinai hujan dan udara dingin London pada awal musim gugur menyelimuti acara santap malam di restoran Smiths of Smithfield yang digelar oleh Lenovo, sebuah perusahaan multinasional yang banyak memproduksi perangkat teknologi, termasuk gawai.

Para unsur pimpinan eksekutif dari Lenovo menemani puluhan wartawan dari sejumlah negara untuk bersantap malam bersama di beberapa meja yang terpisah. Perbincangan santai soal gawai pun mengalir.

Dilip Bathia, Vice President and General Manager dari unit bisnis ThinkPad Lenovo, tampak mencermati telepon seluler (ponsel) milik wartawan yang tergeletak di meja makan. Ia lalu tersenyum. ”Berapa ponsel pintar (smartphone) yang kalian pakai sehari-hari?” kata Dilip kepada wartawan.

Setiap wartawan yang ditanya lantas mengulum senyum. Seorang wartawan dari India menyatakan menggunakan dua ponsel, tetapi akhirnya jujur meralatnya menjadi tiga ponsel. Sementara wartawan lain di meja itu juga mengaku rata-rata menggunakan dua ponsel. Semua memiliki alasan tersendiri, seperti keinginan untuk dapat menikmati fitur yang berbeda-beda di setiap jenis ponsel. Dalam pemahaman Dilip sebagai bagian dari pelaku industri teknologi, gawai adalah kebutuhan manusia modern yang sudah sulit dihindari. Lebih jauh, industri pun akan selalu lihai mengelola kebutuhan tersebut untuk dilekatkan seerat mungkin di bawah bendera gaya hidup. Tak heran, produsen teknologi teramat rajin mengeluarkan produk baru dengan aneka fitur yang dibingkai sebagai ”kebutuhan gaya hidup”.

Seperti perhelatan yang digelar Lenovo di London, Inggris, tersebut. Tiga produk terbaru diperkenalkan, laptop ultrabook Yoga 3 Pro, Yoga Tablet 2 Pro, dan Yoga Tablet 2. Setiap produk dibingkai narasi sebagai jawaban atas kebutuhan gaya hidup manusia modern masa kini. Yoga Tablet 2 Pro berlayar besar 13,3 inci, misalnya, dilengkapi proyektor sehingga penggunanya bisa memproyeksikan foto ataupun video di layar besar atau dinding. ”Semua desain (produk) ini disesuaikan gaya hidup manusia modern sekarang dalam menggunakan gadget,” kata Dilip.

Mencermati ucapan Dilip itu, lantas apakah produk gawai menyesuaikan dengan perilaku gaya hidup manusia atau perilaku manusia modern yang sebenarnya dibentuk oleh gawai?

Fenomena menggunakan lebih dari satu ponsel pintar sudah menjadi gejala umum juga di Indonesia. Mari intip isi mobil Santhi Serad (42), potret perempuan urban dengan mobilitas tinggi dan segudang aktivitas. Setiap hari dia bisa membawa tiga sampai empat tas berisi aneka gawai dan kelengkapannya. Mulai dari laptop, tiga ponsel pintar, tablet mini, kamera saku, beraneka pengisi baterai atau charger, power bank, eksternal hardisk, CD writer, card reader, hingga adaptor.

”Saya sudah enggak bisa travel light (bepergian dengan bawaan ringan). Saya juga lebih baik ketinggalan perlengkapan kosmetik daripada gadget. Ribet banget, ya? Ha-ha-ha,” ujar Santhi.

Bagi Santhi, segala perangkat gawai itu berjasa memudahkan hidupnya. Gawai memungkinkannya mengelola banyak urusan di beberapa perusahaan dan organisasi sekaligus. Namun, memang keniscayaan dan kemudahan itu harus ditebusnya dengan kerepotan tersendiri.

Coba cermati salah satu masalah khas orang-orang perkotaan saat ini. Apalagi kalau bukan terbelenggu di seputar masalah sinyal ponsel atau Wi-Fi serta kapasitas baterai yang terbatas. Tak heran, isi tas sudah sulit untuk jadi ringan. Aneka charger dan power bank adalah bawaan wajib demi selalu terhubung. Belum lagi perilaku lazim kita yang cenderung selalu mencari colokan alias soket listrik serta Wi-Fi gratisan di sejumlah lokasi.

Ilham Habibie, misalnya. Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional ini mengaku memiliki banyak cadangan charger yang diposisikan di rumah, kantor, dan mobilnya. Ia pun selalu membawa power bank. Ketika harus bepergian ke luar kota atau luar negeri, setengah dari kopernya yang berukuran sedang berisi aneka kelengkapan gawai, termasuk beberapa charger.

Santhi dan Ilham merupakan potret dari banyak kaum urban di Ibu Kota yang aktivitas pekerjaan sehari-harinya menuntut kemelekatan yang tinggi dengan beragam gawai. Namun, apakah pemakai gawai lain memang benar-benar punya kebutuhan tinggi sehingga rela untuk repot dan terbelit kabel charger?
Kesadaran mengonsumsi

Direktur Pusat Studi Representasi Sosial Risa Permanadeli memandang, dalam riwayatnya, teknologi memang representasi dari kebutuhan masyarakat di dunia Barat saat memasuki era revolusi industri pada akhir abad ke-18. Teknologi menjawab kebutuhan efisiensi dalam proses produksi. Hanya saja, bagi masyarakat yang tidak melalui era revolusi serupa, tetapi terseret sebagai sasaran ekspansi modal, teknologi bukan sekadar kebutuhan. ”Kita yang pada awalnya tidak memproduksi itu semua (teknologi modern) sebenarnya hanya mengonsumsi,” kata Risa.

Dalam konteks ini, tambah Risa, tradisi ilmiah di masyarakat Barat yang kerap bertolak dari konsep raison d’être atau reason of being, semacam mempertanyakan alasan keberadaan sesuatu, tidak menjadi tradisi berpikir bagi masyarakat yang tidak melahirkan teknologi modern. Oleh karena itu, tak heran, kita kerap menjumpai sebagian masyarakat pekerja informal yang menghamburkan pendapatannya untuk membeli beragam produk teknologi, seperti gawai, tanpa benar-benar menyadari kebutuhan sesungguhnya.

Memang, sebagian orang masih ada yang memelihara kesadarannya dalam mengonsumsi gawai. Danu Widhyatmoko (37), Kepala Divisi Pengembangan Digital-Media di Universitas Bina Nusantara, hingga kini bertahan menggunakan ponsel lawas jenis candy bar seharga hanya ratusan ribu rupiah. Dengan ponsel ”tak pintar” itu, Danu mengaku tak pernah kerepotan harus membawa power bank karena hanya mengisi baterai tiga hari sekali. Kebutuhan yang utama, misalnya, hanya untuk menelepon, SMS, mencatat tanggal penting, kalkulator, dan alarm. ”Nah, semua kebutuhan itu sudah terpenuhi, tidak perlu smartphone untuk fungsi-fungsi itu,” ujarnya.

Lain lagi dengan Miki Salman (39), seorang penerjemah. Keputusannya dalam mengonsumsi suatu produk gawai juga diujinya dengan gugatan tersendiri. Miki, yang semula penggemar suatu merek gawai yang inovatif, mengaku ”patah hati” dengan teknologi yang ditawarkan sang produsen. Produsen yang semula dinilainya visioner itu mampu membangun hubungan personal yang intim dengan penggunanya. Namun, menurut dia, belakangan sang produsen tak lagi beda dengan produsen pada umumnya. ”Apa karena siklus ’pemutakhiran’ semakin singkat sehingga kita dipaksa seperti gonta-ganti pacar setiap ada sedikit saja update dari produsen?” katanya.

Miki mengaku sulit menjustifikasi bayaran begitu mahal untuk relasi yang hanya sebentar dengan suatu perangkat gawai.

Sementara bagi Danu, dengan ponsel candy bar, ia justru terbebas dari belenggu kesegeraan akibat dari tuntutan fitur aplikasi ruang percakapan (chat apps). Dia mengaku punya kebutuhan untuk jeda dari keterhubungan. ”Itu mewahnya, enggak harus terus-terusan terhubung,” ujar Danu.

Mungkin banyak dari kita sudah lupa nikmatnya jeda.

Oleh: Sarie Febriane

Sumber: Kompas, 14 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: