Para Ahli Tsunami Dunia Bertemu di Bali

- Editor

Minggu, 23 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebanyak 132 ilmuwan tsunami dari 21 negara berkumpul di Bali untuk mendiskusikan temuan-temuan terbaru bencana geologi yang mematikan dan upaya memitigasinya. Momentum itu sekaligus untuk memperingati 25 tahun tsunami Flores, Nusa Tenggara Timur, yang menewaskan sekitar 2.000 orang.

“Pertemuan para ahli tsunami dunia dilakukan empat tahunan dan kali ini yang ke-28. Terpilihnya Indonesia jadi tuan rumah pertemuan para ahli itu bermakna penting karena mendorong para ahli melihat kembali ancaman tsunami di Indonesia,” kata Ketua Simposium Tsunami Internasional (ITS) Abdul Muhari di Denpasar, Bali, Selasa (22/8).

Muhari yang juga ahli tsunami dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan, Indonesia dipilih jadi tuan rumah simposium karena tsunami Flores memasuki seperempat abad. Periode 25 tahun setelah tsunami Flores pada Desember 1992 dinilai kritis. “Saat ini mungkin sebagian saksi mata tsunami Flores meninggal. Bagaimana pengetahuan bencana itu ditransfer kepada generasi baru,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ahli tsunami yang hadir antara lain Fumihiko Imamura dari Universitas Tohoku, Kenji Satake dari Universitas Tokyo, Yuichiro Tanioka dari Universitas Hokkaido, dan Emil Okal dari Universitas Northwestern. Dari Indonesia, ada para ahli dan peneliti tsunami, seperti Widjo Kongko dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta Rahma Hanifa dari Institut Teknologi Bandung.

Para ahli tsunami akan diajak studi lapangan di Flores agar ada rekomendasi pengurangan risiko ke depan. Apalagi, daerah yang pernah dilanda tsunami di Flores kembali dipadati hunian.

Imamura memaparkan, tsunami Flores menunjukkan, jika tsunami melanda pulau kecil, hal itu berdampak lebih besar di sisi pesisir yang tak berhadapan langsung dengannya. “Dampak terbesar terjadi di sisi pulau sebaliknya. Di Pulau Babi (Flores), meski yang kena langsung ialah sisi utara pulau, gelombang tertinggi di selatan pulau,” ujarnya.

Emil Okal dalam kajiannya (2010) menilai, Indonesia belum banyak belajar dari tsunami sebelumnya. Tsunami Pangandaran pada 2006 yang menewaskan lebih dari 500 orang, misalnya, terjadi setelah 12 tahun tsunami Banyuwangi dan dua tahun setelah tsunami Aceh. (AIK)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Agustus 2017, di halaman 14 dengan judul “Para Ahli Tsunami Dunia Bertemu di Bali”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 38 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB