Pantang Menyerah Berburu Beasiswa Luar Negeri

- Editor

Kamis, 15 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri membutuhkan strategi tepat untuk bisa merebut hati lembaga pemberi beasiswa. Kegigihan alias pantang menyerah meski berkali-kali ditolak harus ada dalam diri pemburu beasiswa agar mimpi kuliah di mancanegara tercapai.

Mimpi untuk kuliah di Inggris akhirnya dicapai Shintya Kurniawan (31) setelah secara intens selama 1,5 tahun melamar kepada berbagai lembaga pemberi beasiswa. Lima penolakan sempat mematahkan kepercayaan dirinya. Namun, dia terus berjuang, dan akhirnya mendapatkan tiga tawaran beasiswa hampir bersamaan di akhir 2014.

Shintya memantapkan hati menerima beasiswa LPDP dari Pemerintah Indonesia. Dia pun menjalani kuliah di University of Sussex Jurusan Media Practice for Development and Social Change. “Enggakboleh menyerah. Kita harus tahu tujuan yang lebih besar dari beasiswa itu sendiri. Dalam artian enggak hanya nafsu mengejar kesempatan belajarnya, tetapi harus punya tujuan kenapa mau belajar lagi dan ilmunya nanti buat apa,” ujar Shyntia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Simak pula kisah Suparlan Lingga (35). Minat besar untuk mendalami ilmu di negara maju Amerika Serikat mendorong dia terus melamar beasiswa meskipun beberapa kali ditolak. “Saya disarankan agar memperjelas dan mematangkan visi, terutama menyangkut pengembangan ilmu yang akan didapat dan relevansinya pada pembangunan bangsa,” kata Suparlan.

Suparlan mempertajam visi itu dengan menulis artikel kesehatan di surat kabar dan juga menjadi pembicara di berbagai seminar. Dia mengatakan hampir semua peraih beasiswa luar negeri adalah mereka yang suka menulis. Rekam jejak dalam kegiatan sosial juga menjadi nilai tambah.

Untuk meningkatkan kemampuan bahasa, Suparlan juga terus belajar bahasa Inggris dan mengikuti berbagai macam tes, seperti tes bahasa Inggris sebagai bahasa asing (TOEFL) dan tes sistem bahasa Inggris internasional (IELTS). Persaingan yang ketat tentu menuntut kelebihan yang khusus.

Pada 2014, Suparlan mengajukan lagi permohonan beasiswa di Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) pada Program to Extend Scholarships to Achieve Sustainable Impacts(PRESTASI). Ia pun dinyatakan lulus dan berhak mengikuti kuliah magister di Program Studi Health Care Management, Universitas Massachusetts Lowell (Umass Lowell).

Dengan beasiswa itu, seluruh biaya akademik dan akomodasi selama menjalani kuliah ditanggung oleh USAID. “Syaratnya hanya satu, setamat dari sana, saya harus mengabdi di Indonesia. Kalaupun mau bekerja di luar negeri, harus bekerja dulu di Indonesia minimal dua tahun,” kata Suparlan.

Setelah mengikuti program pra kuliah selama tiga bulan di Jakarta, Suparlan pun berangkat ke Massachusetts pada pertengahan Agustus 2015.

Persiapan matang
Persiapan matang memberikan buah manis pada Egalita Irfan (24), mahasiswa Indonesia yang kini kuliah di King’s College London, Inggris. Dia mengambil jurusan konflik, keamanan dan pengembangan di Departemen Ilmu Pertahanan dengan fasilitas Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI), tahun 2014.

Untuk mendapatkan satu dari 100 kuota BPRI, ia membutuhkan waktu panjang. Sejumlah ujian, seperti pemeriksaan berkas, pengalaman akademik, dan kemampuan berbahasa Inggris adalah hal standar yang harus dipenuhi. Belum lagi ada wawancara intensif untuk menggali kemampuan yang dimilikinya.

Dia tidak datang dengan tangan kosong. Beragam pengetahuan sudah digenggamnya. Mulai dari memenangi sejumlah lomba debat bahasa Inggris untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris, serta mengikuti simulasi sidang PBB yang membantunya mengembangkan pengetahuan.

Pengalaman serupa dialami Afriana Siagian (21), mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jurusan Teknik Industri yang berkesempatan menuntut ilmu di Sekolah Bisnis Kemmy di University Limerick, Irlandia. Dia mendapatkan kesempatan ini setelah mengikuti pertukaran pelajar dari organisasi Uni Eropa.

Pilihannya jatuh pada sekolah bisnis itu karena sudah memiliki kualitas yang mumpuni dalam kajian bisnis. Walaupun memiliki latar belakang teknik, ia tertarik untuk mempelajari bisnis karena berkaitan dengan rantai penyaluran. Dia juga ingin mencari pengalaman terkait ilmu bisnis sebagai pegangan, jika sewaktu-waktu ingin mengembangkan wirausaha.

Walaupun hanya mendapatkan waktu belajar selama enam bulan, pengalaman dan pembelajaran dari empat modul yang dipilihnya dapat menjadi bekal baginya untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus nanti. (ELN/B01/B12)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Oktober 2015, di halaman 23 dengan judul “Pantang Menyerah Berburu Beasiswa Luar Negeri”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 47 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB