Home / Berita / Pandemi Korona Tumbuhkan Kesadaran akan Pangan Lokal

Pandemi Korona Tumbuhkan Kesadaran akan Pangan Lokal

Pagebluk Covid-19 membawa kesadaran bahwa ketersediaan pangan amat rentan jika menggantungkan diri dari luar daerah. Selama ini warga di daerah seperti Papua beralih mengonsumsi beras dari luar daerah itu.

—Warga Ransiki, Pegunungan Arfak, Papua Barat, menjual keladi dan petatas, Kamis (8/3/2018). Sebagian masyarakat Papua Barat sekarang sudah beralih mengonsumsi beras sehingga menyebabkan ketergantungan pangan dari luar. Padahal, masyarakat pegunungan Papua merupakan manusia pertama yang membudidayakan petatas dan pisang.

Pagebluk Covid-19 membawa kesadaran bahwa ketersediaan pangan bisa sangat rentan apabila menggantungkan diri dari luar daerah. Hal itu termasuk bagi warga di Papua yang selama ini dijejali beras yang sebagian besar didatangkan dari luar ”Bumi Cenderawasih”.

Ketika kondisi pandemi seperti sekarang ini, pengiriman bahan-bahan makanan yang menggantungkan dari lalu lalang kapal dari Sulawesi ataupun Jawa mulai tersendat. Jangankan di Papua, distribusi logistik bahan makanan di wilayah Jawa pun masih menjadi kendala.

”Situasi Covid-19 membuat semua berpikir untuk pergi berkebun,” kata Feki Yance Wilson Mobalen dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara wilayah Sorong Raya, Rabu (29/4/2020), dalam diskusi virtual ”Kupas Tuntas Ketahanan Pangan Masyarakat Adat Tanah Papua di Masa Pandemi” yang diselenggarakan Yayasan Eco Nusa.

Seperti halnya yang terjadi di banyak tempat di Indonesia dan mungkin di dunia, pandemi yang tak diketahui kapan akan berakhir ini membuat masyarakat tersadar akan kebutuhan perutnya. Di Jakarta, ancaman pangan saat dan pascapandemi ini pun telah menjadi pembahasan di Istana.

Strategi mudah Indonesia dalam ”mengendalikan” cadangan beras, yakni impor dari Thailand dan Vietnam, tak lagi bisa diandalkan. Dua produsen beras tersebut kini mengalokasikan kelebihan berasnya untuk meningkatkan stok sendiri akibat Covid-19.

Jika antarnegara saja bisa begitu, tidak tertutup kemungkinan hal tersebut juga bisa terjadi dalam skala regional. Itu termasuk dalam benak masyarakat di Papua yang hingga kini masih mengandalkan pasokan beras dari ”luar”.

—Diskusi virtual yang diselenggarakan Yayasan Eco Nusa bertema ”Kupas Tuntas Ketahanan Pangan Masyarakat Adat Tanah Papua di Masa Pandemi”, Rabu (29/4/2020). Diskusi menghadirkan (searah jarum jam dari kanan bawah) Charles Toto (Founder Papua Jungle Chef), Daawia Suhartawan (dosen MIPA Universitas Cenderawasih), Feki Yance Wilson Mobalen (AMAN Sorong Raya), dan dimoderatori Oktria R Kawegian. Gambar didapat dari screen capture diskusi daring Zoom.

Memanfaatkan pekarangan
Di Papua, khususnya daerah Sorong, kata Feki, orang-orang mulai berpikir untuk memanfaatkan lahan pekarangan sekecil apa pun sebagai tempat bertanam, menggunakan pot ataupun polybag.

”Dunia saat ini sedang dididik untuk kembali belajar dari masyarakat adat dan masyarakat yang masih menjaga hutan. Kemajuan teknologi tidak menjamin proses kehidupan. Semua harus kembali ke kebun, bertanam,” ungkapnya.

Ia pun mengatakan wabah Covid-19 menguatkan masyarakat adat maupun masyarakat tradisional untuk menjaga wilayah adat. Sebab, dari wilayah adat yang masih berupa kebun-kebun sederhana dan hutan itu, masyarakat bisa mendapatkan makan.

Selama ini, diakuinya, sebagian masyarakat yang tinggal di kampung selalu menunggu bantuan beras miskin yang dibagikan pemerintah. Orang Papua yang dianggap miskin itu kemudian menjadi malas mengusahakan kebunnya.

”Image (citra yang disematkan) miskin seperti itu membuat masyarakat menjadi miskin dengan raskin. Raskin membuat masyarakat malas bersihkan (kebun),” kata Charles Toto, pendiri Papua Jungle Chef.

Padahal, masyarakat adat yang tinggal di kampung-kampung tersebut bukan miskin. Kebutuhan hidup mereka yang masih menjaga kebun dan hutannya sehari-hari dipenuhi dari alam. ”Hutan adalah pasar tempat orang Papua ambil sayur, tanpa harus bayar,” kata Charles.

Hasil hutan
Lain lagi dengan Feki yang menyebut hutan ibarat mesin anjungan tunai mandiri atau ATM bagi masyarakat adat. Sebab, masyarakat adat tinggal mengambil sayur, mengolah sagu, mencari daging buruan, memanjat madu, dan mengambil hasil hutan lain untuk dijual ke kota, menjadi uang.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Ulat sagu merupakan sumber protein lokal yang sangat bergizi. Seperti namanya, ulat ini hidup pada batang sagu yang telah mati. Tampak masakan berbahan ulat sagu yang telah diolah/dimasak di restoran di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, 15 Februari 2020.

Daawia Suhartawan, pengajar Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih di Jayapura, mengatakan masyarakat adat di Papua memiliki kearifan dalam mengelola kebun dan hutan yang merupakan wilayah adatnya.

Ia menunjukkan contoh berupa pola menanam berbagai jenis tumbuhan di ladang serta tidak menggunakan pupuk ataupun pestisida kimia. ”Polikultur seperti itu menghindarkan dari ledakan hama,” katanya.

Contoh lain, orang Papua hanya memanen ubi yang telah berukuran besar untuk dikonsumsi ataupun dijual. Ubi yang masih berukuran kecil tidak dipanen dan dibiarkan tinggal di dalam tanah hingga siap panen saat ukuran besar.

Praktik pertanian seperti ini merupakan cara orang Papua menyimpan bahan makanan secara alami. Daawia menunjukkan foto-foto hasil kebun di Merauke berupa singkong yang memiliki panjang 1 meter dan ubi jalar berdiameter 1 meter.

Pertanian tradisional
Dari sisi sistem pertanian tradisional di Papua, masyarakat setempat memiliki teknik perladangan berpindah—seperti masyarakat tradisional di sejumlah daerah di Indonesia—maupun teknik pertanian menetap. Ini bergantung pada kesuburan tanah dan lokasi pertanian.

Di daerah yang kurang subur, sistem pertanian cenderung berpindah-pindah. Berbeda halnya dengan masyarakat yang tinggal di pinggir sungai dan rawa yang kondisi tanahnya lebih subur, masyarakat tidak berpindah-pindah kebun.

Ini pun menjadi pembeda komoditas yang dihasilkan masyarakat Papua yang tinggal berdasarkan ketinggian. Misalnya, suku Dani, Lani, Yali, dan Amungme yang tinggal di dataran tinggi bercocok tanam ubi serta memelihara babi.

Orang Papua yang tinggal di dataran rendah, seperti orang Kamoro dan Sentani serta banyak daerah lain, biasanya memiliki dusun-dusun sagu atau hutan sagu yang tumbuh alami. Tanaman utama yang diusahakan umumnya berbagai jenis pisang.

Daawia mengajak masyarakat di Papua agar mulai kembali ke pangan lokal dan meninggalkan persepsi ”kalau belum makan nasi berarti belum makan” yang membuat ketergantungan pada beras. Pangan lokal, termasuk hasil buah lokal seperti pisang, yang dijual mama-mama Papua dan bisa dijumpai tanpa mengenal musim, dinilai lebih sehat dan ramah lingkungan dibandingkan dengan berbagai buah impor.

Terkait pemanfaatan pangan lokal ini, Charles Toto pun mendukung Bupati Biak yang menghadapi Covid-19 ini dengan menyerap hasil kebun orang Papua untuk memenuhi kebutuhan aparatur sipil negara setempat dan persediaan pangan selama pandemi.

Ia berharap langkah ini diikuti Gubernur Papua dan Gubernur Papua Barat untuk mendorong pemanfaatan pangan lokal guna memenuhi kebutuhan di Papua. ”Kedaulatan pangan lokal ini yang harus dikembalikan,” katanya.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 1 Mei 2020

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: