Home / Artikel / Otak yang Kreatif

Otak yang Kreatif

Bagaimana caranya agar otak kiri dan kanan dapat dikembangkan sehingga mencapai kreativitas tertinggi?

SETIAP orang mempunyai potensi kreativitas, sekalipun dalam bidang yang berbeda-beda dan dalam kadar yang berbeda-beda pula. Beberapa orang mengungkapkan kreativitas mereka dalam bidang artistik (seni) dan dalam bakat-bakat khusus, yang lain dalam bidang ilmu atau teknik, tetapi semua orang dapat menjadi kreatif dalam hal-hal tertentu. Kreativitas ialah proses untuk menghasilkan suatu yang baru dan hasil ciptaan yang baru itu dapat berupa gagasan, karya seni, rencana kerja, resep masakan yang baru atau tatanan ruang kerja yang baru.

Bagaimana kita dapat mewujudkan potensi kreativitas kita?
Untuk itu kita perlu memahami struktur dan fungsi otak kita.

Ketika manusia dilahirkan, otaknya memuat sekitar 100- 200 bilyun sel otak (Teyler, 1977). Setiap sel neural (otak) pada tempatnya siap untuk digunakan mewujudkan tingkatan tertinggi dari potensi manusia. Jika digunakan, kita dapat memproses sampai beberapa trilyun informasi selama hidup kita (Sagan, 1977). Namun diperkirakan dalam kenyataan saat ini kita hanya menggunakan kurang dari lima persen dari kemampuan otak kita (Ferguson, 1973). Bagaimana kita menggunakan sistem yang kompleks dari susunan otak kita ini sangat menentukan perkembang-an inteligensi dan kepribadian, serta kualitas hidup kita.

Hasil-hasil penelitian mengungkapkan asimetri dari kedua belahan otak kita (hemisfer otak),. Setiap belahan otak (kiri dan kanan) memiliki kekhususan untuk fungsi-fungsi tertentu. Dengan adanya fungsi khusus belahan otak itu, jika kita hendak menggunakan semua potensi yang kita miliki, diperlukan jenis pengalaman pendidikan yang beragam. Ternyata sekolah lebih memusatkan diri pada pengalaman belajar kognitif dari belahan otak kiri, dan kurang mengembangkan bahkan cenderung menelan-tarkan penggunaan fungsi belahan otak kanan.

Belahan otak kiri berhubungan dengan cara-cara berpikir linier, analitik, rasional, dan logis-kritis; dengan belajar matematika dan bahasa.

Belahan otak kanan berhubungan dengan cara berpikir yang metaforik, non-verbal (tidak menggunakan bahasa), holistik, spasial (bersifat keruangan), imajinatif, intuitif, integratif dan inventif, seperti misalnya dalam mencipta seni, musik, atau konsep-konsep matematik, dengan menggunakan firasat.

Menurut Sperry, sistem pendidikan kita cenderung menelantarkan bentuk-bentuk non-verbal dari intelek kita (belahan otak kanan). Doktor dan Bloom (1977) menemukan, bahwa top-executive cenderung menggunakan proses intuitif dari otak kanan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, sedangkan para akademisi cenderung menggunakan proses pemikiran analitik otak kiri.

Sesungguhnya banyak masalah dapat dipecahkan melalui daya analisis dan sintesis, tetapi jika kita dibiasakan unttuk hanya menggunakan salah satu pendekatan (dalam pendidikan formal adalah fungsi belahan otak kiri), kemampuan kita untuk memilih jawaban atau pemecahan yang paling efektif dan efisien menjadi berkurang.

Sekarang banyak ahli dan tokoh pendidikan menyadari, bahwa hendaknya kita jangan hanya menekankan pada pengembangan dan penggunaan fungsi-fungsi tertentu saja, karena untuk kebanyakan kegiatan baik fisik maupun mental, manusia memerlukan kedua belahan otak untuk berfungsi secara terpadu.

Sejak kecil kita belajar untuk lebih banyak menggunakan salah satu dari belahan otak kita, sehingga terjadi dominansi dari belahan otak tersebut, seperti halnya kita pada umumnya belajar lebih banyak menggunakan tangan kanan kita (yang dikendalikan/ dikuasai oleh belahan otak kiri). Adanya dominansi dari salah satu belahan otak nyata dari cara kita belajar, memahami dan mengungkapkan sesuatu. Pendekatan ‘otak kiri’ dalam memecahkan masalah adalah yang berdasarkan fakta, analitik, langkah-demi-langkah, sekuensial, dengan menggunakan kata-kata dan angka-angka. Strategi ‘otak kanan’ sebaliknya, memperoleh pemahaman (insight), bayangan, konsep, pola, ungkapan non-verbal, semuanya disintesiskan secara intuitif menjadi keseluruhan (holistik).

Sebagai contoh dari dominansi otak yang berbeda ini: Parma, seorang dengan dominansi otak kiri, memperoleh pengetahuan terutama dengan membaca informasi faktual. Ia banyak menggunakan buku; dalam berpikir dan cara bekerja ia cermat dan memperhatikan hal-hal kecil, berpikir tajam dan kritis. Kantornya dan meja tulisnya selalu ditata rapih, semua selalu pada tempatnya. Surya, yang otak kanannya dominan, dalam cara belajar dan bekerja sangat berbeda dari Parma. Ia lebih memperhatikan konsep-konsep umum yang menyangkut suatu masalah, dan tidak terlalu memperhatikan detail. Ia inteligen dan kreatif, cepat menangkap ide-ide, dan dapat melihat hubungan-hubungan antara konsep-konsep menjadi gambaran keseluruhan (kemampuan sintesis dan integratif). Mungkin ia mengalami kesulitan mengungkapkan gagasan-gagasannya dalam kata-kata (verbal). Ruang kerjanya agak berantakan, meja tulisnya penuh dengan macam-macam tulisan dan buku, karena ia bisa saja bekerja secara simultan pada beberapa proyek/tugas.

Sejauh mana kita dapat mengubah pola dominansi dari otak kita?
Tanpa mengabaikan pendapat bahwa ada dasar genetik dalam susunan otak yang menentukan dominansi belahan otak, para ahli dewasa ini yakin, bahwa bagaimana seseorang menggunakan otaknya (yaitu dengan pola dominansi belahan otak kiri atau kanan) merupakan hasil dari proses sosialisasi: asuhan oleh orangtua, pendidikan di sekolah, pengaruh kebudayaan dan pengalaman hidup kita lainnya.

Dengan perkataan lain, kita dilahirkan dengan potensi dasar genetik dari kemampuan kognitif, dengan kekuatan dan kelemahan mental tertentu. Tetapi pendidikan dan pengalaman yang kita peroleh selama hidup ikut menentukan cara berpikir dan bekerja kita yang menj adi dominan.

Clark (1983) dengan konsep pendidikan terpadu mengusulkan agar untuk mewujudkan potensi kreatif seseorang, kurikulum sekolah hendaknya tidak hanya mengembangkan fungsi-fungsi berpikir, tetapi juga fungsi-fungsi perasaan, penginderaan dan intuisi (firasat). Jika keempat jenis fungsi ini dikembangkan secara seimbang dan terpadu, akan mewujudkan kreativitas sebagai ekspresi tertinggi dari keberbakatan.

Oleh. SC Utami Munandar

Sumber: Majalah AKUTAHU/AGUSTUS 1989

Share
%d blogger menyukai ini: