Home / Artikel / Kreativitas: Potensi, dan Penampilannya

Kreativitas: Potensi, dan Penampilannya

Kreativitas anak Indonesia relatif rendah, kata Jellen dan Urban. Betulkah demikian?

Albert Einstein, salah seorang ilmuwan terbesar dalam sejarah yang terutama terkenal karena teori relativitasnya, menekankan bahwa ” Imagination is more important than knowledge” (imajinasi lebih penting dari pengetahuan). Memperoleh pengetahuan amat penting sebagai dasar pendidikan, tetapi yang lebih penting lagi ialah mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk menciptakan pengetahuan baru, dan untuk itu dibutuhkan daya imajinasi yang merupakan salah satu ciri pokok dari kreativitas.

Akhir-akhir ini kata “kreativitas” banyak sekali digunakan dan muncul dalam media massa. Setiap orang kurang lebih tahu apa yang dimaksudkan dengan kreativitas, tetapi belum tentu pengertian mereka tentang kreativitas sama. Mungkin masing-masing menggunakan istilah kreativitas dalam artian yang berbeda, hal ini dapat menimbulkan kekaburan, salah paham atau salah taksir. Memang harus diakui bahwa kreativitas, sebagaimana juga inteligensi, merupakan konsep yang majemuk dan dapat ditinjau dari berbagai perspektif. Para ahli pun sulit untuk mencapai konsensus tentang peng-ertian kreativitas, dan menurut saya hal itu tidak perlu. Bisa saja seseorang melihat kreativitas dari aspek tertentu yang mungkin berbeda dari sudut tinjau orang lain, yang penting ialah bahwa bagi dirinya dan bagi orang lain jelas apa yang ia artikan dengan kreativitas. Berbicara tentang kreativitas kita perlu menjelaskan dalam pengertian apa kita menggunakan konsep tersebut. Orang lain tidak perlu setuju dengan artian yang anda berikan, tetapi paling tidak ia tahu apa yang anda maksudkan dengan kreativitas, dan dengan demikian tidak akan terjadi kekaburan atau salah taksir dalam mengartikan suatu konsep. P.E. Vernon dalam penjelasannya tentang konsep inteligensi menekankan bahwa kontroversi yang sering timbul mengenai masalah nature-nurture (yaitu sejauh mana inteligensi ditentukan oleh faktor pembawaan atau oleh faktor lingkungan) terutama disebabkan oleh karena orang menggunakan isti-lah inteligensi da-lam artian yang berbeda.

Sekitar 60 tahun yang lalu para ahli psikologi dan pendidikan pada umumnya berpendapat bahwa inteligensi adalah kemampuan pembawaan untuk be-lajar, memahami dan menalar. Inteligensi ditentukan secara genetis dan berkembang dengan pematangan individu, tanpa mempertimbangkan lingkungan tempat seseorang tumbuh. Berdasarkan ukuran IQ melalui tes inteligensi dapat ditaksir tingkat pendidikan dan pekerjaan yang dapat dicapai seseorang. Namun sejak tahun 1930-an makin meningkat bukti-bukti bahwa IQ atau skor pada tes inteligensi sangat dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan (antara lain berdasarkan penelitian terhadap anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang menguntungkan dan dalam lingkungan yang tidak menguntungkan). Sekarang kebanyakan ahli psikologi percaya bahwa gen (faktor pembawaan) memang menentukan batas-batas potensial individu untuk pertumbuhan intelektual, tetapi bahwa inteligensi yang dalam kenyataan dicapai dan diukur banyak tergantung dari sejauh mana keadaan lingkungan memungkinkan individu mewujudkan potensialnya.

Menurut Vernon (1977) kita perlu membedakan tiga pengertian tentang inteligensi, yaitu:
1. inteligensi sebagai potensi dasar seseorang untuk belajar dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan, inteligensi yang ditentukan secara genetis. Potensi inteligensi ini tidak dapat diamati apalagi diukur, karena sejak permulaan dipengaruhi oleh gizi makanan selama kehamilan ibu. kondisi kelahiran anak, perawatan oleh orangtua dan keadaan lingkungan lainnya. Inteligensi sebagai potensi memerlukan kondisi lingkungan yang baik, seperti bibit tanaman membutuhkan kondisi lingkungan yang baik (pupuk, air, matahari) agar dapat berkembang dengan baik.
2. Inteligensi sebagai tingkat kemampuan yang secara nyata tampak (dapat diamati) dari perilaku atau prestasi individu, dan yang merupakan produk dari interaksi antara potensi genetis dan rangsangan lingkungan yang menguntungkan atau tidak menguntungkan. Inteligensi dalam pengertian ini ialah keseluruhan kemampuan dan ketrampilan mental individu.
3. Inteligensi sebagai skor yang diperoleh pada tes inteligensi. Perlu diingat, bahwa tes inteligensi manapun hanya menguji kemampuan-kemampuan dan ketrampilan-ketrampilan yang terbatas dari inteligensi, dan dimaksudkan untuk memperoleh ukuran yang cukup tepat dari tingkat kemampuan individu dalam waktu yang relatif singkat. Kekaburan mengenai pengertian inteligensi dapat terjadi jika tidak jelas dalam artian apa kita menggunakan istilah inteligensi.

Pengertian Kreativitas
Seperti halnya dengan konsep inteligensi, demikian pula pada konsep kreativitas kita perlu membedakan antara kreativitas sebagai potensi (pembawaan atau bakat), kreativitas dalam penampilannya (perilaku atau prestasi kreatif seseorang yang dapat diamati) dan kreativitas sebagai skor yang dicapai pada tes kreativitas. Jika kita berbicara tentang kreativitas harus menjadi jelas apakah yang dimaksud kreativitas sebagai bakat pembawaan (potensi) atau kreativitas sebagai hasil perpaduan antara faktor pembawaan dan faktor lingkungan (kesempatan yang diberikan lingkungan untuk berkembangnya bakat kreatif individu) atau kreativitas semata-mata sebagai skor pada tes kreativitas, yang sering dinyatakan sebagai CQ atau kosien kreativitas. Penelitian H. Jellen dan K. Urban (1987) hanya mengungkapkan skor rata-rata yang diperoleh sampel anak-anak Indonesia dan anak-anak dari 8 negara lain pada tes kreativitas yang mereka kembangkan, yaitu TCT-DP (Test for Creative Thinking – Dratijing Production), suatu tes yang mengukur tingkat ke-mampuan berpikir kreatif individu melalui produksi gambar. Rangsangan tes berupa bentuk-bentuk figural termasuk “bebas budaya” atau culture fair. Pada tes ini sampel anak-anak Indonesia mencapai skor rata-rata paling rendah dari 9 negara (sesudah Filipina, Amerika Serikat, Inggeris, Jerman Barat, India, RRC, Cameroon dan Zulu). Sebagai tanggapan atas pemberitaan hasil penelitian Jellen-Urban tersebut (Suara Pembaruan, 20-21 Agustus 1987) beberapa pihak menyatakan bahwa bukan kreativitas anak-anak Indonesia yang rendah, tetapi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas di Indonesia kurang.

Dari contoh ini dapat kita lihat bahwa istilah kreativitas digunakan dalam pengertian yang berbeda. Ditinjau dari segi potensi atau bakat pembawaan sama sekali tidak ada alasan untuk mengasumsi bahwa kreativitas anak-anak Indonesia kurang dari kreativitas anak-anak negara lain. Namun ketrampilan yang membentuk kreativitas seseorang dan yang tampak dari perilaku dan prestasinya, tergantung dari bermacam-macam kondisi lingkungan (makro dan mikro), dari pola kebudayaan di mana seseorang diasuh dan tumbuh kembang, tradisi dan nilai-nilai, dari kesempatan yang tersedia baik dalam lingkungan keluarga, sekolah dan dalam masyarkat, dari pola asuh orang tua, sistem pengajaran dan kurikulum sekolah, dari sarana dan prasarana yang tersedia di dalam masyarakat untuk mengembangkan dan mewujudkan potensi kreatif individu. Potensi atau bakat kreatif yang murni tidak dapat diamati atau diukur. Yang dapat diamati ialah penampilan dari potensi tersebut, dari perilaku individu dan karya-karyanya. Sekali lagi, jika kita berbicara tentang kreativitas harus menjadi jelas apakah kita berbicara tentang potensi kreativitas, penampilannya atau pengukurannya.

oleh: S.C. Utami Munandar

Sumber: majalah AKUTAHU/OKTOBER-NOVEMBER 1987

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
Share
%d blogger menyukai ini: