Home / Berita / Orang Kita di Jantung Google

Orang Kita di Jantung Google

Tahun 1998, Lary Page dan Sergey Brin mendirikan Google, mesin pencari yang kini menjadi paling berkuasa di jagat internet. Akan tetapi, di tahun itu, relatif belum ada pihak yang menyadari tentang seberapa menguntungkannya bisnis yang dirintis Google.

Google terus berkembang. Fokus mereka bukan hanya urusan mesin pencari, melainkan juga berbagai produk lain, seperti sistem operasi dengan basis open source (Android), layanan berbagi video Youtube, cloud computing, navigasi peta, digitalisasi buku, dan seterusnya. Bahkan, awal Oktober lalu, Page dan Brin mendirikan Alphabet Inc. Perusahaan ini didirikan untuk menjadi induk perusahaan Google dan perusahaan lain yang terkait.

Untuk semua perkembangan usaha itu, kini Google punya 57.000 pegawai, yang disebut Googlers, ada sebagian yang berasal dari Indonesia, yang tergabung dalam komunitas IndoGooglers.

Sekalipun dibeda-bedakan atas sejumlah disiplin ilmu, usia, dan budaya, terdapat kesamaan yang relatif menonjol di antara mereka. Kesamaan itu adalah sebagian besar IndoGooglers adalah lulusan pendidikan tinggi di luar Indonesia, sebelum bergabung dengan Google.

Salah satu ungkapan yang melekat dengan Google ialah mereka memang hanya mempekerjakan orang-orang terbaik. Kedekatan emosional sebagai sesama orang Indonesia itulah yang membuat sejumlah acara yang memungkinkan mereka berkumpul menjadi acara paling dinanti. Itu, misalnya, tatkala dilangsungkan penandatanganan nota kesepahaman antara Google dengan Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata di Kampus Googleplex di Mountain View, San Francisco, AS, Kamis (29/10).

8af878d85b84458e9d91629e58a94e8eKOMPAS/INGKI RINALDI–Sebagian IndoGooglers, atau para pegawai Google asal Indonesia, tengah berkumpul di pelataran kantor Google X di Mountain View, San Francisco, Amerika Serikat, Rabu (28/10) waktu setempat atau Kamis (29/10) WIB.

Nota kesepahaman itu tentang kesepakatan melakukan uji coba tahap lanjut dalam menyediakan infrastruktur jaringan telekomunikasi di Indonesia. Ini berupa penggunaan balon udara untuk mentransmisikan sinyal telekomunikasi yang diharapkan bakal membuka akses informasi di seluruh Indonesia. “Memang jarang bisa ketemu, tapi pada event seperti inilah kita saling bertemu,” kata Ayrin Santoso (30).

Ayrin sudah dua tahun terakhir bekerja di bagian keuangan Google setelah berkarier selama enam tahun di perusahaan lain. Sejak lulus SMA di Surabaya, Ayrin tinggal di Amerika untuk kuliah di UCLA. Ia memutuskan meninggalkan pekerjaan lamanya dan bergabung bersama Google untuk memenuhi hasratnya pada hal-hal baru. “Dalam hidup kadang kita memang harus mengambil risiko, kan,” katanya.

Makanan dan minuman sehat gratis. Fasilitas laundry dan dry cleaning. Potong rambut gratis. Layanan pijat dalam kuota tertentu. Boleh bawa hewan peliharaan ke kantor. Daftar itu bisa terus bertambah panjang jika kita bekerja di Google, yang pegawainya disebut sebagai Googlers.

016e5b35e83e4e6b89ed991ccfde6420KOMPAS/INGKI RINALDI–Sebagian IndoGooglers, atau para pegawai Google asal Indonesia, tengah berkumpul di pelataran kantor Google X di Mountain View, San Francisco, Amerika Serikat, Rabu (28/10) waktu setempat atau Kamis (29/10) WIB.

Aneka fasilitas atau tunjangan kerja itu tentu saja dibuat untuk menjamin kesehatan dan kenyamanan karyawan. Namun, yang paling penting adalah menjaga iklim dan cara berpikir intelektual dengan mempraktikkan iklim keterbukaan, kecepatan, eksperimentasi, dan pengambilan risiko kunci utama sukses Google.

Namun, di tengah kepuasan bekerja, Ayrin kerap merindukan keluarga di Indonesia. Florence Thng yang kini Product Manager Google X menyebutkan, kesempatan untuk pulang ke Indonesia tidak bisa sering dilakukan. Ini berbeda misalnya tatkala ia bekerja di Singapura.

Karena itulah, bertemu dengan sesama IndoGooglers menjadi salah satu hal paling dinanti sebagian IndoGooglers. Ayrin terkesan dengan hubungan emosional yang dibangun dalam komunitas itu.

Iklim yang merangsang, menumbuhkan, dan mengembangkan kerja sama dan saling mendukung di antara sesama rekan kerja. Dukungan yang di dalamnya juga berupa kritik untuk menjadi lebih baik dalam berbagai proyek kerja. Pertemuan yang biasanya dilakukan sembari makan itu tidak secara khusus membicarakan IndoGooglers, tetapi memperbincangkan keseharian pekerjaan.

Monica Tanuwijaya, yang kini bekerja di Divisi Human Resources Google, sudah 15 tahun terakhir tinggal di Amerika Serikat. Monica yang lulusan Universitas Stanford merasa iklim kerja di Google sangat fleksibel dan memungkinkan mencapai prestasi kerja optimum.

Keakraban sesama orang Indonesia itu terlihat, misalnya, di antara lima sekawan yang cukup sibuk dalam acara penandatanganan nota kesepahaman itu. Mereka adalah Johan Kartiwa yang telah dua tahun bersama Google setelah lulus dari Nanyang Technological University (NTU), Sonny Sasaka (1 bulan, NTU), Felix Halim (3 tahun, National University of Singapore), Bramandia Ramadhana (5 tahun, NTU), dan Hamdanil Rasyid (2 tahun, NTU).

Dalam pertemuan itu, satu saja pesan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang menghadiri acara. Para IndoGooglers yang bekerja di Silicon Valley, AS, itu diminta mengembangkan program yang juga memberikan keuntungan bagi Indonesia. (INGKI RINALDI)
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 November 2015, di halaman 26 dengan judul “Orang Kita di Jantung Google”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: